Tahun baru membuka lembaran harapan baru, mengajak setiap insan untuk melangkah bersama. Majelis Masyarakat Maiyah Bangbangwetan edisi Januari 2025 kembali menjadi pertemuan hangat yang dinanti, mengangkat tema ‘Nur Gesang’ yang diselenggarakan di Pendopo Jayengrana, Cak Durasim. Jama’ah dari bermacam latar belakang berkumpul untuk berbagi kebersamaan, menggali makna, dan mempererat tali silaturahmi. Langkah awal di tahun 2025 ini menjadi pengingat bahwa pada setiap permulaan membawa energi baru untuk terus bergerak dan bertumbuh.
Pendopo Cak Durasim seperti menjadi saksi bisu perjalanan BangbangWetan. Tak heran, bangunan kokoh yang disangga 36 pilar ini dipilih sebagai latar belakang BangbangWetan. Ia seolah mengajak untuk mengabadikan semangat yang terus hidup, menyatukan langkah pada harapan yang tak kunjung padam.
Seperti biasa Majelis Ilmu diawali dengan Nderes, Juz 7-9 (Surah Al-Maidah ayat 83 – Surah Al-Anfal ayat 40). Moderator kemudian membuka majelis dengan mengupas prolog dari tema ‘Nur Gesang’. Istilah ‘Nur’ diambil dari bahasa Arab yang berarti cahaya, sedangkan ‘Gesang’ berasal dari bahasa Jawa yang bermakna kehidupan. Bila dirangkai, keduanya membentuk padanan makna ‘cahaya kehidupan’.
Pambuka

Moderator menghubungkan padanan konsep cahaya kehidupan dengan realita yang disajikan dalam prolog. Dimulai dari runtutan peristiwa reformasi 1998 yang membuka gerbang liberalisasi ekonomi, disusul oleh meluasnya digitalisasi. Perubahan ini mendorong pergeseran nilai di masyarakat, yang kini lebih berfokus pada konsumsi konten belaka. Sayangnya, perubahan ini membuat banyak orang melupakan nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya.
Mbak Ilmi dan Mbak Yusron, perwakilan jama’ah, beranjak menemani moderator di atas pangung. Mereka menyangsikan keterkaitan peristiwa 1998 dengan maraknya konsumerisme & tren FOMO yang berkembang di masyarakat saat ini. Moderator pun mengucapkan terima kasih atas perbedaan pandangan yang disampaikan. Justru dari perbedaan inilah diskusi menjadi lebih hidup. Beragam pemikiran dan sudut pandang akan membuat hasil diskusi semakin tajam.

Mas Diky dan Mas Andik yang bertugas sebagai moderator sesi pembuka dengan ramah mempersilakan Mbak Yulia untuk naik ke panggung. Mbak Yulia tampak anggun membawa sebuah kertas kecil di tangan, berisi sebuah prosa berjudul Rindu, karya Eren Sugiharto. “Rindu adalah penyakit yang diderita manusia dengan sukarela,” begitu bunyi baris pertama. “Saya rela, Mbak!” seloroh salah satu jama’ah, tawa kecil pun merebak ke penjuru pendopo.
Pembacaan puisi pun berlanjut. Kini giliran Mbak Yusron, yang membawa kita menyelami ‘Cahaya Maha Cahaya’ karya agung dari Mbah Nun. Dengan gaya teatrikal & suara lantangnya, cahaya mengaliri pendopo untuk menyibak setiap relung jiwa. Puisi ini juga menjadi pijakan bagi terbentuknya tema besar kita malam hari ini, Nur Gesang.
Bapak Angga melangkah naik ke panggung untuk berbagi perenungan hidup kepada anak muda. Pesan beliau, hidup tak selalu harus ideal. Hidup adalah sebuah perjalanan, di mana tabrakan dan benturan antara ideal dan kenyataan terus terjadi, dan semua itu penting untuk dijalani. Kita hanya perlu mencari ridho-Nya, ikhlas pada setiap ketetapan dan kesempatan yang dianugerahkan Sang Pencipta. Mengutip pelajaran dari buku Mbah Nun “Gusti Allah ora cerewet koyo cocotmu”, tegas Pak Angga.
