Reportase Bangbangwetan Bulan Juni 2025
“Mungkin kita belum setenang yang terlihat. Mungkin kita cuma belajar pura-pura dewasa.”
—Catatan Markesot
Kadang kita merasa sudah dewasa karena bisa mengalah, diam, atau menahan marah saat dicibir tetangga. Tetapi ketika malam datang, kegelisahan muncul tanpa diundang.
Pada malam Jumat, 12 Juni, di Stikosa-AWS, BangbangWetan mengajak kita membuka “kado” bernama Maturitas Markesot. Hadiah yang tak selalu tumbuh bersama pertumbuhan usia.

Kertas Kado
Jamaah mulai berdatangan. Beberapa duduk bersila di atas tikar. Pak Soni, pedagang kopi keliling, lalu-lalang membawa nampan dan termos kecil. Di belakang panggung, para penggiat menyiapkan kejutan kado ulang tahun ke-46 untuk Mas Sabrang. Sudah hampir lewat masa “bapak-bapak”, ya?
Majelis dibuka dengan tilawah dan tawashulan diikuti pembacaan tema oleh Mbak Ifa dan Mas Jembar. Bagi Mbak Ifa, kedewasaan tak diukur dari siapa yang paling tahu, tapi dari siapa yang mampu ikut menumbuhkan orang lain. Mas Jembar menambahkan, kedewasaan adalah kemampuan menyesuaikan diri. Seperti air, ia menyesuaikan dengan wadahnya. “Mungkin menjadi dewasa adalah proses yang tak pernah selesai,” tutupnya. “Dan bukankah itu… anugerah paling manusiawi?”

Mas Jembar lalu menyinggung sosok Mbah Nun yang selalu bijak menempatkan diri serta menyesuaikan laku dan tutur dengan siapa pun lawan bicaranya. Seperti air yang mengikuti wadahnya.
Sebelum forum berlanjut puisi dari Mas Andik menjadi selingan hiburan. Puisi tersebut bercerita tentang alam yang disayat tambang di Raja Ampat. Puisi dibacakan tanpa musik pengiring, hanya renungan tentang ambisi manusia.
Kemudian, kelompok Patrol Manukan tampil membawakan “Padhang Mbulan” dengan tabuhan kentongan, zimbe, dan tong air. Putih seragam mereka menyala dalam temaram. Nada-nada itu merambat pelan.
Usai pertunjukan, moderator pun naik ke panggung, mengajak jamaah masuk ke ruang diskusi.
Menimbang Kedewasaan
Moderator membuka sesi dengan analogi ringan, “Pernah lihat tahu bulat? Matang di luar, tapi dalamnya masih mentah. Jangan-jangan begitu juga kedewasaan kita.” Jamaah pun terkekeh.
Moderator mengundang narasumber untuk hadir, Mas Totenk dan Ustadz Zayn. Mas Totenk memperkenalkan komunitas Cakrawala Kata yang merupakan ruang literasi dan seni. Ustadz Zayn mewakili Better Youth Foundation, komunitas sosial keagamaan yang menyentuh isu-isu nilai dan pendidikan.

Ustadz Zayn mengurai makna maturitas dari sisi paling dasar. “Kedewasaan bukan urusan usia,” ujarnya. “Banyak orang menua, tapi tidak pernah betul-betul tumbuh.” Beliau menyinggung konsep akil baligh. Baligh adalah fisik, sementara akil adalah kesiapan jiwa.
Beliau menyoroti faktor keluarga sebagai benih utama pembelajaran dalam membentuk kedewasaan. Masalah seperti fatherless—ketiadaan figur ayah—membuat banyak anak tumbuh tanpa pandu. Lalu mencari pelampiasan secara acak melalui lingkungan, media sosial, atau siapa pun yang tampil dominan. Hasilnya, kedewasaan mereka dibentuk secara serampangan—bisa baik, bisa juga malah menyesatkan.
Ustadz Zain menilai Markesot adalah tokoh yang menjalani agama, tanpa merasa perlu menonjolkan kesalehan. Yang berbuat baik tanpa butuh tepuk tangan. Yang menyampaikan kebenaran tanpa merasa paling benar.
Menurutnya, itulah wujud iman yang matang. Iman yang diam-diam tumbuh, tanpa perlu dipamerkan. Kita seakan ditampakkan jejak Markesot—yang berjalan tenang, tanpa sorak, tapi selalu menuju kebenaran yang jernih.
Mas Totenk melanjutkan dengan menyebut Markesot sebagai tokoh fiksi yang diciptakan Mbah Nun. Tokoh fiksi yang justru dipakai untuk bicara soal kenyataan hidup. Beliau menyandingkan dengan tokoh filsafat: Diogenes. Diogenes mengajarkan hidup sederhana, tanpa basa-basi budaya. Makan hanya untuk kenyang, tidur tanpa harus punya baju tidur. Ia menerapkan kesederhanaan yang membebaskan.
Menurutnya, Markesot adalah sosok yang telah “selesai”. Ia tidak lagi sibuk mengoleksi apa-apa—bukan gelar, bukan pengaruh, bahkan bukan kebenaran untuk dibenarkan.
Justru karena tidak melekat pada apa pun, Markesot bisa hadir dengan utuh dalam tiap pilihan hidupnya: saat bertutur, bersikap, maupun menghadapi kekacauan. Mungkin inilah yang membuat Markesot tetap relevan di tiap zaman: ia tidak menempel pada bentuk, tapi melekat pada kejujuran hidup.
Pertanyaannya kemudian: bila kita ingin bercermin pada Markesot, sudahkah kita menata diri dalam setiap keputusan yang kita buat? Ataukah, arah hidup kita masih dituliskan oleh tangan orang lain—oleh tradisi keluarga, tekanan sosial, atau sekadar algoritma yang tak pernah tidur? Barangkali, inilah pembeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Yang satu menumpuk usia, yang lain merawat kesadaran.

