Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/ Thu, 09 Apr 2026 05:00:57 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.4 https://bangbangwetan.org/wp-content/uploads/2023/12/cropped-IMG-20190809-WA0009-32x32.jpg Bangbang Wetan https://bangbangwetan.org/ 32 32 Ketika Syahadat Jadi Perjalanan, Jangan Lupa Fatwa Hati https://bangbangwetan.org/ketika-syahadat-jadi-perjalanan-jangan-lupa-fatwa-hati/ https://bangbangwetan.org/ketika-syahadat-jadi-perjalanan-jangan-lupa-fatwa-hati/#respond Thu, 09 Apr 2026 05:00:57 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2691 “Sebelum tiba waktu senja, kugenggam tanganmu dan bertanya, apakah bisa kau membawa rasa yang engkau punya selamanya.” Penggalan lirik lagu Fatwa Hati dari Letto ini membuat banyak tafsir yang lahir. […]

Artikel Ketika Syahadat Jadi Perjalanan, Jangan Lupa Fatwa Hati pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>

“Sebelum tiba waktu senja, kugenggam tanganmu dan bertanya, apakah bisa kau membawa rasa yang engkau punya selamanya.”

Penggalan lirik lagu Fatwa Hati dari Letto ini membuat banyak tafsir yang lahir. Sudah barang pasti, penulis lagu ini–dalam hal ini Mas Sabrang–punya makna tersendiri soal lagu itu. Namun, Al-Qur’an saja boleh ditadaburi, terserah si penadabur selama output-nya bermanfaat dan bijak, apalagi hanya lagu Letto. Saya akan menadaburinya dengan nada dan irama pikiran saya sendiri.

Ketika mendengar lirik di atas, mungkin pikiran awam kita membayangkan sepasang kekasih yang duduk di tepi sungai sambil menunggu senja. Mereka saling menggenggam tangan, lalu si lelaki berkata, “Dik, apakah kamu rela mencintaiku selamanya.” Jawaban si perempuan tidak saya analogikan karena perempuan adalah makhluk tentatif, tidak semua sama.

Jika pemahaman kita hanya seperti itu, sangat boleh. Lagi-lagi, sang penulis membuat lirik perlirik tersebut multitafsir. Namun, banyak yang mengira, bahkan sampai membuat penelitian ilmiah, bahwa lirik-lirik yang Letto ciptakan muatannya adalah spiritualitas. Jelas, tidak hanya masalah hubungan antar kekasih.

“Senja” dalam penggalan lirik itu, menurut saya, adalah situasi terbenamnya matahari dan munculnya bulan sebagai cahaya di tengah kegelapan. Saya membayangkan seperti seorang bayi dalam keadaan suci yang terlahir dari suasana alam ruh yang sangat bercahaya, lalu turun ke bumi yang gelap dan penuh dosa.

Lirik “sebelum tiba waktu senja” bisa ditadaburi bahwa sebelum bayi lahir, terdapat beberapa kejadian penting dalam alam ruh. Dalam lirik tersebut ada sebuah kejadian: genggaman tangan dan pertanyaan tentang konsistensi rasa yang akan dibawa setelah lahir. Ini sejalan dengan apa yang Allah ceritakan dalam wahyu-Nya. Ketika bayi sebelum lahir, mereka di alam ruh akan diberikan sebuah pertanyaan tentang kesaksian: “Alastu bi rabbikum?” Bahasa Suroboyoan-nya, “Opo aku iki Pengeranmu?” Si jabang bayi yang akan lahir ini dengan kesadaran ruhnya yakin mengatakan, “Bala syahidna,” yang berarti “Nggeh, kulo nyekseni.

Makna “genggaman” dalam lirik tersebut adalah masalah konsistensi kita kepada Allah. Tuhan membuat sebuah “MoU” dengan ruh kita: apakah Allah selalu kita hadirkan selama kita hidup? Secara yakin, ruh kita dengan tegas mengiyakan. Namun, sayang, ketika bayi itu lahir dan menjalani perjalanan hidupnya–tidak hanya dengan ruh, tetapi juga jasad dan pikiran–genggaman itu rawan terlepas.

Konsistensi itu sangat terlihat meyakinkan dengan ungkapan “bala syahidna”. Ibarat kita menjadi saksi tabrak lari, ketika ditanya di persidangan, kita yakin mengatakan, “Ya, saya menyaksikan yang salah pihak A.” Kita menyaksikan secara sungguh-sungguh. Itulah mengapa Allah mewajibkan kita sebagai orang Islam bahwa yang utama adalah syahadat. Syahidna dan syahadat itu berasal dari akar kata yang sama, yaitu menyaksikan. Jadi, menjaga konsistensi genggaman Tuhan tidak cukup hanya percaya kepada Allah, tetapi juga menyaksikan Allah.

Menyaksikan Allah ini jangan hanya dipahami secara saklek, seakan kita harus menemui Tuhan di puncak Semeru atau gunung lainnya. Wujud penyaksian Tuhan adalah melihat bahwa setiap apapun yang terjadi dan ada di dunia ini adalah kuasa-Nya. Menyaksikan berarti kita merasakannya secara langsung. Kalau hanya percaya, itu sekadar “kata orang”, “opo jare wong kae”, alias tidak benar-benar dirasakan.

Itulah konsistensi genggaman yang bisa saya tadaburi dari lirik Fatwa Hati. Bahwa konsistensi genggaman itu berbentuk penyaksian kita terhadap kuasa dan kehadiran Tuhan yang selalu kita rasakan. Terakhir, ada lirik yang menurut saya paling “gong”:

“Tentang kita dan tentang cinta.
Tentang janji yang kau bawa.
Jika nanti saat kau sendiri,
Temukanku di fatwa hatimu.”

Pengembaraan syahadat hidup kita juga harus diwarnai dengan hablum minallah dan hablum minannas. Itu yang digambarkan dalam frasa “tentang kita,” yaitu hubungan kita dengan Tuhan yang menegaskan ikatan cinta penghambaan. Begitu juga frasa “tentang cinta,” yaitu cinta yang kita berikan kepada sesama manusia. Sebab, lebih tepat jika hubungan antarmanusia disambung dengan kata cinta. Hablum minallah dan minannas itulah salah satu janji yang kita bawa terus-menerus dalam menjalani hidup: janji kepada Tuhan dan janji terhadap hamba Tuhan yang lain. Ini harus menjadi prinsip yang dibawa sampai titik akhir kehidupan.

Lalu, ketika kita berada pada titik nadir, kita tidak seimbang ketika membawa janji itu. Kita seakan sedikit oleng oleh pergulatan ruh, jasad, dan pikiran. Situasi itu membuat kita merasa sendiri, membuat kita meragukan keberadaan Tuhan sebagai pemegang dalih rahman dan rahim-Nya. Maka, kembalilah ke fatwa hatimu.

Kita terlalu sibuk memerangkan ruh, jasad, dan pikiran sampai lupa bahwa kita mempunyai hati sebagai penyeimbang antara ketiga elemen diri. Tiga elemen itu menjadi first touch ketika menghadapi sesuatu. Namun, hati adalah second touch ketika first touch tidak mampu menghasilkan output yang bermanfaat dan bijak.

Kata Habib Ja’far, “Tuhan bukan di Mekkah ataupun di Vatikan, tetapi Tuhan ada di hatimu.”

Waru, 31 Maret 2026

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Ketika Syahadat Jadi Perjalanan, Jangan Lupa Fatwa Hati pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ketika-syahadat-jadi-perjalanan-jangan-lupa-fatwa-hati/feed/ 0
Negeri Sakinah – Prolog Bangbangwetan April 2026 https://bangbangwetan.org/negeri-sakinah-prolog-bangbangwetan-april-2026/ https://bangbangwetan.org/negeri-sakinah-prolog-bangbangwetan-april-2026/#respond Mon, 30 Mar 2026 10:13:52 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2687 Indonesia hari ini seperti menghadirkan tafsir baru atas gagasan berdikari yang dulu melambangkan kekuatan, tetapi kini terasa sebagai keprihatinan. Rakyat dituntut mandiri bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk […]

Artikel Negeri Sakinah – Prolog Bangbangwetan April 2026 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Indonesia hari ini seperti menghadirkan tafsir baru atas gagasan berdikari yang dulu melambangkan kekuatan, tetapi kini terasa sebagai keprihatinan. Rakyat dituntut mandiri bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mencari rasa aman, padahal itu adalah hak mendasar yang seharusnya dijamin oleh negara. Penyiraman air keras terhadap seorang aktivis menjadi tanda bahwa bahkan di negara demokrasi, keamanan dalam bersuara seolah harus diupayakan sendiri.

Mbah Nun pernah merefleksikan bahwa negara dianalogikan sebagai Bapak dan tanah air sebagai Ibu (Pertiwi), sementara pemerintah hanyalah pengelola di dalamnya. Namun, hari ini, relasi itu tampak retak: anak-anak bangsa sibuk bertengkar, figur Bapak kehilangan wibawa, dan Ibu tak lagi sepenuhnya dicintai. Kerapuhan ini membuka celah bagi pihak luar untuk masuk dan menggerogoti apa yang seharusnya menjadi milik bersama. Bangsa ini seperti keluarga yang kehilangan arah dan pegangan.

Situasi ini menghadirkan kesan seolah rakyat sedang “diyatimpiatukan”, dalam arti hilangnya pemenuhan hak oleh negara. Di tengah kondisi yang memaksa mandiri, kita seakan hanya diminta mengulang kalimat, “Tetap bekerja, jangan berharap pada negara.” Padahal, berharap pada negara adalah sah, bahkan wajib dalam kerangka hak warga. Maka yang dibutuhkan bukan sekadar bertahan, tetapi mengembalikan negara pada tanggung jawabnya.

Di tengah tuntutan hak pada negara, selayaknya juga perlu becermin: sejauh mana kewajiban sebagai warga telah kita jalankan? Taat aturan, jujur, atau hanya nyangkem ria di sosial media? Bisa jadi, retaknya relasi ini bukan hanya soal “orang tua” yang gak pokro, tetapi juga cermin dari “anak” yang sama durhakanya.

Pertanyaan-pertanyaan ini akan kita buka bersama dalam forum BangbangWetan edisi April 2026. Teko ya, Rek!!!

Artikel Negeri Sakinah – Prolog Bangbangwetan April 2026 pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/negeri-sakinah-prolog-bangbangwetan-april-2026/feed/ 0
Merawat Ahsani Taqwim Lewat Tirakat https://bangbangwetan.org/merawat-ahsani-taqwim-lewat-tirakat/ https://bangbangwetan.org/merawat-ahsani-taqwim-lewat-tirakat/#respond Fri, 27 Mar 2026 02:44:21 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2673 BangbangWetan bulan ini hadir bertepatan dengan bulan suci yang sedang dijalani oleh umat Muslim di seluruh Indonesia. Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, seperti hari-hari biasanya, setiap orang menjalani rutinitasnya […]

Artikel Merawat Ahsani Taqwim Lewat Tirakat pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
BangbangWetan bulan ini hadir bertepatan dengan bulan suci yang sedang dijalani oleh umat Muslim di seluruh Indonesia. Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, seperti hari-hari biasanya, setiap orang menjalani rutinitasnya masing-masing. Ada yang menikmati waktu libur di akhir pekan, ada pula yang tetap berjuang mencari penghidupan di sela-sela hari istirahat. Namun pada hari itu, kita dipertemukan oleh satu tujuan yang sama: berkumpul dalam kerinduan untuk saling berbagi ilmu dan berbagi rasa, dalam forum yang setia menemani perjalanan kita dari bulan ke bulan.

Seperti biasa, panggung telah dipersiapkan oleh para pengiat untuk menyambut jalannya acara. Tikar yang terbentang dan banner yang kembali terpasang seakan menjadi penanda kerinduan akan kehangatan yang selalu hadir dalam setiap pertemuan. Gema dari pengeras suara yang mulai terdengar perlahan menjadi isyarat bahwa kita siap memulai sebuah kegiatan yang penuh sarat makna.

