Eh, Taunya Dari Barat

Oleh : Budi Rustanto

            Kira-kira jarum pendek jam dinding menunjuk di angka 11, aku yo rodok lali, padahal kejadiannya baru semalam. Sejak beberapa tahun belakangan, saya bukan lagi orang yang betah berlama-lama berdiam diri di dunia media sosial. Sekadar scroll berita atau gosip di Twitter, maupun mengecek video-video di Instagram sudah bukan lagi menjadi rutinitas seperti 10 tahun lalu, kurang lebih. Namun semalam itu seperti ada perasaan “kok aku pengen ngecek IG-ne KC (Kenduri Cinta), yo…”. Saya meraih ponsel dan membuka Instagram.

            Di feed-nya ada foto salah satu pegiat Kenduri Cinta yang saya kenal. Begitu saya klik fotonya, langsung terbaca caption yang melafalkan sebuah kepastian, kalimat yang—mungkin—paling dihindari umat manusia, innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Deg! Karena waktu sudah terlalu larut untuk menghubungi seseorang, saya hanya mencari sumber berita dari “ibunya” informasi di Maiyah. Setelah membaca beberapa judul headline, barulah perasaan saya divalidasi. Ya, benar, mas Gandhie sudah meninggal sejak 2 hari lalu, tepatnya hari Senin, 14 Oktober 2024 jam 1 lebih 55 menit, dini hari.

            Saya langsung mengakses ruang simulakrum di dalam kepala. Saat itu saya hanya mengenal mas Gandhie dari cerita-cerita, bukan dari interaksi langsung. Tentu saja, mas Gandhie, kan, tidak tinggal di Surabaya. Pun dia tidak selalu hadir saat ada perhelatan Bangbangwetan atau Kiai Kanjeng di Jawa Timur, hanya di beberapa titik yang saya sendiri juga tidak ingat.

            Saya yakin mas Gandhie bagi beberapa orang yang pernah berinteraksi langsung—mungkin—bukan orang yang menyenangkan. Namun saya percaya itu adalah caranya berdialektika, bukan Gandhie sesungguhnya. Kitapun saling menggunakan topeng masing-masing saat melakukan interaksi sosial, benar begitu? “Menjadi diri sendiri” hanya bisa dilakukan saat kita berduaan dengan Tuhan, tidak kawan, lawan, bahkan pasangan. Hanya dengan Tuhan.

            Pikiran saya kembali pada memori 8 tahun lalu. Saat itu beberapa pegiat Maiyah nusantara berkumpul di Bandung. Saat itu pagi hari, rombongan Bangbangwetan yang diwakili 3 orang baru saja sampai di lokasi. Di situ sudah ada perwakilan Kenduri Cinta, Jamparing Asih, Maneges Qudroh dan beberapa lainnya, mas Sabrang pun sudah terlibat percakapan dengan beberapa orang. Tentu saja sebagai “anak mbarep” mbah Nun, mas Gandhie sudah pasti hadir. Obrolan-obrolan sekadar menanyakan kabar atau bagaimana kondisi simpul dan jama’ah menjadi menu sarapan ditemani cangkir-cangkir kopi dan kepulan asap tembakau, riuh. Saya ingat mas Gandhie menanyakan soal Bangbangwetan. Saya lupa pertanyaannya seperti apa, namun pada akhirnya pertanyaan ini menjadi sebuah percakapan yang “sedikit serius” dan memantik beberapa kesan terhadap orang dengan nama lengkap Gandhie Tanjung Wicaksono ini.

            Jika membaca tulisan-tulisan dari mas Helmi, cak Zakki, Fahmi dan beberapa teman Maiyah lainnya tentang mas Gandhie, masing-masing dari kita akan mendapatkan kesan berbeda. Berkaca dari tulisan-tulisan tersebut, saya memahami mas Gandhie memiliki loyalitas kepada Maiyah yang tidak dimiliki semua orang, tanpa batas. Secara jasmani mungkin tidak hadir, namun saya yakin mas Gandhie selalu ada di manapun mbah Nun berada. Mas Gandhie adalah satu dari beberapa orang di Maiyah yang kerjanya tidak terlihat, mungkin Allah sendiri yang membuatnya begitu. Tapi tanpa kerja mas Gandhie, bisa jadi Kenduri Cinta tidak sepresisi itu. Karena di mata saya Kenduri Cinta adalah satu-satunya simpul Maiyah nusantara dengan tingkat presisi paling tinggi.

            Di Bangbangwetan mungkin mas Gandhie itu perpaduan antara mas Amin dengan mas Agung. Ceplas-ceplos luar biasa, kalimat demi kalimat yang dikeluarkan membuat orang merasa seperti dipojokkan. Orang dengan level baper tinggi saya pikir tidak akan merasa nyaman mengobrol dengan mas Gandhie. Di kalangan pegiat Bangbangwetan, mas Gandhie memiliki ruang rindu tersendiri. Pertanyaan “kapan rabi?” bukan muncul hanya pada saat kumpul keluarga saat lebaran, namun di setiap pertemuan. Pada akhirnya, Allah mengabulkan. Mas Gandhie sudah beristri! Koen kapan, rek?

            Bisa saja tulisan ini dipanjangkan berlembar-lembar, berisikan cerita-cerita kenangan atau narasi mengagungkan. Tapi itu akan terasa sia-sia jika hanya menghasilkan kesedihan. Ya, saya merasa kehilangan, namun selesainya tugas mas Gandhie sebagai manusia juga patut dirayakan. Insya Allah mas Gandhie berpredikat maxima cum laude. Dan saya di depan laptop masih saja spaneng memikirkan kehidupan.

            Au revoir, monsieur Gandhie. Ingatlah bahwa “Yang dinanti-nanti muncul dari Timur. Eh, taunya dari Barat…”

Budi Rustanto, Setengah musisi setengah manusia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top