Musik Patrol Man Mahabbah hadir membawakan lagu ‘Sebelum Cahaya’ dalam balutan aransemen khas alat musik tradisional. Aluran irama seakan menghadirkan nuansa nostalgia, menjembatani kerinduan pada Mas Sabrang.
Moderator kembali memandu jalannya acara dan mempersilakan para narasumber untuk berbagi ilmu. Narasumber yang hadir di antaranya adalah Lek Hammad, seorang budayawan; Mas Amin, Gubernur BbW; F. Aziz Manna, S.S, penyair Kusala Sastra Khatulistiwa; Dr. Darmaji, S.Si., M.T, Kepala Unit Hubungan Alumni ITS; Pak Solikhin, tokoh cendekiawan Maiyah.
Urip, Urap, Urup
Pak Darmaji mengaitkan tema Nur Gesang dengan filosofi Jawa ‘wani urip, wani urap, wani urup’. “Wani urip itu berani menghadapi kehidupan, meski kadang riweh, penuh masalah. Kalau sudah berani, kita juga harus wani urap, berani berjuang. Jangan cuma berhenti di niat, tapi tandang, usaha sampai apa yang kalian inginkan tercapai. Kalau sudah berani hidup dan berjuang, jadilah urup. Artinya, jadilah cahaya untuk orang lain. Berikan manfaat dengan apa yang kalian bisa.”, papar beliau.
“Ambil contoh begini, Ada soal matematika yang rumit. Wani urip itu kalian berani mencoba, nggak takut salah. Lalu, wani urap itu ketika kalian terus berlatih sampai paham. Nah, kalau sudah paham, kalian bisa wani urup, misalnya pakai ilmunya untuk bantu ibu menghitung belanjaan.” Jama’ah pun tertawa terkekeh-kekeh, membayangkan membantu ibunya menghitung harga lombok dan kentang di pasar.
“Jadi, jangan lupa. Kita ini punya tugas untuk jadi cahaya, sekecil apa pun, untuk orang di sekitar kita.”, pesan Pak Darmaji sambal mempersilakan pembicara selanjutnya.

Perjalanan Cahaya
“Sudah 13 tahun lamanya tidak bersua di forum ini. Tampak wajah baru dengan semangat yang juga baru”, kelakar Pak Solikhin. Tidak lupa beliau mengajak memanjatkan suratul Fatihah untuk kesehatan semua jamaah & guru besar, Mbah Nun. “Kampung saya di Lumajang, tepatnya Desa Pulo, bersebelahan dengan Desa Gesang, mengingatkan saya tentang tema Nur Gesang yang dibahas pada malam hari ini.”, lanjut beliau.
Pak Solikhin bercerita pengalamannya saat bercengkerama dengan Mbah Nun pada malam Isra’ Miraj. Mengupas perjalanan Isra’ Miraj Rasulullah SAW (Al Isra ayat 1), Rasul yang berwujud materi, kemudian dijelmakan energi sehingga mampu melintasi ruang & waktu, untuk mendapat pancaran cahaya Illahi berupa wahyu perintah sholat, cerminan penghambaan diri terbesar pada Sang Pencipta.
“Rasa-rasanya, konsep Isra’ Miraj tersebut sangat terhubung dengan setiap aktivitas manusia. Kita yang berwujud materi, berusaha membangkitkan energi kehidupan untuk menjadi cahaya yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Pada akhirnya, semua itu kita persembahkan demi mendapat ridha-Nya,” papar Pak Solikhin.
Pak Solikhin juga mengutip pesan simbah, “Manusia selalu diberi 2 pilihan dalam hidup, diperjalankan Allah SWT atau mlaku sak karepmu dewe. Kamu, manusia diberi free-will, kemudian dibebaskan memilih mengikuti jalan cahaya kebenaran atau malah berpaling pada jalan kegelapan, jalan orang-orang jahiliyah.”
Cahaya Maha Cahaya
Pak Aziz mengawali kisah dengan mengutip syair Mbah Nun, bahwa perjalanan manusia adalah anyaman hidup & mati, dengan melodi darah & api, yang berdendang tentang kekekalan & keabadian. “Puisi & sya’ir Mbah Nun selalu berkutat tentang perjalanan spiritual manusia dalam mengenal diri. Kenalilah dirimu & kau akan mengenal Tuhanmu. Manusia sering diombang-ambingkan pada kisah penderitaan, mabuk duniawi, berujung pada kematian nilai ruhani, tentu tidak serta-merta manusia kehilangan harapan, malah tercipta semangat juang untuk bangkit kembali.”, jelas beliau.