Kita pun kembali ke tempat yang telah akrab bagi kebersamaan ini—tempat di mana jalinan persaudaraan disulam dari waktu ke waktu. Ditemani oleh tiang-tiang pendopo yang berdiri kokoh saling menopang satu sama lain, di Gedung Cak Durasim kita kembali berkumpul, menggelar pertemuan yang telah lama kita nantikan bersama.

Acara diawali dengan jamaah yang menunaikan shalat Isya dan tarawih bersama. Seusai itu, sekitar pukul 20.30, Mas Haris dan Mas Rangga memimpin nderes Al-Qur’an dan wirid bersama sebagai penanda bahwa forum diskusi kita segera dimulai.

Tak berselang lama, tepat pukul 20.45, moderator naik ke panggung. Ia membuka dengan salam dan menyapa para jamaah yang hadir dari berbagai kota. Dengan senyum hangat, moderator kemudian mengajak para jamaah untuk berkumpul dan merapat sebagai penanda dimulainya forum diskusi pada malam ini.

Perlahan para jamaah mendekat, duduk saling merapat, di dalam pendopo menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat. Senyum-senyum penuh semangat tampak di wajah para jamaah yang hadir, seolah menandai kerinduan untuk kembali duduk bersama dalam lingkaran ilmu dan kebersamaan.

Suasana kemudian memasuki sesi bershalawat bersama yang dipandu oleh grup hadrah Alhamdulillah. Dengan penuh kekhidmatan, mereka melantunkan Shalawat Asyghil dan Shalawat Tibbil Qulub. Lantunan shalawat itu menggema lembut di ruang pendopo, mengalun perlahan namun terasa menguatkan kebersamaan di antara para jamaah.

Bersama-sama melantunkan shalawat, malam itu terasa semakin hangat dan khidmat. Shalawat menjadi pembuka yang menenangkan, sekaligus mengantarkan langkah para jamaah untuk memasuki forum diskusi BangbangWetan yang kembali digelar dalam suasana penuh kebersamaan.

Pada pukul 21.02, moderator memanggil para narasumber untuk naik ke atas panggung. Gus Binnur, Mas Karim, serta Pak Yusuf dari Stand Up Indo Surabaya kemudian bergabung bersama di hadapan para jamaah. Kehadiran mereka menandai dimulainya sesi berikutnya, yaitu “Mbabar Tema,” di mana pembahasan malam itu mulai dibuka dan dibagikan kepada seluruh jamaah yang hadir.

Sesi Mbabar Tema dibuka oleh Mas Diki dengan mengawali pembahasan tentang tirakat. Ia menjelaskan bahwa dalam pengertian sederhana, tirakat bisa dimaknai sebagai bentuk “ngempet” atau menahan diri sebagai sebuah metode bertirakat. Tirakat tidak selalu hadir dalam bentuk ritual tertentu, tetapi dapat dijalani melalui berbagai metode, salah satunya melalui kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Mas Diki kemudian mengajak Pak Yusuf—yang memiliki latar belakang militer—untuk berbagi pandangan mengenai hubungan antara kedisiplinan dengan tema “Tirakat Ahsani Taqwim.”

Pak Yusuf memulai tanggapannya dengan candaan, “Masa ada TNI tirakat?” Tawa jamaah pun pecah di pendopo. Ia lalu menegaskan bahwa yang ia sampaikan malam itu hanyalah pandangan pribadinya. “Kalau menurut panjenengan benar, silakan diambil. Kalau tidak, ya silakan dibuang,” ujarnya santai.

Dokumentasi official bangbangwetan

Menurut Pak Yusuf, tirakat berakar dari rasa syukur yang lahir dari keikhlasan. Dari situlah manusia belajar memahami dirinya sebagai ciptaan terbaik, sebagaimana konsep Ahsani Taqwim. Namun manusia sering merasa tidak sempurna karena belum mampu melihat sisi kesempurnaan yang ada dalam dirinya.

Ia menyinggung persoalan gangguan kejiwaan sebagai contoh. Bisa jadi, menurutnya, di balik keadaan itu tersimpan rahmat yang tidak dipahami manusia lain. Dengan nada bercanda ia bahkan menyebut orang dengan gangguan jiwa mungkin saja masuk surga tanpa melalui hisab—candaan yang kembali memancing tawa jamaah.

Pak Yusuf juga berbagi kisah tentang perjalanan kehamilan istrinya yang beberapa kali mengalami keguguran. Saat berkonsultasi dengan dokter, ia sempat menyebut istilah “kandungan lemah”. Namun dokter menjelaskan bahwa dalam istilah medis sebenarnya tidak ada kandungan lemah—setiap kandungan pada dasarnya diciptakan sempurna.

Dari pengalaman tujuh kali kehamilan dengan berbagai ujian, Pak Yusuf menegaskan bahwa semuanya tetap dijalani dengan rasa syukur. Candaan Mas Diki tentang kemungkinan “istri kedua” pun sempat menyelingi cerita itu dan kembali mengundang tawa jamaah.

Pembicaraan kemudian kembali pada tirakat. Pak Yusuf melihat tirakat memiliki kemiripan dengan kedisiplinan yang ia pelajari di militer. Disiplin lahir dari kebiasaan kecil yang dilatih terus-menerus, seperti merapikan tempat tidur setiap pagi—hal sederhana yang melatih ketelitian dan kesiapan.

Mas Diki menambahkan bahwa tirakat bukan untuk menghindari ujian hidup, melainkan untuk memperkuat diri dalam menghadapinya. Pada akhirnya, menurut Pak Yusuf, tirakat bermuara pada kemuliaan manusia. Namun semuanya harus diawali dari rasa syukur, agar manusia tetap berada pada jalan Ahsani Taqwim dan tidak terjatuh pada Asfala Safilin.

Diskusi malam itu semakin menarik ketika Mas Karjo mengajak jamaah melihat puasa dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, laku menahan diri tidak hanya dijalani manusia, tetapi juga dapat ditemukan dalam kehidupan makhluk lain di alam.

Ia mencontohkan fenomena dormansi pada tumbuhan. Biji yang baru dipanen tidak selalu langsung tumbuh, melainkan menunggu kondisi lingkungan yang tepat. Masa menunggu itu, menurut Mas Karjo, dapat diibaratkan sebagai “puasanya” tumbuhan sebelum memulai kehidupan baru.

Contoh lain datang dari dunia hewan, seperti beruang yang menjalani hibernasi saat musim salju dengan mengurangi aktivitas dan tidak makan selama berbulan-bulan. Dengan nada ringan ia membandingkannya dengan manusia yang berpuasa dari fajar hingga magrib. Candaan tentang orang yang “puasanya sampai dzuhur saja” pun disambut tawa jamaah.

Namun Mas Karjo kemudian menekankan bahwa puasa manusia berbeda dengan makhluk lain. Hewan dan tumbuhan mengikuti mekanisme alam, sedangkan manusia berpuasa dengan kesadaran dan niat. Justru karena manusia memiliki banyak cara untuk memenuhi kebutuhannya, ia perlu belajar menahan diri.

Dokumentasi official bangbangwetan

Puasa, menurutnya, menjadi latihan untuk mengendalikan nafsu—mulai dari amarah hingga berbagai dorongan dalam diri. Ia bahkan mengajak jamaah mencoba latihan sederhana: menahan marah selama satu minggu untuk belajar mengenali dan mengendalikannya.

Mas Jembar menambahkan bahwa nafsu tidak bisa dimatikan karena ia bagian dari manusia. Yang dapat dilakukan adalah mengendalikannya. Dalam latihan itulah, melalui puasa, manusia perlahan belajar memahami dirinya sendiri.

Forum kemudian beralih kepada Gus Binnur. Ia mengawali dengan mengajak jamaah berhenti sejenak untuk mendoakan saudara-saudara Muslim yang tengah menghadapi penderitaan, khususnya di Palestina dan Iran. Ia mengingatkan agar sekat-sekat seperti Sunni dan Syiah tidak menjadi penghalang rasa persaudaraan. “Al-muslimu akhul muslim,” ujarnya. Suasana forum pun hening ketika doa dipanjatkan bersama.

Memasuki tema Tirakat Ahsani Taqwim, Gus Binnur mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebut manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Menurutnya, kesempurnaan itu terletak pada keseimbangan yang dimiliki manusia. Namun anugerah tersebut tidak otomatis menjadikan manusia berada pada posisi terbaik. Tanpa tirakat, manusia justru bisa melenceng dari tujuan penciptaannya.

Ia menegaskan bahwa manusia bukan makhluk paling sempurna, melainkan makhluk yang dimuliakan. Kemuliaan itu perlu dirawat melalui laku spiritual. Secara sederhana, tirakat adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan wirid, sekaligus meninggalkan hal-hal yang dilarang-Nya.

Di antara berbagai laku tersebut, puasa menjadi tirakat yang paling nyata. Tradisi ini bahkan telah lama hidup dalam kebiasaan para leluhur melalui berbagai bentuk puasa tirakat.

Dokumentasi official bangbangwetan

Mas Diki kemudian merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa tirakat adalah latihan mengendalikan akal dan nafsu agar manusia tidak terjatuh pada derajat asfala sāfilīn. Dalam perjalanan hidup, puasa menjadi salah satu latihan sederhana yang menuntun manusia menuju kedewasaan batin.

Malam kian larut, namun suasana forum tetap hangat. Sebelum diskusi dilanjutkan, grup hadrah mengisi jeda dengan lantunan shalawat yang menggema di pendopo, menghadirkan suasana teduh bagi jamaah.

Usai shalawat, forum memasuki sesi kedua dengan kehadiran beberapa narasumber tambahan, di antaranya Mas Sabrang, Pak Zainal, Pak Suko, dan Mas Amin.

Mas Jembar sebagai moderator kembali membuka percakapan. Ia menegaskan bahwa pembahasan Tirakat Ahsani Taqwim bukan sekadar mencari definisi, melainkan menggali pemahaman tentang seperti apa manusia yang berada dalam keadaan ahsani taqwim. Setelah pengantar singkat itu, ia pun mempersilakan Pak Zainal untuk memulai sesi kedua malam itu.

Pak Zainal membuka tanggapannya dengan hamdalah dan rasa syukur karena malam itu kembali dapat berkumpul bersama jamaah Maiyah. Ia juga mendoakan agar seluruh jamaah senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah.

Menurutnya, manusia telah diciptakan dalam keadaan terbaik sebagaimana disebut dalam Surat At-Tin. Namun perjalanan hiduplah yang menentukan apakah manusia mampu menjaga kemuliaan itu atau justru terjatuh pada keadaan asfala sāfilīn.

Dalam kerangka tersebut, tirakat dipahami sebagai upaya menjaga kualitas kemanusiaan. Tirakat tidak selalu berupa laku yang berat, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana—mengisi hidup dengan kegiatan yang membawa manfaat.

Mas Jembar kemudian menegaskan bahwa ahsani taqwim bukan sekadar gelar bagi manusia, melainkan amanah yang harus terus dijaga dalam perjalanan hidup.

Mas Jembar kemudian mengalihkan perhatian kepada narasumber di sampingnya. Dengan nada akrab ia mempersilakan Pak Suko untuk melanjutkan percakapan malam itu.

Pak Suko pun menyapa jamaah dengan hangat. “Sehat sedoyo, nggih?” sapanya, yang langsung dijawab serempak oleh jamaah di pendopo.

Seperti biasa, ia membuka suasana dengan sedikit humor. Ia berseloroh bahwa beberapa hari terakhir anak-anak Maiyah sering menengadah ke langit, “katanya takut kalau ada rudal dari Iran sampai ke sini.” Lalu ia menambahkan santai, “Tenang saja… Mas Sabrang datang.” Candaan itu pun langsung disambut gelak tawa jamaah.