Di tengah aliran tanya yang belum rampung itu, bunyi alat musik tiup tradisional rancak terdengar, membawakan sholawat Ya Hanana. Berlanjut pada pembawaan lagu akustik oleh Mas Jun: “Aku Tenang” serta “Mangu”.
Suasana hangat sekaligus rancak, saling berkelindan. Tepat saat itulah, Mas Sabrang hadir, bersama Mas Seno, Pak Jokhanan, dan Pak Suko untuk turut membersamai diskusi.
Ulang Tahun Kesadaran
Pak Jokhanan memberi sambutan dengan berterima kasih karena Stikosa kembali jadi tempat diselenggarakannya BangbangWetan.
Mas Sabrang memulai obrolan malam itu dengan membahas dua dunia: dunia kecil seperti keluarga, dan dunia besar yang lebih luas—komunitas, masyarakat, bahkan peradaban. Menurutnya, tanda seseorang dewasa adalah ketika ia siap beranjak dari dunia kecil menuju dunia besar.

Namun, lanjutnya, hari ini banyak manusia sulit dibangunkan dari tidur panjang kesadarannya. Sering kali, orang memilih untuk tidak hidup di dunia nyata, tapi tenggelam dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Sibuk meramu impian & harapan yang tak berpijak pada kenyataan.
“Apakah saya ingin menafikan harapan? Tidak,” tegas Mas Sabrang. “Saya hanya mengajak kita lebih sadar akan realitas. Optimisme itu boleh, tapi jangan sampai membutakan kita dari fakta—bahwa jalan yang kita lalui mungkin gelap.”
Ini bukan tentang memilih antara optimis atau pesimis, tapi soal menyadari keadaan—dirimu dan sekitarmu—dengan jernih. Mas Sabrang mengajak kita merenung lebih dalam: “Pertanyaannya adalah: seberapa jernih kita bisa memahami kenyataan? Mampukah kita mempersepsi sesuatu sebagaimana adanya—bukan sebagaimana kita ingin melihatnya?”
Di situlah letak kesadaran. Bukan di kepala yang penuh asumsi atau di hati yang tidak tergesa menilai. Kesadaran adalah ketersediaan menyambut kenyataan tanpa prasangka dan menyimak orang lain tanpa prasangka buruk.
Dan ketika kesadaran itu tumbuh, kita pun mulai menyadari: tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Semua pilihan mengandung risiko. Setiap langkah selalu terbuka pada kemungkinan salah. Tetapi justru karena itu, kesadaran menjadi penting—agar kita tidak asal bertindak, tidak reaktif, tidak tergoda jalan pintas.
“Maka tugas kita,” lanjut Mas Sabrang, “adalah terus menantang diri untuk meningkatkan kualitas kesadaran. Dengan mengambil pelajaran dari hal-hal kecil sehari-hari—seperti saat kamu ingin marah, tapi memilih diam. Saat kamu kecewa, tapi menolak menyalahkan. Atau saat kamu sadar: tidak semua orang harus paham kamu, dan kamu pun tak perlu memahami segalanya hari ini. Itulah latihan kecil untuk menumbuhkan kesadaran.”
Beliau memberi sedikit kutipan “Kemarin aku pintar, ingin mengubah dunia. Hari ini aku ingin mengubah diriku sendiri.”
Suasana hening sesaat setelah Mas Sabrang bicara. Tak ada yang buru-buru menanggapi. Sampai akhirnya, Mas Seno membuka suara, menambah satu lapis makna. “Kedewasaan tertinggi, menurut saya, tampak di sini, yaitu saat kita bisa menerima pendapat dan saling mendengarkan. Di tempat lain, banyak orang berebut bicara. Tapi di sini, guru dan murid bisa saling tukar posisi. Mendengarkan bukan sekadar sopan santun, tapi jalan menuju pemahaman yang lebih jernih. Mendengarkan adalah kemewahan hari ini.”

