Jumat (31/7), Majelis Ilmu BangbangWetan melaksanakan daur Maiyahan yang bertempat di Pendopo Cak Durasim, Surabaya. Sejak sore, beberapa pengiat telah datang untuk memasang backdrop, begitupun para kru Paramarta yang sibuk menata sound system sebagai jembatan antara pikiran dan telinga para jamaah BangbangWetan yang hadir nantinya.
Matahari semakin menghilang. Para pengiat sedikit demi sedikit datang, bersamaan dengan dua azan yang berkumandang. Tak sedikit pula jamaah yang sudah memesan kopi di stan Pojok Ilmu dan menikmati indahnya malam di selasar Pendopo Cak Durasim sebelum Maiyahan diselenggarakan.
Tepat pukul 19.30, Mas Wildan dkk. naik ke atas panggung. Tanpa memperlambat dan dengan tetap menghargai waktu, Mas Wildan mengajak para jamaah untuk mendekati panggung guna bersama-sama nderes Al-Qur’an dan nantinya disambung dengan Wirid Maiyah. Jamaah berduyun-duyun mendekat ke panggung, menata duduknya, dan yang paling penting berada dalam posisi siap untuk mengawali Maiyahan dengan penuh kekhusyukan.
Wirid Padhangmbulan, Maulana Siwallah, dan Hasbunallah menjadi penutup sesi nderes dan wirid pada malam itu. Selanjutnya, acara disambung dengan persembahan beberapa nomor oleh Mas Dewo guna mencairkan suasana sebelum masuk pada sesi pertama. Namun, sebelum itu, moderator membuka secara simbolik acara dengan salam dan sapa kepada para jamaah.
Lantunan suara Mas Dewo menjadi pengantar bagi Mbak Agustin, seorang filolog dari UNAIR, naik ke atas panggung. Beliau akan menemani sesi pertama pada edisi BangbangWetan kali itu. Sebelum moderator mempersilakan Mbak Agustin, Mas Diky mencoba mbabar tema dengan sebuah kalimat pantikan, “Mari iki wulan opo rek?” Beberapa jamaah menyahut, “Agustus.” Bulan Agustus identik dengan bulan kemerdekaan. Mas Diky menanyakan kembali soal kemerdekaan. Dalam kemerdekaan, baik dalam berperilaku maupun bersuara, yang paling penting adalah kewibawaan atau marwah!? Mas Diky menyesuaikan dengan tema pada edisi kali itu, yaitu Curiga Manjing Warangka, yang bermakna keris yang masuk ke dalam wadahnya. Keris merupakan wujud dari sebuah marwah yang harus dijaga.
Mas Jembar menegaskan kembali bahwa setiap manusia memiliki warangka yang sudah ditakdirkan Tuhan kepadanya. Warangka bisa saja bermakna profesi, jati diri, atau hal-hal yang dimaksudkan Tuhan kepada kita. Dalam warangka harus dimasuki keris. Keris adalah makna integritas dan kewibawaan. Sebab, secara historis keris tak pernah menjadi senjata utama dalam berperang, melainkan sebagai simbol atas marwah seseorang. Menyambung hal itu, Mas Diki mengingatkan bahwa Mbah Nun pernah membagi sebuah jobdesk manusia ke dalam tiga bentuk, yaitu cangkul, pedang, dan keris. Tiga idiom itu tidak asing di telinga jamaah Maiyah, khususnya jamaah Maiyah lawas. Cangkul sering diibaratkan sebagai rakyat yang setiap hari bekerja (fungsi ekonomi), pedang diibaratkan sebagai pemerintah yang melindungi rakyatnya, dan fungsi keris adalah penjaga peradaban serta marwah negara.
Karena merasa rugi jika hanya moderator yang berbicara tanpa arah, Mas Diky mempersilakan Mbak Agustin untuk memberikan pandangan terkait tema, khususnya masalah keris dilihat dari segi sejarah. Hal itu sangat linear dengan bidang yang ditekuni Mbak Agustin yang tidak jauh dari unsur-unsur kesejarahan.