Di sela kelakarnya, Pak Suko menyelipkan pesan yang ia kutip dari Mbah Nun: “Dadio wong sing temen.” Jadilah orang yang sungguh-sungguh—sebuah pengingat bahwa kesungguhan adalah kunci dalam menjalani hidup, termasuk dalam laku tirakat.

Mas Jembar kemudian kembali memandu forum. Ia mempersilakan Mas Amin, perwakilan tuan rumah BangbangWetan, menyampaikan tanggapan.

Setelah salam dan basmalah, Mas Amin justru membuka dengan candaan, “Karena sudah waktunya Mas Sabrang, kita pasrahkan saja ke Mas Sabrang.” Pendopo pun langsung dipenuhi tawa jamaah. Ia sempat menambahkan selipan humor bahwa teman-teman BangbangWetan sebenarnya sudah “ahsani taqwim semua”, sebelum menutup tanggapan singkatnya.

Mas Jembar kemudian mempersilakan Mas Sabrang berbicara.

Mas Sabrang membuka dengan nada santai. “Sepertinya malam ini lebih banyak yang ingin bertanya daripada yang ingin mendengar,” ujarnya, disambut tawa jamaah. Ia juga berseloroh bahwa orang-orang sudah sering melihatnya di media sosial—biasanya ketika sedang dicaci maki.

Memasuki tema tirakat ahsani taqwim, Mas Sabrang mengajak jamaah melihat kembali makna kesempurnaan manusia. Makhluk lain hidup mengikuti jalur yang telah ditentukan. Manusia berbeda. Ia diberi kemungkinan untuk membentuk dirinya sendiri.

Karena itu, kesempurnaan manusia bukan karena sudah selesai dibentuk, tetapi karena memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.

Namun kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab. Manusia menemukan dirinya melalui pengalaman hidup. Dari sanalah seseorang perlahan memahami siapa dirinya dan apa perannya.

Mas Sabrang mengingatkan sabda Nabi: pahala menghadirkan ketenangan, sementara dosa menimbulkan kegelisahan. Jika suara hati terus diabaikan, kompas batin manusia lama-lama bisa menjadi tumpul.

Dokumentasi official bangbangwetan

Forum kemudian memasuki sesi tanya jawab.

Penanya pertama, Mas Aji dari Sidoarjo, menyinggung paradoks tirakat. Jika tirakat dilakukan karena keinginan untuk menjadi lebih baik, bukankah itu berarti melahirkan keinginan baru?

Mas Sabrang menjawab bahwa tirakat pada dasarnya adalah kesediaan menahan sesuatu yang bisa dilakukan demi sesuatu yang seharusnya dilakukan. Keinginan sendiri tidak selalu salah. Manusia tetap memerlukan keinginan untuk hidup. Yang penting bukan menghapusnya, tetapi menatanya.

Bahkan upaya untuk menghilangkan keinginan pun sebenarnya tetap merupakan bentuk keinginan.

Penanya kedua, Mas Sulton dari Malang, bertanya bagaimana menjaga semangat ketika hidup sedang sulit.

Mas Sabrang menilai manusia sering terlalu bergantung pada mood, padahal perasaan sangat mudah berubah. Karena itu ia menyarankan membangun sistem dalam hidup—misalnya jadwal belajar, olahraga, atau kebiasaan baik lain yang dijalankan secara konsisten.

Di sinilah pentingnya istiqamah. Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus, dalam jangka panjang, bisa membawa perubahan besar.

Penanya ketiga datang dari Mas Imam, jamaah asal Gresik. Dengan nada bercanda ia menyinggung posisi Mas Sabrang sebagai tenaga ahli di pemerintahan.

“Kalau begitu itu termasuk berbuka, berlebaran, atau malah mokel?” tanyanya, memancing gelak tawa jamaah.

Mas Sabrang menanggapi dengan santai. Ia mengajak jamaah melihat asumsi di balik pertanyaan itu—seolah-olah menjadi pejabat identik dengan kenikmatan atau penyimpangan.

Padahal persoalannya bukan pada posisi, melainkan bagaimana seseorang menjalaninya.

Ia mengingatkan satu prinsip yang sering disampaikan di Maiyah: tujuan itu fanatik, tetapi cara itu fleksibel. Kadang seseorang harus melewati jalan yang tidak nyaman untuk mencapai tujuan yang benar.

Mas Sabrang juga menyinggung potongan-potongan video tentang dirinya yang beredar di media sosial tanpa konteks utuh. Baginya yang penting adalah tetap jujur pada apa yang ia pahami sebagai kebenaran.

“Kalau dihujat orang se-Indonesia, monggo saja,” ujarnya santai. “Saksi hidup saya bukan persetujuan netizen, tetapi persetujuan Gusti Allah.”

Ia lalu mengajak jamaah berdamai dengan risiko terbesar dalam hidup: kematian. Jika manusia sudah menerima bahwa suatu saat ia akan mati, maka banyak ketakutan lain menjadi jauh lebih kecil.

Yang tersisa adalah satu pertanyaan sederhana: bagaimana mempertanggungjawabkan hidup ini di hadapan Tuhan.

Mas Sabrang juga meminta jamaah Maiyah untuk tetap mengingatkan dirinya jika suatu hari ia melenceng. “Kalau suatu saat saya terlena”, tolong ingatkan bahwa rumah saya tetap di sini—bersama dulur-dulur Maiyah.”

Pendopo pun dipenuhi tepuk tangan jamaah.

Ia kemudian menegaskan bahwa posisinya adalah tenaga ahli yang bekerja dengan data dan analisis. “Juragan saya itu data dan kenyataan,” ujarnya.

Keputusan berada di posisi itu, katanya, bukan sekadar pilihan pribadi. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melakukannya.

“Saya melakukan ini bukan karena ingin,” tutupnya, “tetapi karena merasa harus melakukannya.”

Di bagian lain, Mas Sabrang menurunkan pembahasan ke hal yang lebih dekat dengan keseharian.

“Urip itu ya seperti ini. Kadang enak, kadang tidak,” ujarnya. “Kadang mengikuti keinginan, kadang menjalankan kewajiban.”

Ia memberi contoh sederhana yang langsung mengundang senyum jamaah: “Enak main gaple, tapi tetap harus berangkat kerja.”

Bukan karena ingin, tetapi karena ada tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Dari situ ia menegaskan, hidup tidak selalu tentang apa yang disukai. Ada saat ketika kewajiban harus didahulukan dari keinginan.

Menutup dengan nada ringan, ia menambahkan, “Kalau soal keinginan, ya saya juga ingin duduk santai di sini bersama kalian.”

Jamaah pun tersenyum—menangkap sisi manusiawi di balik pilihan hidup yang dijalani.

Suasana beralih ketika Mas Amin mengambil peran. Dengan tenang, ia mengajak jamaah menoleh pada jejak pemikiran Mbah Nun melalui tulisan berjudul “Profesor Doktor Jalan Ramai” (10 Juni 2020).

Pendopo perlahan hening. Jamaah menyimak.

“Sabrang adalah anak yang lahir di ‘jalan sunyi’ tetapi ia harus bergelut dan menguasai bahasa dan budaya ‘diskotik’ dan ‘jalan ramai’. Infrastruktur sejarah kelahiran Sabrang jelas ‘jalan sunyi’, tetapi ternyata kemudian harus memanggul tugas dan beban ‘jalan ramai’. Berkah Allah kepada Sabrang bukan kuliah di Al-Azhar Cairo kemudian jadi saingan Ustadz UAS bergelar Ustadz SMDP, melainkan menjadi ujung tombak Letto. Itu jelas ‘jalan ramai’, beda dengan KiaiKanjeng yang sunyi pol.

Sabrang adalah profesor doktor lulusan jalan sunyi yang sekarang harus menguasai bahasa dan strategi sosialisasi masa depan di arena diskotik globalisasi dan jalan ramai old maupun new normal dunia pasca Covid-19. Di Maiyah Sabrang bisa menjawab sangat banyak hal yang Bapaknya tidak bisa menjawab. Sabrang tidak hanya punya ‘kalkulator zaman’ untuk mengolah masa depan Maiyah, tapi juga hari depan Indonesia dan seluruh ummat manusia di dunia”.

Mas Amin kemudian menutup dengan celetukan ringan, “Kutukan nasab.”

Tawa jamaah pun pecah, mencairkan suasana.

Dokumentasi official bangbangwetan

Mas Sabrang melanjutkan dengan nada lebih reflektif. Ia menyinggung ungkapan yang sering ia dengar: “Enak ya jadi Letto, enak ya jadi anaknya Mbah Nun, enak ya sekolah luar negeri.”

“Iri itu tidak apa-apa,” ujarnya. “Tapi irilah juga pada prosesnya.”

Pendopo mulai hening.

Ia mengingatkan, yang terlihat sering hanya hasil. Padahal di balik itu ada proses panjang—dididik oleh ayah yang juga menjadi milik banyak orang, hingga perjalanan bermusik yang penuh latihan dan kegagalan.

“Aku ini prioritasnya bisa nomor sekian,” katanya ringan, disambut tawa jamaah.

Menurutnya, apa yang ia pahami hari ini bukan datang tiba-tiba, melainkan dari kebiasaan membaca, merenung, dan terus mengolah pikiran. Karena itu, ia mengajak jamaah tidak terpaku pada hasil, tetapi menghargai proses.

“Semua orang punya pertarungannya sendiri,” ujarnya pelan.

Ia juga mengingatkan agar tidak mudah menghakimi. Apa yang terlihat belum tentu mencerminkan keseluruhan. Realitas tidak cukup dipahami dari potongan-potongan.

Menyinggung media sosial, ia mengingatkan bahwa orang kini mudah berbicara tanpa tanggung jawab. Ia mengutip guyonan Mbah Nun tentang panggung Maiyah yang rendah—agar siapa pun siap menanggung ucapannya.

“Kalau tidak setuju, ya bisa kena sandal,” ujarnya, disambut tawa jamaah.

Pak Yusuf kemudian menimpali dengan gaya lugas.

“Hidup kok malas,” ujarnya. “Coba malas bernapas.”

Dari situ ia menegaskan: tidak ada jalan instan. Yang tampak mudah di luar sering kali menyimpan proses panjang di dalam.

Malam itu pun mengalir antara tawa dan perenungan—mengingatkan kembali bahwa hidup bukan hanya soal hasil, tetapi tentang proses, tanggung jawab, dan kesadaran dalam menjalaninya.

Memasuki sesi tanya jawab kedua, suasana pendopo kembali hidup. Jamaah mulai membawa kegelisahan yang lebih personal.

Penanya pertama, Mbak Yusron dari Surabaya, mengaku sejak kecil mengenal agama lewat ritual. Namun seiring waktu, ia merasakan ada jarak menuju esensinya. Ia pun bertanya: adakah jalan untuk mendekat ke sana?

Mas Sabrang menjawab sederhana.

Menurutnya, kunci awal adalah membedakan antara menginginkan dan merindukan. Keinginan menuntut kepastian. Sementara kerinduan lebih lapang—ia ingin mendekat tanpa memaksa harus sampai.

“Kalau ingin tahu esensi, jangan hanya diinginkan. Tapi dirindukan.”

Pendopo hening.

Ia menegaskan, pemahaman bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Ia adalah rezeki—datang ketika seseorang siap. Informasi bisa saja sudah di depan mata, tetapi tanpa kesiapan, tetap tidak akan dipahami.

Sebaliknya, ketika sudah siap, pemahaman bisa datang dari mana saja.

Perjalanan itu pun tidak selalu lurus.

“Kadang maju, kadang mundur. Itu tidak apa-apa.”

Mas Sabrang bahkan mengaku pernah berada di titik tidak percaya kepada Tuhan. Namun baginya, itu bagian dari proses pencarian yang jujur.

“Kalau harus lewat jurang, ya dijalani.”

Namun ia mengingatkan, setiap orang punya jalannya sendiri. Tidak perlu memaksakan diri jika belum siap.