Puisi ‘Cahaya Maha Cahaya’ meringkas perjalanan manusia di dalam kegelapan untuk bisa melihat cahaya. Cahaya dan kegelapan, bukanlah dua hal saling bertentangan. Berikut ilustrasinya, bila matamu sering terpapar cahaya, bahkan berani menatap langsung sumber cahaya, maka pupilmu akan silau & langsung terkatup, berujung kebutaan dan menyisakan kegelapan. Namun begitu kau coba mengintip kegelapan, dari sanalah tampak jelas cahaya yang terang benderang. Sepertinya, diperlukan keterpisahan untuk menilai sesuatu agar tampak lebih jernih apa adanya.
“Manusia seperti bingung terjebak dalam 2 sisi, manusia yang notabene makhluk materi didorong hasrat duniawi, sekaligus dituntut menghindari kemelekatan duniawi, agar memperoleh ridha-Nya. Itulah seni menjadi manusia, proses perjuangan mencari ridha-Nya.”, ringkas Pak Aziz.
Semesta Cahaya

Jarum Jam menunjukkan sekitar pukul 11 malam. Jamaah semakin merapat mendekat, diikuti pembahasan materi yang semakin memadat. Seperti biasa, Lek Hammad mengajak setiap jama’ah bersama-sama merenungkan esensi cahaya, tema besar malam ini. Lek Ham berusaha memantik pertanyaan mengenai unsur & sifat cahaya; apa warnanya, di mana keberadaannya, dan bagaimana wujudnya. Sebagai petunjuk, beliau menjelaskan bahwa dalam Al-Quran, cahaya dibagi menjadi tiga konsep yaitu; dawu’, nur, dan sirot. Bahkan dalam dimensi fisika, cahaya memiliki dualitas, yakni sebagai partikel dan gelombang. Lantas, apa sebenarnya esensi dari cahaya ini? dan apa ada zat yang bisa menyebabkan terhalangnya cahaya.
Beberapa perwakilan jama’ah diundang maju ke depan untuk menyampaikan pandangan. Mas Sultan mendapat kesempatan pertama. Dengan tegas, beliau mengutarakan ketidaksetujuan bila cahaya kehidupan, atau nur gesang, dikupas dari sudut pandang materi; seperti wujud, warna, dan lainnya. “Bukankah cahaya kehidupan adalah nilai yang seharusnya hanya layak disandingkan pada Sang Pencipta & para utusan-Nya?!”, ujar beliau penuh keyakinan.
Kemudian giliran Mas Ramdan menyampaikan kisahnya. Ia mulai bercerita tentang kawannya, seorang difabel netra, salah satu sosok inspiratif dalam hidupnya. Pernah suatu ketika, dia iseng mengerjai temannya saat mengenalkan benda-benda, benda apapun yang bisa diraih tangannya, tidak luput benda pribadi Mas Ramdan sendiri.
Mas Ramdan sempat bertanya kepada kawannya, apakah ia pernah melihat cahaya, setidaknya dalam mimpi. Padahal ia tahu bahwa temannya adalah difabel netra sejak lahir—yang tentu tidak akan pernah mengetahui wujud, warna, atau keberadaan cahaya. Sang kawan menjawab, “Mungkin aku tidak pernah bisa melihat cahaya, tapi aku mampu merasakannya. Aku merasakan kehadiran cahaya ketika ada orang asing yang membantuku menunjukkan jalan. Orang itu adalah cahayaku. Aku juga merasakannya tadi, saat kau, Ramdan, membantuku memahami realitas benda-benda di sekitarku, meski agak ndlodok. Ya, cahaya bagiku adalah petunjuk untuk mengenali dan menjalani duniaku yang gelap ini.” Panggung mendadak sunyi. Semua yang hadir terdiam, terpaku oleh kedalaman jawaban.