Ketika Keris Dibaca sebagai Peradaban
Dalam pemaparannya, beliau mengawali dengan makna dasar Curiga/Keris sebagai marwah/martabat. Sedangkan warangka sebagai batas. Dalam khazanah Jawa sejak zaman dahulu, keris tidak pernah diasosiasikan sebagai senjata utama dalam peperangan. Keris memang menjadi simbol kewibawaan dan kekuasaan. Bahkan, keris juga menjadi simbol penolak bala. Hal ini menandakan bahwa keris memang memiliki peran yang sakral dalam khazanah Jawa. Salah satu contoh yang diangkat oleh Mbak Agustin mengenai kesakralan keris, khususnya dalam ranah kepemimpinan adalah kisah keris Empu Gandring yang tidak rela diberikan kepada Ken Arok. Sebab, sifat besi yang ada pada keris tersebut selaras dengan sifat Ken Arok yang sama-sama keras. Kisah itu semakin memperjelas adanya kesinambungan antara keris dengan etos kepemimpinan.
“Dalam tradisi Jawa, seorang pemimpin harus belajar tentang Hastabrata, delapan sifat yang diambil dari alam. Hal itu menjelaskan bahwa seorang pemimpin, di samping hablum minallah dan hablum minannas, juga harus memiliki hablum minal alam agar memiliki keseimbangan sebagaimana alam yang senantiasa menjaga keseimbangan dunia,” pungkasnya.

Dokumentasi official bangbangwetan
Dengan latar belakang sejarah tersebut, moderator bertanya kepada para jamaah, sebenarnya seseorang, lembaga, atau institusi apa yang pantas menyandang gelar keris di negara ini. Salah satu jamaah bernama Mas Fikri menjawab bahwa keris dalam beberapa literatur sejarah juga dimaknai sebagai ketajaman berpikir karena bentuk fisiknya yang semakin ke atas semakin tajam. Maka, menurutnya yang memiliki sifat itu pada masa sekarang adalah mahasiswa atau generasi muda yang diidam-idamkan bangsa sebagai generasi emas.
Guna memberi sedikit penajaman bagi jamaah, moderator menambahkan bahwa keunggulan keris tak berhenti pada aspek filosofi maupun simbolisme belaka. Jika dibedah dari kacamata sains dan teknologi material, keris sejatinya adalah puncak pencapaian metalurgi, baik pada eranya, bahkan hingga hari ini. Di saat peradaban-peradaban besar dunia seperti Cina, India, Jepang, hingga Viking baru mampu mengolah 1-2 jenis logam saja dalam satu bilah senjata, empu-empu kita di Nusantara sudah melompat lebih jauh melalui mahakarya yang bernama Keris.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.45, saat sesi pertama seharusnya berakhir. Sesuai dengan rundown, acara pun beralih ke sesi kedua. Mas Dewo menjadi penjaga transisi acara dengan kembali membawakan beberapa nomor lagu, sekaligus agar pikiran dan hati jamaah cooling down setelah diserbu berbagai konsep dan kisah sejarah. Lagu-lagu yang dilantunkan Mas Dewo menjadi pengiring naiknya Mas Sabrang, disusul Gus Miftah, dan Mas Aminullah. Kala itu, tidak biasanya Mas Sabrang mengenakan peci hitam dan baju lengan panjang berwarna navy. Dalam beberapa edisi BangbangWetan sebelumnya, Mas Sabrang lebih sering menggunakan kaus oblong tanpa kopiah.
Keris sebagai Maqam Tertinggi Manusia
Setelah Mas Dewo selesai dengan lagunya, moderator langsung mengarahkan waktu berbicara kepada Gus Miftah. Harapannya, makna Curiga Manjing Warangka atau keris sebagai marwah dapat dibaca secara teologis. Sebab, latar belakang Gus Miftah sangat cocok untuk menguraikan dalil, hadis, maupun kalam-kalam ulama.
Gus Miftah membuka pernyataannya dengan kalimat, “Maqam tertinggi manusia adalah menjadi sosok keris, sosok yang jujur, dan berwibawa.” Pernyataan itu disusul dengan keresahan Gus Miftah terhadap bentuk sekolah-sekolah yang ada karena lebih banyak menghasilkan output cangkul daripada keris. Maksudnya, output pendidikan lebih banyak berfokus pada fungsi ekonomi, bukan pada pembentukan sifat-sifat kewibawaan sebagai manusia sejati.