Di ujung penjelasannya, ia kembali pada satu hal: kerinduan.

Ketika seseorang benar-benar merindukan, arah sebenarnya sudah ada—meski jalannya belum sepenuhnya terlihat.

“Gampangnya,” ujarnya pelan, “aku ingin ke sana, tapi belum tahu caranya. Gusti, tuntun aku.”

Pendopo kembali hening—seolah tiap jamaah diajak menengok dirinya sendiri, di antara ritual dan esensi.

Penanya berikutnya, Mbak Fitri dari Surabaya, mengangkat kegelisahan yang sangat dekat dengan realitas hari ini. Sebagai guru SD, ia melihat anak-anak tumbuh dalam arus deras media sosial.

“Seperti spons,” katanya—menyerap apa saja, terutama dari TikTok. Paparan itu perlahan membentuk cara berpikir dan bersikap.

Lalu ia bertanya: adakah langkah konkret agar anak lebih bijak bermedia sosial?

Mas Sabrang menanggapi tenang. Isu ini, menurutnya, sudah lama ia suarakan melalui pentingnya pendidikan digital.

Bukan sekadar kemampuan memakai teknologi, tetapi proses utuh: digital use, security, privacy, literacy, hingga appreciation.

Kerangkanya sudah ada. Metodologinya jelas.

Yang belum, adalah kesungguhan menerapkannya.

Pak Suko sempat menyinggung adanya regulasi pembatasan usia sebagai langkah awal. Mas Sabrang mengapresiasi, namun menegaskan: itu belum cukup.

Dokumentasi official bangbangwetan

Sebab persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan pada guru. Waktu di sekolah terbatas, sementara pengaruh terbesar justru datang dari luar.

Karena itu, ia mengajak melihatnya sebagai peluang di level sekolah.

Program literasi digital bisa menjadi bagian kurikulum—bukan hanya kebutuhan, tetapi juga nilai tambah. Jembatan antara keresahan orang tua dan arah pendidikan anak.

Dengan begitu, sekolah dan rumah tidak berjalan sendiri-sendiri.

Di ujungnya, Mas Sabrang kembali pada hal paling mendasar: semua perangkatnya sudah tersedia.

Tinggal satu yang menentukan—

kemauan untuk memulai.

Penanya ketiga, Mas Rizky dari Sidoarjo, mengangkat soal bagaimana gagasan—seperti Balung Pisah—bisa hidup dan menjangkau banyak orang.

Mas Sabrang menjawab dengan menggeser cara pandang. Mengajak satu orang bergerak tentu berbeda dengan menggerakkan sepuluh, apalagi satu kampung atau satu negara. Skala mengubah metode. Dari personal menjadi sistemik.

Ia lalu menyinggung kebiasaan zaman: ramai bicara, minim gerak. Di media sosial, suara sering lebih dihargai daripada aksi. Padahal untuk menyelesaikan persoalan, yang dibutuhkan justru kontribusi nyata—bukan sekadar opini.

Dari situlah Balung Pisah diposisikan. Bukan sebagai ruang wacana, tetapi ruang temu. Tempat kegelisahan dipertemukan dengan keahlian. Data, pengalaman, dan perspektif dirajut bersama, agar melahirkan solusi yang lebih utuh.

Mas Sabrang menegaskan, dirinya bukan pusat. Ia hanya menyiapkan “irigasi”—agar berbagai aliran bisa bertemu dan mengalirkan manfaat.

Ia juga menolak menjadikannya program formal pemerintah. Baginya, ruang ini harus tumbuh dari kesadaran kolektif.

“Kalau ini memang tugas dari Gusti Allah, pasti ada jalannya.”

Di ujungnya, harapannya sederhana: setiap orang menyumbang sesuai kemampuannya—ilmu, tenaga, atau peran.

Bukan sekadar gotong royong yang dibicarakan, tapi yang benar-benar dijalankan.

Penanya terakhir, Mas Helmi dari Surabaya, membawa diskusi ke isu global: kemungkinan perang dunia dan dampaknya di Indonesia.

Mas Sabrang tidak memberi kepastian. Ia menegaskan, konflik hari ini adalah hybrid war—campuran militer, ekonomi, hingga kognitif—terlalu kompleks untuk diprediksi. Ia mengajak melihat sejarah: setiap era punya super power, tapi tak ada yang abadi. Pergeseran selalu disertai guncangan.

Menurutnya, dunia kini berada di fase transisi itu.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Ia menariknya ke hal paling dasar: ketahanan hidup.

“Tanpa internet kita masih bisa hidup. Tanpa makanan?”

Dari situ ia menekankan pentingnya pangan. Dalam kondisi apa pun, produksi makanan adalah kunci. Negara perlu memberi kepastian agar petani berani memproduksi, sementara masyarakat mengawal agar perputaran ekonomi benar-benar menyentuh akar—bukan bocor ke impor atau korporasi besar.

Di ujungnya, Mas Sabrang mengingatkan soal prioritas.

Di tengah keterbatasan, yang didahulukan adalah yang menopang hidup paling banyak orang.

Dan pangan selalu ada di garis depan itu.

Sebagai penutup, Mas Sabrang mengajak jamaah kembali ke satu hal yang paling mendasar: kejernihan akal.

Menurutnya, bahaya terbesar hari ini bukan sekadar konflik atau perubahan zaman, melainkan ketumpulan cara berpikir—ketika manusia kehilangan keberanian untuk kritis, mudah percaya pada arus, dan menelan mentah-mentah apa yang tampak di permukaan. Judul-judul berita, katanya, tidak selalu berbicara tentang kebenaran, melainkan sering kali tentang perhatian.

Karena itu, menjaga kesadaran dan kejernihan berpikir menjadi ikhtiar yang tidak bisa ditawar.

Ia kemudian mengingatkan bahwa apa pun posisi manusia dalam hidup, sejatinya hanyalah peran. Sebuah “senda gurau” kehidupan, tempat setiap orang menjalankan tugasnya masing-masing. Maka, masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang menang atau kalah, melainkan oleh sejauh mana manusia mau berbuat baik dalam perannya.

“Indonesia tidak akan menjadi baik,” kira-kira demikian nadanya, “jika pelakunya sendiri tidak mau menjadi baik.”

Gagasan seperti Balung Pisah, lanjutnya, juga tidak akan berarti apa-apa tanpa keterlibatan bersama. Ia menempatkan dirinya hanya sebagai satu titik kecil dalam keseluruhan gerak yang jauh lebih besar—sebuah peran yang tidak lebih penting dari peran siapa pun yang sama-sama diciptakan Tuhan.

Di situlah ia mengajak jamaah untuk menjalani hidup dengan keseimbangan: santai, tetapi tetap kritis. Menjadi manusia dalam makna yang utuh—ahsani taqwim—sebagaimana Tuhan menciptakan.

Ia mengingatkan, setiap manusia sejatinya adalah “pemenang” sejak awal—lahir dari perjuangan panjang, mengalahkan kemungkinan yang tak terhitung. Maka hidup ini adalah perjalanan masing-masing bersama Tuhan, menjalankan “kurikulum” yang sudah digariskan.

Tugasnya sederhana namun tidak ringan: menjalani dengan sungguh-sungguh, sekaligus memberi ruang agar generasi berikutnya bisa hidup lebih baik.

Di akhir, Mas Sabrang meninggalkan satu pertanyaan yang menggantung sekaligus menuntun: dalam segala arus zaman yang deras ini, apakah kita tetap menjadi manusia, atau justru larut menjadi bagian dari arus itu sendiri? Semoga Maiyah terus melatih kita menjadi manusia—bukan sekadar hadir, tetapi sadar dan utuh dalam menjalani hidup.

Mas Sabrang menutup dengan harapan yang sederhana namun dalam: kelak, ketika perjalanan ini sampai di ujungnya, saat setiap manusia dihadapkan pada pertanggungjawaban, kita mampu menjawab dengan mantap—bahwa hidup telah dijalani dengan menunaikan apa yang diperintahkan oleh Gusti Allah.

Dokumentasi official bangbangwetan

Malam pun ditutup dengan indal qiyam, ketika doa dan harap kembali dinaikkan—sebagai penanda bahwa seluruh percakapan, pada akhirnya, bermuara pada satu arah: keselamatan, hingga kelak sampai di hadapan-Nya.

Artikel Merawat Ahsani Taqwim Lewat Tirakat pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/merawat-ahsani-taqwim-lewat-tirakat/feed/ 0
Kiblat Politik dan Doa https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/ https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/#respond Thu, 05 Mar 2026 05:06:03 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2665 Setelah saya menulis tentang tadabbur politik Isra Mikraj, saya seperti kecanduan untuk mengait-ngaitkan, mentauhid-tauhidkan, atau memanunggal-manunggalkan segala peristiwa penting umat Islam pada zaman Rasulullah terhadap kondisi politik sekarang. Rasanya, pikiran […]

Artikel Kiblat Politik dan Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Setelah saya menulis tentang tadabbur politik Isra Mikraj, saya seperti kecanduan untuk mengait-ngaitkan, mentauhid-tauhidkan, atau memanunggal-manunggalkan segala peristiwa penting umat Islam pada zaman Rasulullah terhadap kondisi politik sekarang. Rasanya, pikiran ini selalu tiba-tiba berpikir liar seperti itu. Dan tangan ini selalu gatal untuk mengabadikan pola ketauhidan antara peristiwa penting zaman Rasulullah yang diromantisasi dengan keadaan politik sekarang.

Mungkin, karena memang saya sehari-hari bergelut dengan ilmu-ilmu politik, baik politik domestik maupun politik luar negeri. Jadi bahasan-bahasan politik sudah menjadi “sego jangan” saya setiap hari, dan lebih “gong”-nya saya sudah terbiasa untuk mengait-ngaitkan khazanah Islam dengan situasi politik sekarang karena kampus saya sangat islami dan menuntut untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu modern dengan Islam.

Kali ini, saya akan berpikir liar lagi, tetapi saya memakai senjata tadabbur. Apa yang saya maknai, interpretasikan, atau saya jadikan argumen, itu semua dalam ranah tadabburan. Merasakan Al-Qur’an, merasakan peristiwa penting Kanjeng Nabi, dan mencoba untuk memaknainya sebagai ladang manfaat, baik buat diri saya maupun untuk khalayak yang membaca.

Ketika saya menulis ini, tepat di tengah-tengah bulan Sya’ban. Saya “nenger”-nya adalah bahwa besok malam adalah padhang mbulan, di mana itu tanda pertengahan bulan. Kalau di bulan Sya’ban kita familiar menyebutnya sebagai “Nisfu Sya’ban”. Biasanya, kalau di desa-desa ada acara ruwahan atau ruwah desa, yang memang sifatnya lebih kultural. Kalau sifatnya agak-agak agamis, ya biasanya tepat pertengahan bulan Sya’ban jamaah-jamaah langgar membaca surat Yasin tiga kali antara Maghrib dan Isya.

Itu semua adalah sebuah budaya yang sering kita temui di bulan Sya’ban. Saya tidak akan membahas itu karena sudah pasti banyak orang yang memaknai itu, paham akan acara itu, dan sudah menjadi acara tahunan yang wajib diselenggarakan. Namun, saya ingin mengajak para pembaca untuk menengok pada satu peristiwa yang jarang terdengar di telinga kita, yaitu pada bulan Sya’ban ada sebuah peristiwa Tahwilul Qiblah.

Tahwilul Qiblah adalah sebuah proses pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis yang sekarang Palestina berubah ke Masjidil Haram, yaitu Mekkah. Hal ini jarang dicapture oleh banyak orang, padahal ini adalah peristiwa yang sangat penting di zaman Rasulullah dan itu pun sangat berpengaruh pada ibadah mahdhah kita, yaitu sholat yang sekarang berkiblat di Mekkah. Sejenak mari kita perdalam.