Diskusi pun kembali berlanjut. Mas Imam memberikan pandangan dengan mengutip pesan dari Gus Baha, bahwa cahaya adalah suatu kebenaran dari Allah yang perlu diperjuangkan. Jama’ah lainnya menambahkan bahwa warna cahaya adalah kesadaran, tempatnya di hati & pikiran, bentuknya berupa perenungan, dan penghalangnya adalah ego manusia.
Sesi Diskusi kemudian ditutup oleh Mas Udik yang menggunakan pendekatan filsafat jawa. Beliau menyampaikan, “Warna cahaya iku padhang lan petheng…dununge nang atiku kang seti.” Sebuah konsep jawa tentang keseimbangan dualitas cahaya yang mengandung unsur gelap-terang sekaligus & bersemayam di hati setiap insan.

Suasana diskusi yang mengalir, santai tapi serius
Lek Ham mengucapkan terimakasih kepada setiap jama’ah yang telah memberikan khazanah pandangan. Beliau kemudian mencoba mengelaborasi jawaban-jawaban tersebut dengan mengaitkannya pada konsep dalam Al-Qur’an. Beliau menjelaskan, bahwa cahaya sebagai dawu’ & dan sirot adalah sumber cahaya itu sendiri, yaitu Tuhan & nilai -nilai ketuhanan yang menjadi sumber kehidupan. Sedangkan cahaya sebagai Nur diumpamakan pantulan seperti bulan memantulkan cahaya dari matahari, yakni cerminan manusia.
“Manusia diibaratkan sebagai Nur. Nur itu bias, memantulkan pancaran cahaya illahi. Dari pembiasan cahaya Illahi tersebut, diteruskan oleh akal dan hati, lalu dipantulkan menjadi tindakan di muka bumi. Dengan itu, manusia menjalankan perannya sebagai khalifah fil ardh, agar mengelola dan memelihara bumi seisinya sesuai hukum-hukum Allah.”, papar Lek Hammad.
Lek Hammad melanjutkan dengan menukil penjelasan Pak Solikhin tentang Al Isra ayat 1 bahwa manusia itu diperjalankan, berawal dari keraguan/kegelapan, bila mampu menggunakan akal & hati, akan sampai pada Nur. Dan biasanya yang menjadi penghalang cahaya adalah cahaya lainnya, yaitu ego kita sendiri.
Lek Ham mewanti-wanti bahwa jangan terjebak dalam kemilau cahaya, cahaya terkadang bersifat ujian. Fokuslah pada memegang nilai cahaya, kemudian mengkodifikasi dalam nilai keseharian & menyalakan pelita untuk dinikmati sekeliling.
Pak Solikhin menutup forum dengan sebuah cerita, kisah anak kiai & seekor semut. Begini kisahnya. Suatu hari, anak seorang kiai sedang kerja bakti mengepel masjid. Semangatnya tinggi, tiba-tiba ia teringat bahwa waktu salat Zuhur sudah hampir habis. Dengan sigap, ia bergegas mengambil wudu di sumur belakang masjid. Anak kiai itu pun menimba air. Tapi di tengah kesibukannya, matanya menangkap sesuatu di bibir sumur—seekor semut rang-rang sedang berjuang keras agar tidak hanyut. Kaki kecil semut itu tergelincir dan nyaris tercebur.
Sang anak kiai tertegun. “Astaga! Kalau aku bantu semut ini, waktu salatku bisa habis. Tapi… kalau nggak aku bantu, dia pasti tenggelam.” Terjadilah pergulatan batin yang luar biasa. Satu sisi, ada tugas kepada Sang Pencipta; di sisi lain, ada rasa iba kepada makhluk kecil yang malang.
Akhirnya, sang anak kiai memilih untuk menolong semut itu. Perlahan, anak kiai memindahkan semut itu ke tempat yang aman. Semut itu selamat, tetapi detik-detik terakhir waktu Zuhur pun terlewat. Setelah itu, anak kiai hanya bisa menghela napas panjang. “Semoga Allah paham situasi ini,” gumamnya sambil tersenyum kecut.
