Salam mumet saya sampaikan, kepada barisan mahasiswa yang sedang menikmati proses dalam menambahkan sebuah huruf ‘S’ (sarjana) di belakang namanya. Entah ‘S’ apa yang akan mereka tambahkan, namun seingat saya, mencari ‘eS’ saat dua matahari di langit Kota Surabaya begitu terik juga tak kalah nikmatnya, heuheu… Semoga setiap langkah perjuangan kita senantiasa diridhoi oleh Gusti Allah, aamiin. Demi menambahkan sebuah huruf ‘S’ tersebut, kita harus terlebih dahulu melalui proses yang penuh dengan halang rintang. Rintangan tersebut salah satunya ialah tak lain dengan menyelesaikan tugas akhir yang biasanya berupa skripsi. Lika-liku yang penuh luka sudah menjadi sega jangan yang disantap oleh setiap mahasiswa dalam menyelesaikannya. Namun, siapa sangka, proses penyelesaian inilah yang nantinya mampu membawa kita menuju ke arah maturitas atau kedewasaan.
Sarjana = Maturitas
Mas Totenk, pada forum Bangbang Wetan tanggal 12 Juni 2025 menyampaikan bahwa “kematangan adalah sebuah hasil, maka jangan meninggalkan prosesnya atau bahkan persiapan untuk menuju proses tersebut” kurang lebih demikian. Kematangan atau kedewasaan bisa juga disebut maturitas merupakan sebuah hasil yang pastinya melalui sebuah proses dan bahkan memerlukan adanya persiapan dalam melakukan proses tersebut. Sebagaimana muara yang berasal dari mata air yang mengalir, kemudian uap air yang berkumpul menjadi awan dan turun sebagai tetesan rindu, eh maksudnya tetesan hujan. Perlu diketahui bahwasannya hujan itu turun, bukan jatuh, karena yang jatuh itu aku, di hatimu, heuheu… Dari apa yang disampaikan oleh Mas Totenk, saya mencoba menganalogikan dengan apa yang tengah saya rasakan saat ini. Sarjana adalah sebuah hasil atau maturitas, kemudian skripsi, revisi, bimbingan, acc dan segala tetek bengeknya merupakan sebuah proses, dan tentu saja membaca dan mengumpulkan data adalah sebuah persiapan yang kita perlukan.

Saya teringat pada sebuah kalimat yang disampaikan oleh Mas Sabrang, yakni “di dunia ini tidak ada sebuah keharusan, keharusan akan muncul sendiri ketika kita memiliki tujuan”. Hal tersebut yang kemudian menimbulkan pertanyaan liar di kepala saya, apakah menjadi dewasa ini merupakan sebuah tujuan? Sehingga kita memiliki sebuah keharusan untuk mencapainya? Saya kembalikan lagi pada analogi skripsi, ketika ingin meraih gelar sarjana, maka tujuannya adalah gelar sarjana. Kemudian apa yang dilakukan? tentu saja menyelesaikan proses skripsi berubah menjadi sebuah keharusan. Ah, tapi skripsian itu sulit, ada saja halangannya, judul diganti, teori tidak cocok, sudut pandang pemahaman yang berbeda, susah menyelaraskan jadwal dengan dosen, tak kunjung di-acc, waktu yang semakin mepet, menyelesaikannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Lantas bagaimana cara kita menyikapi hal-hal tersebut?
Jagad Cilik dan Jagad Gedhe
Dalam kebudayaan Jawa, mengenal adanya istilah jagad cilik dan jagad gedhe. Jagad cilik adalah dunia yang berada dalam diri kita, alam bawah sadar dan pikiran kita, sesuatu hal yang bisa kita kendalikan. Sementara itu jagad gedhe adalah dunia yang berada di luar kendali kita, alam semesta ini, pikiran orang lain, hal yang masih memiliki keterkaitan dengan kita, namun kita hanya bagian kecil darinya. Contoh sederhananya adalah rasa cinta kita padanya merupakan jagad cilik, dan rasa cintanya kepada kita merupakan jagad gedhe. Kita bisa mengendalikan rasa cinta kita terhadapnya, namun tak bisa memaksakannya untuk memiliki rasa cinta yang sama kepada kita, karena kita hanyalah salah satu bagian dari hidupnya.
Begitu halnya dalam proses penyelesaian skripsi tadi, kesadaraan pada jagad cilik kita mengatakan bahwa, harusnya seperti ini, seperti itu, tinggal bimbingan, acc, sidang, wisuda langsung menjadi sarjana. Saya harap kita tidak melupakan hal yang penting, bahwa kita adalah bagian kecil dari jagad gedhe yang tidak bisa kita kendalikan semau kita. Kedewasaan adalah proses kita mampu menerima dengan rasa lila legawa terhadap apa yang terjadi pada jagad gedhe tersebut. Jika kita masih mengedepankan jagad cilik kita, yang muncul hanyalah ambisi dan ego yang tinggi dan tidak menemukan titik temu dari permasalahan yang tengah dihadapi.

