Menjadi Cahaya yang Bermakna

Oleh : Jembar Tahta Anillah

Ketika kita berada di atas gedung pencakar langit dan memandang ke bawah pada malam hari, pemandangan kota yang dipenuhi cahaya lampu begitu memukau. Kita dapat mengagumi keindahan itu sebagai panorama yang menenangkan atau memaknainya sebagai alat yang mempermudah aktivitas manusia di malam hari. Pandangan ini mengajarkan kita bahwa bahkan dari cahaya, kita bisa belajar tentang kehidupan.

Jika kita hanya terpaku pada keindahan lampu-lampu tersebut, kita mungkin hanya melihat permukaan: sibuk mengagumi keindahan luar tanpa menyelami maknanya. Banyak orang yang merasa bahwa keindahan seperti itu adalah alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Namun, syukur saja tidak cukup. Keindahan harus dimaknai lebih dalam: tanpa kebermanfaatan, keindahan kehilangan substansinya. Misalnya, lampu-lampu yang kita lihat dari atas gedung tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga mempermudah manusia untuk beraktivitas di malam hari. Di sinilah letak pentingnya memahami manfaat di balik keindahan.

Manusia pun demikian. Jika seseorang hanya sibuk mempercantik diri atau terfokus pada identitasnya, ia belum menemukan cahaya sejati. Sebaliknya, manusia yang merelakan egonya, menganggap dirinya kecil, dan berfokus untuk bermanfaat bagi sesama, maka dia telah menemukan cahaya yang sesungguhnya. Cahaya bukan hanya soal keindahan, melainkan juga soal makna dan fungsi. Manusia sejatinya adalah cahaya bagi manusia lainnya.

Namun, apakah cahaya sejati hanya muncul dalam hubungan antar manusia? Tentu tidak. Cahaya sejati juga terwujud dalam hubungan antara manusia dan Tuhan.

Bayangkan kita berjalan di tengah hutan pada malam hari, tanpa tahu jalan di depan. Dalam kegelapan, apa yang kita lakukan? Kita mungkin mencoba meraba jalan atau berteriak meminta pertolongan. Namun, solusi sebenarnya adalah mencari atau menciptakan cahaya, entah dengan menunggu pagi atau membuat api. Ketika cahaya muncul, pikiran menjadi lebih tenang, memungkinkan kita menyusun strategi dan menghindari bahaya.

Dalam kehidupan, kita sering menghadapi kegelapan berupa masalah dan tantangan. Dalam situasi seperti itu, kita memerlukan cahaya yang dapat membantu kita melihat jalan keluar. Cahaya ini tidak hanya ditemukan dalam hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dalam hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Dua bentuk cahaya tersebut adalah takwa dan tawakal.

Mbah Nun pernah merenungkan ayat dalam Surah At-Talaq yang mengajarkan bahwa siapa pun yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar dan rezeki yang tak terduga. Ayat tersebut berbunyi: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.” (Q.S. At-Talaq: 2-3)

Mbah Nun menyebut konsep ini sebagai “buy one get two“. Dengan takwa sebagai bekal utama, kita mendapatkan dua hasil: pertama, jalan keluar dari masalah dan kedua, rezeki yang tidak terduga. Sementara itu, cahaya tawakal memastikan bahwa kebutuhan kita tercukupi dan urusan kita diambil alih oleh Allah. Dengan kata lain, takwa dan tawakal adalah dua bekal yang menghadirkan hasil yang berlipat ganda dalam kehidupan kita.

Cahaya takwa memberikan keberanian untuk melangkah dan menghadapi tantangan dengan penuh keyakinan. Sementara itu, cahaya tawakal mengajarkan kita untuk menyerahkan hasil akhir kepada Allah, karena Dia yang memegang kendali atas segalanya. Kedua cahaya ini membawa dampak luar biasa bagi kehidupan: memberikan ketenangan, kecukupan, dan solusi.

Pada akhirnya, cahaya dalam hubungan antar manusia bukan hanya soal menciptakan keindahan, tetapi juga kebermanfaatan. Keindahan memang dapat membawa kebahagiaan, tetapi lebih bijaksana jika keindahan tersebut juga memberikan manfaat bagi orang lain. Begitu pula, cahaya dalam hubungan dengan Tuhan menghasilkan takwa dan tawakal, dua bekal yang membawa kita kepada jalan keluar dari masalah serta kecukupan dalam hidup. Dengan memahami dan mengamalkan dua jenis cahaya ini, hidup kita akan lebih bermakna dan semoga penuh keberkahan.

 

Jembar Tahta Anillah
Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top