Lagi-lagi, Allah menurunkan perintah pada Rasulullah untuk memindahkan arah kiblat itu tidak hanya urusan ibadah mahdhah. Tapi kita bisa mengambil beberapa nilai dari peristiwa itu dan kita romantisasi dengan kondisi sekarang, khususnya politik. Sangat liar sekali kita langsung memaknainya dalam lingkar politik. Tapi itulah tadabbur. Maknai apa saja asal manfaat.

Kita runtut dari awal. Kenapa kok umat Islam pada saat itu beribadah menghadap Baitul Maqdis? Apa maknanya? KH Bisri Musthofa, ayah dari KH Musthofa Bisri (Gus Mus), pernah dikutip dalam beberapa penelitian bahwa alasan kenapa berkiblat ke Baitul Maqdis adalah untuk melunakkan hati orang Yahudi. Mungkin, pada saat itu agar umat Yahudi bisa mualaf. Namun, sebenarnya Rasulullah sangat ingin sekali kembali untuk berkiblat ke Makkah, di mana tempat ibadah “persasat” bapaknya, yaitu Nabi Ibrahim.

Itulah yang direspons oleh Allah, dan akhirnya turun sebuah ayat atau wahyu bahwa kiblat akan dipindahkan ke Mekkah. Beberapa ayat kuncinya adalah:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ

“Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu …” (QS. Al-Baqarah: 144)

Dengan penjelasan sekilas itu, saya mencoba untuk menarik pada kondisi saat ini. Indonesia sempat ramai dengan Board of Peace, organisasi bentukan Amerika Serikat, di mana Amerika Serikat dengan Trump sebagai kepala atau promotor utama organisasi itu. Tujuannya adalah untuk perdamaian Gaza. Naasnya, dalam organisasi itu hanya ada Israel. Tidak ada negara Palestina. Ini menimbulkan banyak pro dan kontra para ahli geopolitik dan hubungan internasional, apalagi yang ada di Indonesia. Seakan-akan merasakan kebingungan kebijakan luar negeri Indonesia yang lepas dari doktrin bebas aktif.

Ibarat kisah Tahwilul Qiblah, menurut saya kita sedang dalam posisi masih berkiblat di Baitul Maqdis. Kita seakan-akan berfokus pada Palestina, memperjuangkan pembebasan dan kemerdekaan Gaza, namun dengan cara dekat dan seorganisasi dengan Israel(yahudi). Kalau saya memaknai itu, proses Indonesia sebagai negara pembela Palestina itu seperti umat Islam dulu berkiblat ke Baitul Maqdis untuk melunakkan hati kaum Yahudi.

(Sumber : https://www.caknun.com/2017/para-penguasa-menyangka-2)

Melunakkan hati kaum Yahudi dalam hal ini bisa Israel dan sekutunya, tapi tidak untuk mualaf seperti zaman Nabi dahulu. Semata-mata tujuannya untuk menyelesaikan wacana two state solution, kemerdekaan Palestina, dan pemberhentian aksi genosida. Itulah yang dilakukan oleh Indonesia sekarang. Mendekati musuh atau ancaman gunanya untuk melunakkan. Dalam beberapa teori Barat hubungan internasional, ini bisa disebut sebagai balance of threat atau penyeimbangan ancaman.

Alarm bahaya tetap akan siap-siap berbunyi. Balance of threat atau berusaha membela Gaza dengan mendekati musuh atau ancamannya dapat memunculkan dua kemungkinan. Pertama, Indonesia berhasil merayu Israel dan Amerika Serikat dari dalam untuk memerdekakan Palestina secara sempurna. Kedua, Indonesia akan dijadikan negara yang tidak memiliki pengaruh apa pun. Negara Indonesia akan terjebak pada lingkaran setan, dan otomatis kerugian material serta sikap akan didapatkan oleh Indonesia, dan otomatis juga Indonesia gagal memperjuangkan Palestina.

Menurut saya, merespons kondisi geopolitik saat ini, kita menunggu hidayah atau keajaiban Tuhan turun agar seluruh negara Indonesia kembali berkiblat ke Mekkah. Dalam arti, Mekkah adalah simbol persatuan, solidaritas, dan perkumpulan umat Islam seluruh dunia. Tempat seluruh energi ibadah kepada Tuhan tumpuk-menumpuk di sana. Kita lihat saja upaya presiden kita gagal atau tidak. Tapi sejak sekarang kita harus bersiap. Siap-siap menguatkan solidaritas antarumat. Jaga persatuan umat Islam, khususnya di Indonesia, karena memungkinkan banyak masalah-masalah “kriwikan” yang akan jadi grojokan dalam hal Islam di Indonesia. Dan itu akan menjadi pondasi yang rapuh untuk kita membela Palestina. Karena konflik internal adalah akal-akalan oknum untuk mengalihkan hati dan pikiran kita terhadap Palestina.

______________

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:

Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kiblat Politik dan Doa pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kiblat-politik-dan-doa/feed/ 0
Tirakat Ahsani Taqwim https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/ https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/#respond Wed, 25 Feb 2026 06:18:17 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2649 Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai […]

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Setiap Ramadhan tiba, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Dalam ajaran Islam, kewajiban selalu berkaitan dengan kemampuan, sebagaimana prinsip bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan hamba-Nya. Puasa dapat dibaca sebagai bentuk pengakuan Tuhan atas kapasitas rasional manusia. Lalu, potensi apa yang sebenarnya sedang diuji melalui kepercayaan itu?

Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa puasa adalah metode tirakat untuk memproses diri menuju ahsani taqwim. Gagasan tersebut membuka ruang renung tentang manusia sebagai proyek yang terus dibentuk.

Sumber : caknun.com

Jika mentadabburi Al-Qur’an Surat At-Tin ayat 4–5, manusia disebut diciptakan dalam ahsani taqwim dan berpotensi njlungup ke asfala safilin. Kontras itu menandakan kondisi yang naik turun. Struktur tersebut dipahami sebagai perpaduan akal dan nafsu. Dari sanalah manusia memiliki kemungkinan untuk naik menuju kemuliaan atau turun pada kerendahan. Maka, apakah gelar luhur itu telah kita wujudkan, atau baru sebatas sebutan?

Ramadhan menghadirkan kesempatan membaca ulang posisi kita di antara dua kemungkinan tersebut. Di sinilah Bangbang Wetan edisi Maret 2026 mengajak bertirakat dengan kesadaran utuh, bukan hanya menjalani rutinitas tahunan. Apakah kita bertirakat Ahsani Taqwim, atau bahkan gak mengerti blas makna tirakat?

Mari temukan jawaban bersama di forum pencerahan Bangbangwetan pada tanggal 8 Maret 2026, Nang Pendopo Cak Durasim. Teko yo rek!

Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel Tirakat Ahsani Taqwim pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/tirakat-ahsani-taqwim/feed/ 0
NGABUDAYA   https://bangbangwetan.org/ngabudaya/ https://bangbangwetan.org/ngabudaya/#respond Mon, 26 Jan 2026 03:02:00 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2629 Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026 Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada […]

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Prolog Bangbang Wetan Bulan Februari 2026

Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada seni pertunjukan seperti Reog Ponorogo, jathilan, ludruk, atau dalam bentuk arsitektur seperti candi atau tempat-tempat bersejarah yang memiliki makna. Tidak salah berpikir seperti itu. Namun, lebih tepatnya semua simbol dan kesenian itu adalah output dari yang namanya “budaya”.

Kita tahu Mbah Nun juga sering disebut budayawan. Tapi tahukah kita bagaimana sebenarnya Mbah Nun memahami budaya dan apa nilai penting budaya menurut beliau? dalam sebuah esai “apa pentingnya budaya?” Beliau memberikan pintu masuk yang sangat fundamental untuk memahami arti budaya. Bahwa salah satu pengertian budaya adalah mutu berekspresi manusia.

Sumber: Kata Maiyah

Ekspresi apa yang dimaksud oleh Mbah Nun sebagai elemen penting dalam budaya? Lalu,  bagaimana ekspresi itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari sehingga kita bisa secara sempurna “ngabudaya”?

Jawaban itu akan kita temukan bersama dalam forum Bangbang Wetan edisi bulan Februari 2026 di Pendopo Cak Durasim.

Teka ya rek, Ngabudaya bareng-bareng.
Selasa, 3 Februari 2026 / Shaʻban 15, 1447 AH
📍 Taman Budaya Cak Durasim
Jl. Genteng kali No. 85. Kec. Genteng, Surabaya.


Disusun oleh: Tim Tema BangbangWetan

Artikel NGABUDAYA   pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/ngabudaya/feed/ 0
Refleksi Digital Era Modern https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/ https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/#respond Sat, 24 Jan 2026 04:58:28 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2623 Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki […]

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Media Teknologi yang Membentuk, Mendidik, dan Menguji Kemanusiaan

Saat ini kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Nampaknya, kita telah memasuki era Post-Truth sehingga sulit sekali membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Banyak sekali informasi yang datang secara bertubi-tubi dan berseliweran di era digital. Algoritma media teknologi di era digital pun nyaris tidak pernah menemukan titik kesunyian. Banjir informasi seolah hadir seperti sebuah gelombang tsunami yang secara tiba-tiba hadir menggulung tanpa diminta. Sejenak mari kita coba untuk mengingat-ingat kembali aktivitas yang mungkin sebagian orang juga mengalaminya seperti pada saat bangun tidur, seringkali refleks tangan kita pertama kali biasanya adalah mengambil ponsel. Bahkan kita seringkali lupa untuk berdo’a atau bersyukur terlebih dahulu, tetapi lebih ingat pada sebuah notifikasi yang muncul untuk meminta sebuah respons. Memang, semua kemudahan bisa lebih mudah didapatkan di era kemajuan teknologi. Namun, ada satu hal yang tertinggal, yakni waktu untuk sejenak merenung sambil berpikir pelan.

Kemajuan teknologi sebenarnya bukan hanya sekadar alat bantu dalam sebuah kehidupan modern. Ia merupakan sebuah ruang sosial baru yang membentuk cara manusia belajar, berinteraksi, dan memaknai diri. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh para pemikir seperti McLuhan, Bauman, dan Freire bahwa kemajuan manusia tidak selalu sejalan dengan dengan kematangan manusia di era digital. Sejenak, mari kita mencoba untuk memahami sebuah kejadian kecil seperti sebuah pesan dalam potongan video di media sosial yang bisa membuat orang marah sehingga membuat algoritma emosi begerak lebih cepat daripada nalar. Kecepatan teknologi membawa manusia pada sebuah kebiasaan baru, yakni cepat membaca, cepat menilai, cepat marah, dan cepat lupa. Banyak sekali hal yang bisa kita ketahui informasinya dari sebuah teknologi, tetapi seringkali kita tak sempat untuk memahami makna persoalannya.

Sumber: Kata Maiyah

Menguji Kemanusiaan

Hari ini, banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi. Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu. Artinya bukan soal sepi atau ramai, melainkan perihal kehadiran makna. Banyak sekali orang berbincang, tetapi jarang berkomunikasi karena pada era digital seringkali terjadi perbincangan dalam pertukaran kata seperti komentar, emoji, atau respons dalam merefleksi sebuah persoalan. Padahal komunikasi sesungguhnya lebih dari sekadar pertukaran kata, tetapi adanya sebuah niat untuk memahami, kesediaan dalam mendengarkan, dan sebuah ikhtiar dalam memahami makna di balik sebuah kata. Ketika kebanyakan orang ingin didengar, tetapi tidak mau mendengarkan, maka percakapan akan berubah menjadi sebuah monolog yang saling bertabrakan sehingga perbedaan kecil membesar menjadi sebuah konflik. Bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena potongan sebuah konteks dan menafsirkannya secara sepihak tanpa mendengar secara utuh akibat kurang adanya kesediaan untuk memahami.

