Hidupku dalam Kegelapan – Kemlagen Edisi 01

Oleh : Samsul Huda (Abi Syam)

 

Surat Luqman (31) Ayat 34

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌࣖ 

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Sejengkal ke depan, kita tidak bisa mengetahui apa yang akan kita pikirkan, lakukan, atau dapatkan. Bahkan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Semuanya masih menjadi misteri.

Hari itu, seperti biasa selama pandemi COVID, setelah mengimami jamaah Sholat Subuh di musholla, saya pulang. Saya membuat kopi dan menikmatinya sendirian sambil membaca Al-Qur’an secara nazron (melihat langsung Al-Qur’an). Setelah itu, saya pergi ke sawah untuk merawat tanaman padi. Sebagai petani yang tinggal di desa, itulah rutinitas saya. Sekitar pukul 08.00 WIB saya pulang, sarapan, mandi, dan melaksanakan sholat Dhuha. Kemudian, istri meminta diantar untuk suatu urusan. Karena dia tidak bisa mengendarai sepeda motor, saya yang harus mengantar ke mana-mana. Sekalian saya berniat untuk menghilangkan penat dan kesepian karena ketiga anak saya mondok di PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo, Kediri.

Sekitar pukul 10.00 WIB sambil menemani istri, saya membuka WhatsApp. Ternyata ada pesan dari Abah Slamet, Jamaah Maiyah Sidoarjo, yang mengundang saya untuk mengikuti ritinan bulanan sinau bareng simpul Maiyah Bangbang Wetan (BBW) Surabaya. Jadwalnya hari itu, pukul 12.00 WIB. Meskipun sempat bingung karena mendadak dan harus menyesuaikan jadwal saya, akhirnya saya memutuskan untuk hadir.

Sekitar pukul 13.30 WIB, saya tiba di tempat acara. Acara sudah dimulai dengan tadarus Al-Qur’an nazron. Saya merasa seolah kembali ke tahun 2006-2007, masa-masa awal berdirinya BBW, ketika saya beberapa kali hadir dan ikut memulai tadarus Al-Qur’an nazron. Perasaan itu mengingatkan saya pada pengajian rutin Padhang mBulan di Menturo Jombang yang juga dimulai dengan tadarus Al-Qur’an. Setelah tadarus, biasanya dilanjutkan dengan wirid Maiyah, sholawat, dan sinau bareng hingga sekitar pukul 03.00 WIB.

Sambil mengenang masa lalu, sesuai “jatah” saya, saya melantunkan QS Muhammad. Pemaparan tema dan diskusi dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dengan Cak Amin sebagai pemandu acara. Sinau bareng BBW kali ini dilakukan siang hari untuk mengikuti aturan pemerintah terkait PPKM. Oleh karena itu, acara tidak disiarkan secara langsung, tetapi disiarkan ulang. Narasumber utama adalah Cak Suko, Dosen Unair Surabaya, dan Mas Karim dari Belanda. Keduanya bergabung melalui aplikasi e-meeting. Sayangnya, Gus Sabrang tidak dapat membersamai.

Yang saya dapatkan sebagai hikmah dari sinau bareng tersebut adalah ungkapan terakhir dari Mas Karim yang mengatakan bahwa kita patut bersyukur memiliki “Kebun” dalam bentuk serial tulisan Si Mbah. Kita bisa menanamnya, berteduh di bawahnya, menikmatinya, dan mengambil hikmah serta manfaatnya kapan saja. Seperti halnya Si Mbah (Mbah Nun) yang terus menulis dalam seri “Kebon.” Saat saya menulis ini, serial Kebon telah mencapai 66 episode, memberikan energi dan inspirasi bagi saya, hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat tulisan berseri.

Acara BBW berakhir sekitar pukul 17.00 WIB, tepat ketika hujan turun dengan penuh berkah. Hujan itu pula yang menemani perjalanan saya dari MI Tarbiyatus Syarifah, gedung 2 Pekarungan, Sidoarjo hingga ke Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kembangbelor, Pacet, Mojokerto.

Semua ini terjadi karena Dia yang mengatur segalanya. Masa depan saya itu gelap. Bahkan, detik demi detik yang akan datang terasa gelap gulita. “Jalani gelapnya masa depanmu dengan iman dan yakin,” begitu pesan Si Mbah Ainun Nadjib.

Samsul Huda, santri Aba Yai Arif Hasan, Aba Yai Zainul Arifin Arif dan Aba Yai Irfan Arif di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto, Simbah Ainun Nadjib dan Simbah Fuad Efendy di Pesantren Maiyah PadhangmBulan, Mentoro-Sumobito-Jombang dan Aba Yai Asep Saifuddin Chalim di PP Amanatul Ummah, Kembangbelor-Pacet-Mojokerto. Ia bisa ditemui di kediamannya. Dsn. Rejoso Ds. Payungrejo Kec. Kutorejo Kab. Mojokerto. WA: 081360646008. FB: Samsul Huda. Ig: samsuhuda.ummu

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top