Dari hal tersebut saya menyimpulkan bahwa jangan menjadikan kedewasaan sebagai tujuan semata. Namun bagaimana cara kita menumbuhkan sebuah keharusan untuk menjadi dewasa, agar orientasi kita selalu menuju pada hal tersebut. Kalau skripsinya masih revisi ya segera direvisi, ada revisi lagi? ya tinggal direvisi lagi. Sudut pandangnya bertentangan dengan dosen, ya diterima saja. Mungkin dari sinilah proses kedewasaan kita dapat terbentuk. Kita upayakan apa yang bisa kita upayakan, kalau ada yang tidak bisa meski sudah kita upayakan? ya sudah, terima saja dengan hati yang lapang. Kita harus menjadi sarjana, skripsi kita harus diacc, maka kita harus menyesuaikan diri dengan dosennya. Gitu aja kok repot! (Gus Dur).
Gusti Allah Bersama Orang-Orang Mumet
Ternyata susah sekali meraih maturitas pada diri ini, banyak sekali pengorbanan yang diberikan untuk sesuatu yang tidak sesuai kemauan kita. Lantas, apa yang akan kita lakukan? protes ke Gusti Allah? Yaa Allah kenapa hidup saya seperti ini? apakah saya bisa terus menjalani hidup yang seperti ini? Jangan ya, rek yaa… Gusti Allah itu Maha Mengetahui kok, apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah baik. Namun, apa yang menurut Allah baik, pasti akan membawa kebaikan untuk kita. Allah tidak membebani hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah:286). Kita hanya perlu menikmati proses pendewasaan ini dengan tenang dan tidak rewel. Wong nduwe Gusti Allah Kok Bingung.

Bayangkan ada seorang bapak yang menggenggam tangan anaknya untuk menyebrang jalan. Seorang bapak pastinya akan mencarikan jalan teraman dan tidak akan melepaskan genggaman tangannya, agar anaknya sampai di seberang jalan dengan selamat. Bagaimana jika anak malah merasa takut dengan berteriak takut celaka, padahal ada bapak disana? Tentu saja pasti bapak akan bilang “wis ta, ora usah rame wae, manut aku”. Sebagaimana dengan Allah yang selalu ‘menggandeng’ hambanya, jangan sampai malah kita terlalu rewel dengan meminta ini itu, protes begini begitu, padahal Allah sudah membimbing kita sesuai dengan jalannya. Kita hanya perlu terus percaya, kita akan sampai pada tujuan dengan selamat. Meraih gelar sarjana, meraih kedewasaan melalui proses revisi skripsi dengan konsep lila legawa. Pahami posisi kita pada jagad cilik dan jagad gedhe, dan percayalah “Gusti Allah bersama orang-orang mumet”. Let’s be mature, mature nuwun, heuheuu…
Fikri Firmansyah. Pemikir yang memikirkan cara mengungkap pikirannya, dapat disapa di akun instagram @fikrii.ff.
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