Banyak pula orang berjumpa, tetapi tidak bertemu karena seringkali kita berada pada suatu ruang yang sama seperti rumah, forum, ataupun tempat nongkrong, tetapi jarang memperhatikan percakapan atau komunikasi yang berlangsung seperti saat dua orang saling berjumpa pada satu meja di sebuah tempat nongkrong. Satu orang sedang bercerita dengan lawan bicaranya, bermaksud ingin didengarkan, diperhatikan, dan direspons ceritanya sedangkan orang kedua atau lawan bicaranya malah sibuk bermain gadget sehingga tubuhnya hadir secara fisik, tetapi batinnya jauh secara manusiawi karena kurangnya simpati dan empati terhadap lawan bicara saat komunikasi berlangsung.

Membiasakan Kesadaran Kritis

Saat ini, ruang digital di era modern menjelma menjadi sebuah laboratorium kepribadian yang memproduksi dan mereproduksi nilai, identitas, dan perilaku manusia setiap hari. Maka dari itu, kesadaran kritis manusia dalam merefleksikan ruang digital di era modern sangatlah penting agar manusia tidak menjadi objek yang dibentuk, tetapi bisa menjadi subjek yang mampu untuk mengendalikan ruang digital. Secara tidak sadar, seringkali pandangan manusia dibentuk oleh sebuah algoritma arus informasi yang bersumber dari media. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang pernah dituangkan oleh Edward Bernays tentang Organized Habits yang menjelaskan bahwa kebiasaan dan preferensi individu dibentuk melalui pengulangan pesan yang terencana. Artinya kepribadian kita dalam dunia digital tidak sepenuhnya dibentuk oleh pemikiran dan pilihan pribadi, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh cara media menyajikan informasi yang membentuk kebiasaan kita.

Sumber: Kata Maiyah

Oleh karena itu, manusia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai objek yang dibentuk dan dikendalikan oleh media. Syarat utama agar setiap individu yang mengkonsumsi media bisa berdaulat atas identitas dan tindakannya adalah membangun kesadaran kritis dalam literasi digital sehingga media menjadi suatu ruang pembelajaran dan wadah ekspresi agar tidak menjadi sebuah laboratorium manipulatif yang membentuk manusia sesuai dengan kepentingan sistem. Tanpa pemikiran kritis dan sikap reflektif, manusia hanya akan dipimpin tanpa pernah menyadari siapa yang memegang kendali seperti yang pernah dinyatakan oleh Edward Bernays dalam bukunya yang berjudul Propaganda Manipulasi Opini Masyarakat.

Media teknologi hanyalah sebuah alat bantu, bukan musuh manusia. Hal yang harus kita waspadai adalah ketika manusia berhenti menjadi pengendali media teknologi lalu berubah menjadi manusia yang reaktif tanpa menggunakan kesadaran dan pemikiran kritis. Padahal, awal mula diciptakannya sebuah media teknologi adalah untuk mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan. Namun, mengapa dengan adanya segala kemudahan malah membuat manusia merasa sensitif dan mudah tersulut emosi? Bisa jadi, bukan karena media teknologinya yang dipersalahkan, melainkan masih adanya kesalahan dari cara manusia dalam menyikapi media teknologi. Maka dari itu, saat kita menggunakan teknologi dan mengkonsumsi media, juga perlu berpikir kritis sebelum bereaksi.


Muchammad Syuhada’. Pemikir yang berjalan, bisa dijumpai di Warung Kopi.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Refleksi Digital Era Modern pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/refleksi-digital-era-modern/feed/ 0
Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/ https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/#respond Mon, 19 Jan 2026 03:50:45 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2617 Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna […]

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Pernahkah kita memaknai peristiwa Isra Mikraj sebagai peristiwa untuk bermuhasabah, peristiwa sosial, bahkan bisa saja sebagai peristiwa politik? Sebab Al-Qur’an itu universal. Terselip nilai-nilai yang Allah titipkan di sela-sela makna yang jarang dilihat orang dan tidak ada manusia yang bisa mendapati kebenaran makna itu secara utuh. Manusia hanya berusaha mendekati kebenaran Tuhan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.

Dengan itu, Allah membebaskan kita untuk mentadaburi Al-Qur’an. Mentadaburi tidak sama dengan menafsirkan. Mentadaburi adalah sebuah metode untuk merasakan Al-Qur’an dengan berbagai pemaknaan, selama output-nya adalah manfaat dan kebaikan.

Saya akan mentadaburi ayat populer tentang Isra Mikraj dengan pemaknaan yang tidak lazim, tetapi intinya semoga ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya akan mengkaji ayat 1 Surah Al-Isra dengan cara pandang politik di era sekarang.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Diperjalankannya Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tidak hanya peristiwa mukjizat, tetapi juga bisa kita maknai secara politik untuk era sekarang. Ada apa dengan pilihan Allah memperjalankan beliau dari Makkah ke Baitul Maqdis? Apa isyarat yang sebenarnya Allah selipkan selain mukjizat dan kebesaran-Nya?

Kita analogikan secara sederhana. Apabila kita melihat kondisi Masjidil Haram sekarang, apa yang terlihat? Kebahagiaan, kekhusyukan, keindahan, dan sifat-sifat baik lainnya. Situasinya sangat adem ayem karena kondisi politik negara Arab Saudi sangat stabil sama seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Kestabilan itu lahir dari budaya Islam konservatif dan mungkin karena sedang tidak memiliki masalah dengan “admin internasional” saat ini, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Hal itu dibuktikan dengan normalnya hubungan Arab Saudi dengan Israel.

Sumber: Kata Maiyah

Lanjut, kita beralih ke Masjidil Aqsa, dalam hal ini Palestina. Apa yang kita lihat di sana sekarang? Situasi carut-marut, kepedihan, kekejaman, dan keteraniayaan oleh aksi zionisme yang tiada henti. Islam di sana dituntut untuk radikal. Islamnya sudah tidak bernada adem ayem seperti di negara-negara dalam lingkup Masjidil Haram. Islam Palestina sudah bernada radikal demi menjaga hidupnya. Hal ini disebabkan karena Palestina sedang memiliki masalah dengan sekutu Amerika Serikat yang tak kunjung selesai. Hal itu sama dengan Iran dengan Hizbullahnya, serta Yaman dengan Houthi dan power-nya di Laut Merah.

Secara implisit, Allah menyebut dua monumen utama tersebut. Tadabur saya adalah Allah sedang menggambarkan bahwa dunia Islam akan terpecah haluannya. Islam Makkah dan Islam Aqsha sangat berbeda. Salah satu akibatnya adalah adanya tekanan politik dan pengaruh yang terjadi hingga sekarang. Lalu, mana yang benar jika dijadikan pandangan? Islam Al-Haram (Makkah) yang lebih toleran atau Islam Aqsa yang konfrontatif?

Allah berfirman bahwa Allah telah memberkahi sekelilingnya, antara Haram dan Aqsa. Semua berada dalam pelukan berkah-Nya. Semua benar dan memang Islam bergantung pada situasi yang terjadi. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam tindakan-tindakan negara-negara Timur Tengah yang seolah terbagi menjadi dua kubu: pro-Barat atau anti-Barat. Umat Islam di dunia seakan-akan diadu domba oleh Barat dan iming-imingnya pun sangat remeh, yaitu soal kekayaan dan pengaruh.

Maka dari itu, Allah memberkahi seluruh tindakan negara-negara Islam tersebut, asal Allah memberikan syarat yang sangat fundamental: linuriyahu min ayatina. Ada kebesaran Allah yang harus ditampakkan dan disadari dalam tindakan politik apapun. Tidak ada niat untuk mencelakakan antar umat dan negara Muslim. Sebab banyak negara Islam yang sudah menghilangkan Allah dari pusat berpikirnya, khususnya negara-negara Arab.

Sumber: Kata Maiyah

Jadi, di tengah gonjang-ganjing dunia internasional saat ini, umat Islam harus waspada agar tidak menjadi korban. Umat Islam menjadi sasaran bagi kaum orientalis yang menganggap bahwa umat Islam masih belum sempurna etikanya, dengan dalih demokratisasi. Namun nyatanya, kita justru dibentur-benturkan. Umat Islam Syiah dianggap bukan saudara seiman, aliran ini dianggap tidak benar, aliran itu dianggap salah, dan seterusnya.

Alhasil, makna Isra Mikraj dalam tadabur politik ini menunjukkan bahwa di tengah wacana Perang Dunia III, Islam sedang dalam alarm bahaya. Perkuat solidaritas antar umat Islam. Perkuat akal pikir kita agar tidak mudah diadu domba oleh narasi-narasi Barat. Dan jangan sampai Islam dijadikan korban perpolitikan dunia yang sangat kejam saat ini.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Membaca Isra Mikraj di Luar Langit: Sebuah Tadabur Politik Dunia pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/membaca-isra-mikraj-di-luar-langit-sebuah-tadabur-politik-dunia/feed/ 0
Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/ https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/#respond Wed, 14 Jan 2026 09:58:38 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2611 Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui […]

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Dalam tradisi Jawa, alam bukan sekadar objek yang diamati, tetapi teks hidup yang dibaca, ditafsirkan, dan dihormati. Ombak, angin, musim, bahkan gunung dan laut memiliki bahasa simbolik yang dipahami melalui laku, cerita, dan pengalaman kolektif. Sayangnya, cara membaca alam semacam ini hari ini kerap direduksi menjadi “sekadar mitos”, terutama ketika berhadapan dengan narasi sains modern yang lebih mengedepankan logika fisika dan positivisme Barat.

Mengambil contoh tentang narasi Nyi Roro Kidul. Dalam kacamata sains murni, kisah ini sering dianggap irasional atau tidak faktual. Namun, bagi masyarakat Jawa, Nyi Roro Kidul bukan semata figur mistis, melainkan simbol pengetahuan ekologis dan kosmologis. Ia merepresentasikan laut selatan yang berbahaya, tak mudah ditebak, dan menuntut sikap hormat. Larangan berpakaian hijau di pantai selatan misalnya, bisa dibaca bukan hanya sebagai mitos, tetapi sebagai mekanisme kultural untuk mengontrol perilaku manusia di ruang alam yang berisiko tinggi.

Penelitian antropologi dan etnoekologi menunjukkan bahwa banyak masyarakat tradisional menyimpan pengetahuan lingkungan berbasis simbol dan narasi. UNESCO bahkan mengakui traditional ecological knowledge sebagai bagian penting dari warisan budaya tak benda. Artinya, cara komunitas lokal membaca, merawat, dan bernegosiasi dengan alam bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi bentuk pengetahuan yang sah. Sejumlah kajian lingkungan juga menunjukkan bahwa wilayah yang dikelola masyarakat adat cenderung lebih lestari dibandingkan kawasan yang sepenuhnya dikelola secara modern. Ini membuktikan satu hal bahwa, meskipun tidak ditulis dalam rumus fisika atau grafik ilmiah, pengetahuan lokal punya logika ekologis yang bekerja dan relevan hingga hari ini.

Masalahnya, dalam sistem pendidikan dan diskursus publik kita hari ini, pengetahuan semacam ini sering dipinggirkan. Kita diajari untuk percaya bahwa validitas pengetahuan hanya sah jika lolos uji laboratorium. Akibatnya, narasi lokal dianggap inferior, kuno, atau bahkan menyesatkan. Ironisnya, banyak konsep sains modern mulai dari pengobatan herbal, astronomi, hingga manajemen lingkungan justru lahir dari pembacaan panjang peradaban-peradaban Timur, termasuk Nusantara, sebelum kemudian diformalkan oleh Barat.

Ketika Barat belajar dari Timur, itu disebut “riset”. Ketika Timur mempertahankan narasinya sendiri, ia disebut “mitos”. Di sinilah masalah kepercayaan diri budaya muncul. Kita perlahan kehilangan keberanian untuk membela pengetahuan bangsa sendiri karena takut dinilai “tidak ilmiah”. Padahal, yang sering luput disadari adalah bahwa mitos bukan lawan dari ilmu, melainkan cara lain dalam menyimpan dan mentransmisikan pengetahuan.