Lalu ia menutup, “Ijinkan saya malam ini, hanya duduk diam & mendengarkan forum.”
Pak Suko menyentil ringan, “Diam itu emas? Iku biyen. Lek saiki, diidak wong.” Beberapa jamaah tersenyum kecut
Mas Sabrang lalu berkelakar, “Saya bangga dan lega, sebab Mas Seno menandai keberhasilan Maiyah sebagai ruang bertumbuh. Dan semoga tetap seperti ini.”
Kado dari Jamaah
Kedewasaan dari Perspektif Personal & Keterbatasan
Dari arah jamaah, tanggapan mulai berdatangan. Mas Arul membuka dengan kesaksian personal: bahwa keterbatasan justru bisa menjadi jalan menuju kedewasaan. “Punya uang atau tidak, rasanya sama saja,” ujarnya. “Karena yang membedakan bukan jumlahnya, tapi cara kita menerimanya.”
Mas Ir’fai menimpali dari sisi yang lebih luas. Ia bicara soal kesadaran kolektif: bahwa maturitas bukan hanya soal kita sebagai individu, tapi tentang keberanian untuk membuka ruang bersama.
Pertanyaan Eksistensial & Makna ‘Cukup’
Lalu terdengar suara Mbak Sesil, pelan tapi tajam, “Apakah dewasa berarti harus berhenti punya keinginan?” tanyanya. “Apakah batas kedewasaan terletak pada kesadaran akan fungsi, atau pada kemampuan menerima bahwa ketercukupan itu datang dari Tuhan, bukan dari pengakuan orang lain?”
Dan seperti menunggu momen yang pas, Mas Fikri mengangkat analogi skripsi: “Bisakah kedewasaan dijadikan target, seperti skripsi yang tertunda—dan harus diselesaikan agar kita bisa ‘lulus’?”
Mas Totenk pun tersenyum tipis, lalu menjawab pelan. “Saya kira, keinginan itu bukan lawan dari kedewasaan,” katanya. “Justru karena kita punya keinginan, kita tetap hidup. Yang membedakan hanyalah: apakah kita dikuasai keinginan, atau kita mampu menempatkannya sesuai porsinya. Kedewasaan bukan soal mematikan hasrat, tapi tahu kapan mengejar, dan kapan melepas.”