Pak Solikhin memberi penjelasan singkat menggunakan wejangan Mbah Nun bahwa manusia terbagi menjadi 3 tipe. Pertama, Ana Insan, yaitu manusia dengan egonya akan cenderung menyepelekan semut sebagai makhluk rendah. Kedua, Ana Abdullah, yaitu manusia yang tertuntut mengejar pahala & menghindari dosa, akan tidak memperdulikan semut untuk tetap mendapat pahala solat. Ketiga, Ana Khalifatullah, yaitu manusia yang mempertimbangan aspek lebih luas dari dirinya, hubungan makhluk satu dengan lain, akan bersikap pasrah untuk ikhlas berbuat kebaikan.
Menjelang akhir acara majelis, tiba-tiba muncul seorang insan, Mas Aan, yang merupakan difabel wicara. Beliau menyampaikan bahwa ia sangat senang bisa hadir di acara BbW meskipun baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan menyempatkan diri untuk datang. Menurutnya, forum Maiyah Bangbang Wetan ini seperti sebuah Pelangi, rumah semua cahaya. Ia mampu menyatukan semua warna—mas dan mbak, bapak dan ibu, kaum sederhana hingga para pemimpin, bahkan mereka dari berbagai keyakinan dan pandangan hidup. Semua berkumpul dalam satu ruang yang penuh dengan ilmu dan cinta.
“Inilah yang disebut dengan Rahmatan lil ‘alamin,” lanjut Mas Aan. “Islam itu lembut, namun juga tegas. Bukan untuk saling menghina atau mengkafirkan, tetapi untuk menyebarkan kasih sayang.
Kontemplasi


Lagu BangbangWetan menggema di pelataran Cak Durasim, sebuah persembahan dari musik patrol yang memancarkan kehangatan. Seiring ketukan dan nada yang dilantunkan, BangbangWetan berusaha menghidupkan kembali semangat lama dan mengukir mimpi baru, membimbing kita menuju terang di tengah gelapnya malam, mengajak setiap insan untuk bersama-sama menyalakan cahaya yang akan datang dari timur.
Doa yang terampun-ampun karya guru besar Mbah Nun, dibawakan oleh penyair F. Aziz Manna. “Duh Maha Resi yang mengetahui jumlah kelopak bunga seluruhnya yang telah gugur, yang sedang kembang serta yang baru akan tumbuh, di bumi dan langit. Ampunilah kebodohan kami.”
Pak Achmad Luthfi menegaskan untuk setia pada proses, siklus tidak harus banyak. Tapi dengan kesungguhan akan bisa memunculkan cahaya dari diri kita untuk memberi manfaat kepada masyarakat sekitar.
Cak Fuad menambahkan, kalau semua jama’ah yang hadir adalah cahaya, setidaknya bagi acara Majelis Ilmu BbW ini. Tanpa penonton, tentu moderator dari kalimat pembukaan Assalamualaikum langsung ditutup Waalaikumsalam, karena gak ada yang nonton ‘krik krik’, kelakarnya.
Epilog
Mas Amin Tarjo memberi kesimpulan bahwa BangbangWetan malam ini sungguh luar biasa. Mas Tarjo mencoba mengelaborasi setiap konsep dari narasumber. “Konsepsi cahaya harus memiliki wujud, seperti ide harus ada wujudnya, bahasa anak sekarang jangan Nato, niat aja tanpa operasionalisasi.”

Manusia mempunyai satu rasa yang terkadang tidak bisa dikendalikan atau diwujudkan, contoh rasa percaya diri. Rasa percaya diri dibutuhkan sebagai pemantik cahaya, kalau kebablasan bisa menjadi nabrak sana-sini. Kemudian kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenali Tuhanmu, mengutip kitab Al-Ghazali, mengajak agar kita semakin mengenali kompetensi diri sehingga ketika terpancar menjadi spektrum cahaya yang padu.
Memasuki jam 1 dini hari, Majelis Ilmu Bangbangwetan dipungkasi dengan sholawat bersama yang dipimpin oleh Pak Achmad Luthfi & Mas Hakam.
Terimakasih untuk setiap dukungan support moral maupun materiil dari penggiat, komunitas & setiap elemen yang membantu. Semoga Mbah Nun, Mas Sabrang & Keluarga Besar Maiyah bisa selalu istiqomah hadir dalam setiap Ruang Rindu.

Oleh : Redaksi BangbangWetan