Narasi Jawa tidak menolak rasionalitas, ia hanya tidak memisahkan manusia dari alam. Gunung dianggap memiliki “watak”, laut punya “kehendak”, bukan karena orang Jawa tidak paham fisika, melainkan karena mereka sadar bahwa alam tak sepenuhnya bisa dikontrol. Dalam konteks krisis iklim hari ini, cara pandang semacam ini justru relevan: manusia perlu kembali rendah hati di hadapan alam.

Maka, menjaga cerita tentang Nyi Roro Kidul dan narasi-narasi Jawa lainnya bukan soal mempertahankan tahayul, melainkan merawat arsip pengetahuan kultural. Ia bisa hidup berdampingan dengan sains, saling mengisi, bukan saling meniadakan. Yang perlu kita lakukan bukan memilih salah satu, tetapi belajar menerjemahkan keduanya secara adil.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti malu pada cara kita sendiri membaca alam. Sebab pengetahuan yang bertahan ratusan tahun jelas bukan kebetulan; ia adalah hasil dari pengalaman panjang, yang disimpan dengan bahasa yang berbeda.


Saufa Rohmatun Nazila, lebih dikenal dengan nama pena Puan Aksa. Sebagai santri dan akademisi, Puan memiliki minat yang mendalam dalam dunia literasi, pendidikan, dan pemikiran Islam.

Narahubung Media:
Kontak Bangbang Wetan (0813-9118-2006)

Artikel Kita Diajari Malu pada Cara Kita Membaca Alam pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/kita-diajari-malu-pada-cara-kita-membaca-alam/feed/ 0
POROS PERJALANAN         https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/ https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/#respond Sat, 10 Jan 2026 02:57:18 +0000 https://bangbangwetan.org/?p=2594 Reportase Maiyah Bangbang Wetan Bulan Januari 2026 Bangbang Wetan setia menjadi ruang perjumpaan, di ujung jeda pergantian tahun, sebelum pekerjaan kembali menagih perhatian. Mendung juga ikut setia menaungi langit Surabaya, […]

Artikel POROS PERJALANAN         pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
Reportase Maiyah Bangbang Wetan Bulan Januari 2026

Bangbang Wetan setia menjadi ruang perjumpaan, di ujung jeda pergantian tahun, sebelum pekerjaan kembali menagih perhatian.

Mendung juga ikut setia menaungi langit Surabaya, mengaburkan arah cakrawala. Manusia di bawahnya kerap tak jauh berbeda. Hidup berlanjut, meski kepastian arah tak kunjung tiba.

Jama’ah datang meramaikan pendopo Taman Budaya Cak Durasim, saling bertegur sapa, duduk berdempetan, berbagi hangat dari sajian yang mereka bawa masing-masing. Kehadiran semacam ini tak selalu mudah dijumpai.

Tata Langkah 

Para Pegiat bergerak menyiapkan acara. Menggelar tikar, memasang banner, serta mengecek volume pengeras suara dan kecukupan pencahayaan menjadi bagian dari persiapan rutin.

Pukul delapan malam, nderes dilantunkan. Duo santri, Mas Wildan dan Mas Jembar, mengantarkan bacaan pembuka dengan tartil yang terjaga. Jamaah menyimak dengan khidmat.

Selepas nderes, bacaan tawasul didengungkan. Diawali dengan istighfar dan syahadat, sebelum doa dilangitkan. Sholawat dan salam pun dipanjatkan. “Allahumma sholli alaih,” seru jamaah.

Rangkaian doa dimulai dengan menghadiahkan Al-Fatihah, ditujukan kepada Rasulullah, para nabi, para auliya’, Mbah Nun beserta keluarga besar Maiyah. Pujian dan doa dihantarkan bersama, suara jama’ah menyebar di sekeliling pendopo Cak Durasim.

Doa ditinggikan, sebelum mengisi ruang perjumpaan. Hening doa pun berganti dengan percakapan.

Moderator mengawali perbincangan dengan ucap syukur, lalu menyapa jama’ah. Jama’ah hadir dari Surabaya, Lamongan, hingga Kudus. Sejumlah jama’ah dipersilakan berbagi cerita dan kegelisahan, menghidupkan dialog sejak awal.

Mas Yusuf mengisahkan kunjungan pertamanya ke Surabaya. Ia menyebut perjalanan itu istimewa. “Saya percaya, sampai di sini karena diperjalankan Allah,” ujarnya sambil tersenyum. Ia mengapresiasi keguyuban Maiyah dan mengaku, ke mana pun ia bertugas dinas luar kota, kehangatan jama’ah Maiyah selalu menyambutnya.

Bagi Mas Yusuf, bahtera bukan hanya soal negara yang sedang diuji, tetapi juga diri masing-masing, tentang siapa yang memegang kemudi, dan ke mana arah hidup dijalankan.

Perbincangan berlanjut, Mas Irfa’i mengajak jama’ah membayangkan betapa rumitnya membangun bahtera Nabi Nuh,  terlebih dengan mengandalkan teknologi pada masa lampau.

Diskusi kemudian diarahkan kembali pada kisah bahtera Nabi Nuh yang dibangun atas mandat Tuhan, bukan dorongan nafsu pribadi. Ia menyandingkannya dengan bahtera negara, yang semestinya juga dirancang dan dijalankan atas amanat Ilahi, dengan tujuan utama mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan bersama, bukan kepentingan segelintir orang.

Di sisi panggung, Mas Arul tampak bersiap. Gitar warna-warni, ia bopong ke dada, kaos sederhana dan ikat kepala melengkapi kostumnya. Jari-jarinya lirih memetik senar. Lagu ciptaannya, Demi Kehidupan, mengalun khidmat.
“Bumi, air, udara, dan tumbuhan adalah sahabat kita semua. Rawat dan jagalah sepanjang masa, demi kehidupan kita…”
Siulan jamaah kompak menyertai, dududu,dudu,,

Tak berhenti pada lagu, Mas Arul diajak berbagi cerita. Senyum tipis melintas di wajahnya. Wejangan Mbah Nun tentang hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Maluku, hingga Papua yang kian menipis, belakangan sering terlintas di pikirannya.

Ia lalu bercerita pengalaman mendaki Gunung Penanggungan bersama anaknya. Dengan lugunya, sang anak nyeletuk, “Kenapa hutan isinya pohon semua, yah?” Mas Arul terdiam, jawabannya tertahan, kalau pohon-pohon berkurang, yang terancam bukan cuma alam, tapi juga jiwa manusia.

Kegelisahan pun meluber ke ruang lebih luas. Surabaya mungkin masih terasa aman hari ini. Namun banjir di berbagai daerah yang saling terhubung mengundang pertanyaan, sejauh mana dampaknya bisa menjalar ke Kota Pahlawan.

Mas Arul menutup dengan ajakan merawat alam, sambil mempopulerkan istilah dulkelas (dulinan keliling alas). Hemat beliau, banyak manfaat alam yang bisa dijelajahi. “Seperti tanaman jelatang yang sering ditemui di gunung, rasanya panas di kulit, tapi justru ampuh buat obat nyeri,” tuturnya.

Perwakilan jama’ah dipersilakan kembali. Cendera mata berupa buku dibagi, senyum simpul pun menghiasi.

Pelabuhan Makna

Menginjak pukul sembilan malam. Moderator merangkum sekilas gagasan yang telah disampaikan jama’ah, sebelum mempersilakan Lek Hammad, Mas Amin Tarjo, Mas Tridjoyo, dan Gus Binnur memantik ruang diskusi. Lagu perjalanan hidup manusia, menemani langkah kehadiran mereka.

Mas Tridjoyo membuka perbincangan. Beliau memulai dari fondasi wahyu, bahwa perintah membangun bahtera merupakan mandat Ilahi yang tidak lahir dari kehendak pribadi, melainkan dari kehendak Tuhan untuk menjaga kehidupan. Sesekali tangannya terangkat, memberi penekanan.

Menyambung kisah bahtera, Mas Tridjoyo menegaskan makna istiqamah. Ia mengutip hadis tentang umat yang kelak berjumlah besar, namun laksana buih di lautan—banyak, tetapi mudah terombang-ambing dan kehilangan arah. Jama’ah mengangguk pelan.

Ia kemudian mengajak jama’ah menoleh pada rujukan Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 14, yang menggambarkan kecenderungan manusia pada kesenangan duniawi; pasangan, anak-anak, harta yang menumpuk, serta kenikmatan hidup lainnya. “Di titik inilah,” ujarnya sambil menatap jama’ah, “istiqamah diuji.”

Rujukan selanjutnya diarahkan pada Surah Hud ayat 29, “Wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepadamu sebagai upah. Upahku hanyalah dari Allah…” sebuah pernyataan Nabi Nuh kepada kaumnya tentang dakwah yang tidak berorientasi pada kepentingan materi.

Teladan Nabi Nuh kemudian disandingkan dengan sosok Mbah Nun, yang sejatinya memiliki banyak peluang untuk hidup bergelimang harta dan menaikkan status sosialnya, namun memilih jalan lain. Ia menjaga keteguhan dalam mengajak cinta kepada Allah dan kebenaran, tetap berjalan meski ditengah banyaknya godaan; sebuah kepemimpinan yang mengupayakan kemaslahatan tanpa menunggu balasan. “Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ada manfaatnya,” tutup Mas Tridjoyo.

Mas Amin menimpali dengan nada gumun. “Coba bayangno rek,” ujarnya sambil tersenyum, “disuruh bikin kapal, lah airnya saja belum kelihatan. Itu kalau gak kekuatan iman dan keteguhan akan rahmat dan pertolongan Allah, mustahil terwujud.” Jama’ah pun terkekeh.

Dari peristiwa besar, pertolongan Allah kerap hadir dalam keseharian. Motor mogok saat banjir ada yang menolong, hidup lagi capek-capeknya tiba-tiba disapa orang yang menguatkan. Mas Amin berhenti bicara sejenak, nadanya sedikit melunak. Beliau berbagi kisahnya saat berada di titik ingin menyerah, tenaga menipis, pikiran buntu, dan keberlanjutan rutinan Bangbang Wetan terasa berat untuk dilanjutkan.

Namun, di saat-saat seperti itu, pertolongan datang dengan cara yang tak disangka. Ia disapa jama’ah di tempat umum, ditanya kapan rutinan kembali digelar, disemangati dengan kalimat sederhana yang justru menegakkan langkah. “Di situ saya sadar,” ujarnya ringan, “kalau ini bukan urusan saya sendiri, melainkan urusan kemaslahatan bersama.” Senyum beliau pun mengembang, disambut celetukan jama’ah yang turut menguatkan.

Moderator kembali menegaskan makna pertolongan Allah dalam segala kondisi. Dengan nada spontan, ia melempar pertanyaan ke jama’ah, “Apakah sudah berputus asa melihat kondisi negara saat ini? “Putus asa!” jawab jama’ah serempak. Tawa pun pecah membahana.

Celetukan jama’ah segera ditimpali dengan senyum, “Tidak apa-apa putus asa pada kondisi negara, asal jangan pernah putus asa pada pertolongan Allah SWT.” Jama’ah mengamini dengan penuh kelegaan, Aamiin Allahumma Aamiin.

Suasana pun bergeser, ruang diskusi membuka lapisan berikutnya. Gus Binnur maju, sosok yang tak asing bagi sebagian jama’ah lama Bangbang Wetan, rutin mengikuti forum ini sekitar 2015-an. Ia menyapa jama’ah dengan bahasa Jowoan. “Sehat rek?” tanyanya. “Sehat,” sahut jama’ah. “Indonesia sehat?” lanjutnya. “Dianggap sehat”, disambut tawa kecil.

Ia lalu bercerita soal undangan sinau bareng yang diterimanya beberapa hari sebelumnya, sebelum masuk ke kisah dakwah Nabi Nuh. “Iki Nabi luar biasa,” ujarnya, “ngajak-ngajak kebaikan iso nganti 950 tahun.” Jama’ah manggut-manggut.