Dan soal ‘cukup’, lanjutnya, “Saya kira itu benar, ketercukupan yang sejati tidak datang dari sorakan manusia lain. Tapi dari perasaan tenang, yang sering kali hanya bisa kita temukan dalam relasi diam-diam dengan Tuhan.”
Ustadz Zayn mengangguk. “Pertanyaan yang bagus. Dan justru karena pertanyaan itu muncul, saya melihat benih kedewasaan di dalamnya. Dewasa bukan berarti berhenti ingin. Tapi mulai sadar bahwa tidak semua keinginan akan menggenapkan kita. Banyak orang mengira bahagia itu soal tercapai atau tidaknya target. Tapi sering kali, kedewasaan datang saat kita mulai jujur pada apa yang benar-benar kita butuhkan.”
Dan soal skripsi—itu analogi menarik. Tapi skripsi punya akhir, sedang kedewasaan tidak. Ia bukan satu momen pencapaian, tapi proses yang terus bergerak. Bahkan orang tua pun masih belajar jadi dewasa. Kita bisa menetapkan target kedewasaan, tapi bukan untuk diselesaikan. Melainkan untuk dipelajari, dihidupi, dan dijalani perlahan-lahan.”
Pertanyaan pun makin meluas. Bila Markesot yang menjawab, barangkali ia akan tertawa kecil, menepuk pundak, lalu berkata: “Kamu tak harus tahu semua hari ini. Tapi kamu bisa jujur pada yang kamu rasakan.”
Panutan dan Belajar dari Siapa Saja
Mas Amin Pribadi bertanya tentang figur panutan selain Cak Nun. Mas Sabrang pun langsung menjawab: “Tergantung kamu butuh panutan dalam hal apa. Tapi belajarlah dari siapa pun, karena guru sejati tidak selalu pakai gelar.”
Teknologi dan Kejujuran Masa Depan
Mas Reza mengangkat soal blockchain—teknologi yang membawa prinsip kejujuran.
Mas Sabrang menjelaskan manfaatnya, seraya menyebut empat teknologi yang harus dikuasai untuk menghadapi zaman: AI, Blockchain, Quantum Computing, dan Digital Reality. “Karena kedewasaan hari ini juga ditantang oleh bagaimana kita memahami realitas baru—yang tak kasatmata, tapi mengubah hidup kita sehari-hari.”
Kearifan Lokal dan Relasi dengan Tuhan
Mas Naja dan Mas Bayu membelokkan arah diskusi ke ranah budaya. Apakah sikap ‘nrimo’ dalam budaya Jawa adalah bentuk kedewasaan?
Mas Sabrang menjawab pelan. “Budaya Jawa memang mengajari untuk pandai menerima, tapi ada batasnya. Kalau batas itu dilanggar, bisa muncul tindakan keras. Karena kedewasaan bukan soal pasrah, tapi tahu kapan bertindak dan bagaimana melakukannya dengan benar.”
Setelah lintas perspektif dari banyak sudut, moderator mempersilakan narasumber untuk memberi penutup. Diawali dari Mas Sabrang yang menutup dengan kisah kecil, “Bayangkan anak kecil yang dituntun ayahnya menyeberang jalan. Kalau ia teriak-teriak, ya wajar kalau sang ayah jengkel. Kamu percaya nggak, hidupmu dipegang Gusti Allah? Kadang kamu akan dibawa ke tempat yang tidak kamu suka—tapi justru di situlah kamu akan tumbuh.”
Dalam tiap Langkah kehidupan, jangan lupa: Tuhan selalu menuntun. Dan disanalah tugas kita menemukan makna dari setiap jejak yang Tuhan arahkan.
Mas Totenk menyentil ringan, “Kadang kita baru membaca karena dipaksa. Tapi bisa jadi itu justru awal dari tumbuhnya kebutuhan batin.”
Ustadz Zayn menutup dengan lembut, “Belum sempurna iman, bila kita belum bisa berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Karena sering kali yang membuat kita menderita bukan kekurangan, tapi iri yang diam-diam kita pelihara. Maka belajar bahagia atas rezeki orang lain adalah bentuk kedewasaan spiritual.”
Di antara semua tanya dan tanggapan malam itu, sosok Markesot seolah berdiri di belakang panggung—tidak menjawab, hanya menyimak. Karena baginya, kedewasaan bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling bersedia mendengarkan, dan terus belajar, bersama.
Kado Itu Belum Usai
Jamaah BangbangWetan sekali lagi mendapat kehormatan menyaksikan Mas Sabrang membawakan lagu Ruang Rindu. Di penghujung lagu, moderator menyampaikan, “Selamat ulang tahun ke-46, Mas Sabrang.” Semoga umur ini menjadi kado terbaik: untuk menjadi, untuk menanam, untuk menghidupi. Aamiin.
Pohon yang berumur puluhan tahun bisa saja tinggi, rindang, dan menghasilkan bunga tetapi belum tentu matang, jika akarnya masih dangkal dan mudah tumbang saat badai & banjir rob datang.
Kedewasaan bukanlah kado dari orang lain. Ia adalah kado yang harus kita bungkus sendiri—
dengan kegagalan, kehilangan, kesepian, dan keberanian untuk berubah. Sebagian orang belajar lewat luka. Sebagian lewat kehilangan. Sebagian lewat sunyi yang tak sempat dipahami siapa pun. Apapun jalan yang ditempuh, semua bermuara pada satu titik yang sama: titik ketika kita sadar bahwa dunia tidak selalu memeluk kita, dan kita harus belajar memeluk diri kita sendiri.

Dan bila suatu hari nanti kita merasa telah dewasa, maka semoga saat itu kita cukup bijak untuk kembali bertanya: “Apa yang masih bisa dipelajari hari ini?” Pada akhirnya, orang dewasa adalah yang paling jujur mengakui: “Aku masih belajar. Aku belum selesai. Tapi aku bertanggung jawab.”
Dan malam itu, dalam lantunan ‘indal qiyam, Markesot berdiri tegap di sela barisan setiap jamaah Maiyah BangbangWetan. Tampak senyum markesot mengembang, menyaksikan kebersamaan di ruang yang terus tumbuh ini.
Redaksi BangbangWetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan BangbangWetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.