Gus Binnur mengajak jama’ah membayangkan posisi Nabi Nuh. “Coba sekarang,” katanya sambil tersenyum, “onok wong ngaku nabi neng kampung panjenengan, kira-kira dipercaya apa malah diuncali sandal?” Jama’ah tertawa.

“Nah, di situlah beratnya,” lanjutnya. Perintah Tuhan, lanjutnya, tidak selalu datang bersama karpet merah. Justru ujian kerap menyertai ketaatan.

Gus Binnur kemudian menurunkan kisah itu menjadi hikmah. Maiyah, tegasnya, tidak diukur dari banyaknya jama’ah yang hadir, melainkan dari kesetiaan untuk terus berjalan. Dalam sejumlah riwayat, pengikut Nabi Nuh disebut hanya sekitar delapan puluh orang. Bukti bahwa kebenaran bisa tumbuh dalam lingkaran kecil yang terjaga, bukan dalam kerumunan besar yang rapuh.

Bahtera Nabi Nuh, lanjutnya, bukan sekadar alat penyelamat dari banjir, melainkan ruang aman untuk merawat kehidupan. Di sanalah kesabaran diuji, dari bagaimana manusia belajar berbagi ruang, hewan dijaga keberlangsungannya, dan sumber daya diolah secukupnya selama perjalanan panjang mengarungi bahtera.

Maiyah Bangbang Wetan pun demikian, bahtera sederhana yang diupayakan tetap berlayar dengan niat lurus. Selama arah dijaga dan langkah ditata, jumlah bukan perkara utama. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa di dalamnya, manusia tidak saling menenggelamkan, dan perjalanan tetap menghadirkan makna. “Makna telah menjelma barang mahal dewasa ini”, tegas Gus Binnur.

Gus Binnur menutup dengan refleksi kepemimpinan Setiap orang, tegasnya, adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Dalam ruang sosial, memilih pemimpin adalah keniscayaan; namun menilai nurani menjadi perkara sulit jika pilihan masih dituntun oleh nafsu.

Dengan sedikit berkelakar, mengajak jama’ah pada laku maritim: mari ikuti Muhammad SAW. Meneladani Rasul berarti berpasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, mendahului istikharah, lalu berikhtiar sekuat tenaga. Menghindari keburukan sebisanya, dan bila harus memilih di antara keterbatasan, memilih yang paling mungkin meneruskan hikmah kebaikan.

Lagu kembali mengisi ruang. Sajak Padhang Mbulan karya Mbah Nun dilantunkan—sebuah permintaan yang datang tepat sebelum acara dimulai.
Cahaya kasih sayang menaburi malam. Hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan. Alam raya, cakrawala, sedang bersembahyang… Ouuoo…

Muara Keberagaman

Makna mengendap perlahan. Pandangan beralih pada Lek Hammad. Beliau mengapresiasi kekayaan makna gagasan yang telah hadir; dari Gus, ustadz, hingga seniman. Beragam latar itu, menurutnya, semakin memperkaya ruang perjumpaan, tempat makna tumbuh dari banyak arah.

Kisah Nabi Nuh kembali diulas dengan lontaran pertanyaan, “Apa alasan besar kisah Nabi Nuh diceritakan dalam Al-Qur’an? Pasti ada hikmah besar terkandung di dalamnya,” ujar Lek Hammad.

Suara Lek Hammad menurun pelan, dengan pitutur ngemong , “kalau bahtera itu kita ibaratkan negara, jangan buru-buru tanya kapalnya mau ke mana. Sing luwih penting, Gusti Allah iki isih diajak bareng apa ora.”

Pelajaran pertama, ma’a, menjalin kebersamaan dengan Allah. Kalau sejak awal perjalanan tidak bareng Gusti Allah, arah bisa salah, keputusan bisa tergelincir. Maka jangan heran kalau orang bisa duduk berdekatan, tapi hatinya ke mana-mana. Di kapal yang sama, belum tentu tujuannya sama.

Pelajaran lain bermunculan. Mengapa makhluk hidup diselamatkan berpasang-pasangan, jantan dan betina? “Lha iki tandane,” katanya lirih, “urip iku ora mung kanggo saiki.” Ada tanggung jawab pada kelanjutan generasi.

Kemudian ia menyentuh bentuk bahtera yang berlapis-lapis. “Ora kabeh disimpen sak panggonan,” begitu kira-kira pesannya. Setiap lapisan punya fungsi. Dari situ ia menuntun pada pelajaran ketiga, yaitu, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saat bicara soal pemimpin, nada pitutur itu makin pelan. Lek Hammad mengutip wejangan Mbah Nun tentang pemimpin yang takut kelaparan. “Yen pemimpine wae wedi ora mangan,” ujarnya halus, “awakmu arep nitipke uripmu nang sopo?” Maka jangan hanya menggantungkan harapan di luar. Sing paling aman, kata Lek Hammad, bangun bahteramu sendiri dulu, di dalam hati. Nurani dijaga, keadilan ditimbang, kebajikan dilakoni setahap demi setahap.

Suara Bahtera

Sesi tanya jawab pun dibuka.
Mas Robbi angkat tangan lebih dulu. “Kalau saya menangkapnya,” ujarnya, “Nabi Nuh itu pemimpin visioner. Bayangkan—disuruh membangun bahtera di tengah padang pasir.” Jama’ah mengangguk. “Secara nalar saja sudah aneh,” lanjutnya sambil tersenyum, “tapi justru di situ ketaatan dan keistiqamahan diuji.”
Moderator menimpali ringan, “Ibarat disuruh beli payung pas matahari terik, ya?” Tawa kecil menyambut.

Mas Sangrila kemudian masuk dengan rentetan pertanyaan. “Saya ingin menariknya ke first principles thinking,” katanya, “istilah yang dipopulerkan Elon Musk, juga pernah disinggung Mas Sabrang.” Ia berhenti sejenak, menatap jama’ah. “Kenapa Nabi Nuh yang dipilih, bukan nabi lain, pada titik kehancuran total peradaban?”
Beberapa jama’ah saling pandang. Mas Adi melanjutkan, “Lalu pertanyaan yang lebih dekat, Indonesia hari ini, apa memungkinkan diselamatkan?” Suasana hening sesaat.
“Menurut saya,” sambungnya, “tujuan agama bukan semata menyelamatkan manusia, tapi menjaga kebenaran. Dan kebenaran tidak selalu mau berkompromi dengan mayoritas.” Ia menyinggung bencana yang datang silih berganti. “Pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar mengubah kita? Waktu adalah alat uji yang objektif, atau jangan-jangan kita masih merasa waktunya belum cukup?”

Ia menutup dengan lugasnya. “Kegagalan Nabi Nuh dalam mengasuh anaknya bukan aib,” katanya. “Itu kejujuran sistem, bahwa ikhtiar manusia ada batasnya.” Jama’ah mengangguk pelan.

Mas Tridjoyo menyahut. “Apa pun yang terjadi,” katanya, “asal kesadarannya bukan slamet dewe, tapi slamet bareng-bareng, fondasinya satu, yaitu cinta.”
Ia tersenyum, “Semua nabi merawat umatnya dengan cinta. Ngurus tumbuhan, hewan, apalagi manusia—tanpa cinta, yo angel.” Jama’ah terkekeh.
“Allah tidak menghukum nabi karena pengikutnya sedikit,” lanjutnya, “yang diperingatkan itu kalau putus asa dari pertolongan-Nya. Nah, di situ pelajarannya.”

Moderator menambahkan, “Bahtera Nabi Nuh juga tidak berlayar di air tenang.”
Mas Tridjoyo mengangguk. “Iya, terombang-ambing. Seperti perasaan banyak orang hari ini berada di bahtera negara, antara harapan dan kebobrokan.” Ia menunduk sejenak. “Doanya sederhana: Robbi anzilni—Ya Allah, turunkan kami di tempat yang selamat.”
“Kalau nabi saja diuji sedemikian rupa,” sahut moderator, “apalagi kita.” Tawa kecil kembali terdengar.

Lagu mengalun, menenangkan permenungan.
“Nak, janganlah seperti Bapak yang susah mewujudkan mimpinya. Jagalah cinta, sebarkan dengan nurani—jiwa yang meneduhkan semesta.”

Usai lagu, Gus Binnur angkat bicara. “Masalah kita sekarang ini,” katanya, “degradasi ketuhanan jalan bareng degradasi moral.”
Ia menatap jama’ah. “Maiyah itu majelis kemurnian. Bukan kanggo kepentingan pribadi.”

“Majelis seperti ini,” lanjutnya, “dinikmati wae. Mikir bareng, rembugan bareng, sinau bareng.”
Ia lalu menyinggung sejarah Maiyah, dari Balai Pemuda hingga berbagai ruang lain. “Isine macem-macem. Tujuane siji, mung golek manfaat.”
“Kalau Mbah Nun membangun Maiyah dengan segitiga cinta—Allah, Rasul, dan sesama makhluk—insyaAllah langgeng.”

Menjelang penutup, Gus Binnur menurunkan suaranya. “Bahtera Nuh itu perjalanan spiritual masing-masing.”
Pertanyaannya sederhana, “Allah wis diajak durung saben langkah? Rasul wis dijadikan teladan durung? Sinau bareng boleh ngalor-ngidul,” ia tersenyum, “tapi muarane yo ilmu.”

Setiap ilmu yang diserap dan setiap laku yang ditempuh tidak pernah sia-sia. Ia terus berjalan, diuji oleh waktu, hingga akhirnya menemukan muara manfaatnya, sering kali tidak segera, namun selalu tepat saat dibutuhkan.

Catatan Arah

Gus Binnur menutup dengan pitutur. “Jangan cepat puas pada satu sumber. Tetep luwe ilmu.”
“Hidup ojo mandek,” katanya. “Ngono wae, pelan-pelan. Kita benahi bareng, nganggo andhap asor lan tawakal.” Diikuti anggukan dan senyum jama’ah.

Dengan luwes, Lek Hammad menyelipkan celetukan dalam wejangan.
Ndasku mumet, ndasmu piye… yo ojo saling nambah mumet…

Beliau membiarkan air menjadi pengajar kehidupan. Air mengajarkan cara berjalan dalam hidup. Ia mengalir tanpa banyak bicara, namun selalu sampai. Ia tahu kapan harus lembut, kapan mencari celah, dan kapan menggenang untuk memberi kehidupan. Air tidak memilih wadah, tidak menuntut bentuk. Ia menerima lalu menyesuaikan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai air.

Karena itu, jadilah penikmat sekaligus bos bagi diri sendiri, seperti air yang menyegarkan namun tahu arah alirannya. Ma’a, kebersamaan dengan Allah, dijalani dengan melakukan kebaikan sekecil apa pun secara terus-menerus, sesuai kemampuan. Air tidak memaksa menjadi sungai besar, ia setia pada tetesannya. Setiap orang pun memiliki takaran masing-masing; tenaga, ilmu, waktu, atau apa pun yang dapat menghidupkan sekitar.

Air memberi tanpa menghitung siapa yang akan membalas. Ia menyirami tanah, menguatkan akar, dan tetap mengalir meski tak pernah disebut namanya. “Memelihara segala sesuatu tanpa menuntut balasan, itulah hakikat kebajikan. Seperti air, cukup setia mengalir, dan biarkan kehidupan yang tumbuh menjawabnya,” pungkas Lek Hammad.

Indal qiyam dikumandangkan, menandai kepulangan. Langkah kaki jama’ah terseret, sebagian masih menikmati rembulan. Semuanya berjalan, masing-masing ke arah yang mereka yakini.


Redaksi Maiyah Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Artikel POROS PERJALANAN         pertama kali tampil pada Bangbang Wetan.

]]>
https://bangbangwetan.org/poros-perjalanan/feed/ 0