Dokumentasi official bangbangwetan
Gus Miftah juga menyoroti bagaimana banyak jam’iyah ijtima’iyah atau kelompok sosial yang seharusnya para anggotanya ikhlas lahir batin mendedikasikan dirinya. Namun, justru menjadikan kelompok sosial tersebut sebagai institusi yang bersifat cangkul, yakni berorientasi pada kepentingan ekonomi. Meskipun pada praktiknya dalam upaya merawat keberlangsungan jam’iyah keris tetap membutuhkan peran cangkul atau pedang, bukan berarti jam’iyah ini lantas dijadikan alasan untuk mencari keuntungan pribadi.
Untuk memungkasi pernyataannya, Gus Miftah berpesan kepada jamaah yang memiliki kelompok sosial, khususnya para pengiat BangbangWetan.
“Jangan konversikan darma sosialmu ke urusan dunia karena itu rugi. Konversikan darma sosialmu ke urusan akhirat, maka kamu akan beruntung.”
Riuh tepuk tangan itu menjadi transisi menuju Mas Aminullah untuk memberikan pandangannya. Mas Aminullah menyambung apa yang disampaikan Gus Miftah mengenai darma sosial yang selalu diajarkan Mbah Nun kepada seluruh jamaah Maiyah. Mbah Nun menyebutnya dengan “menyedekahkan waktu, tenaga, dan cinta untuk Indonesia”. BangbangWetan menjadi simbol dari penyedekahan itu. Berkumpul setiap bulan hingga tengah malam hanyalah salah satu wujud cinta dan kepedulian kepada Indonesia.
Mengurai Benang Kusut Bangsa dengan Nilai Keris
Semangat yang menggebu-gebu untuk menyedekahkan cinta kepada Indonesia itu menjadi suasana pengantar menuju Mas Sabrang. Beliau mengawali pembicaraan dengan mengungkapkan bahwa situasi Indonesia sekarang seperti benang kusut yang sangat sulit “diudari“. Bahkan, tidak hanya kusut, tetapi juga sudah jatuh ke aspal sehingga persoalannya semakin kompleks. Suasana jamaah yang awalnya menggebu-gebu pun berubah menjadi hening dan penuh perenungan.
Keruwetan yang digambarkan dengan benang kusut itu membuahkan pertanyaan. Lalu, bagaimana kita “ngudarinya“!? Mas Sabrang kemudian langsung menanyakan kepada jamaah tentang konsep “suara rakyat adalah suara Tuhan”. “Percaya atau tidak?” tanyanya.
Suara jamaah terbagi. Ada yang percaya dan ada pula yang tidak. Mas Sabrang menekankan bahwa kita tidak menyadari justru ungkapan itulah yang menjadi persoalan yang sulit diurai. Sebab, ketika kita meyakini bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, tanpa melibatkan nilai ketuhanan itu sendiri apa bedanya kita dengan Fir’aun? Dengan demikian, mungkin saja malaikat tidak lagi berkenan mendampingi kita untuk memecahkan persoalan di Indonesia. “Hayoo, katanya suara kalian adalah suara Tuhan. Beresi sendiri sana masalahmu,” canda beliau.

Dokumentasi official bangbangwetan
Mas Sabrang kemudian menarik pembahasan satu langkah ke belakang. Bahwa tujuan diciptakannya negara Indonesia adalah agar kita memiliki tujuan dan cita-cita yang sama. Hal itu telah tercantum dalam UUD. Maka, ketika Indonesia menghadapi berbagai persoalan, itu bukan semata-mata persoalan interpretasi kita, melainkan karena perilaku negara dan pemerintah yang tidak sesuai dengan tujuan yang telah kita cita-citakan bersama.
Mas Sabrang menegaskan kembali bahwa, “Maiyah mencintai Indonesia karena Allah. Mencintai Indonesia itu sudah menjadi ubudiyah jamaah Maiyah. Maiyah harus lebih baik dari apa yang dicintai serta terus berusaha memperbaikinya.” Pernyataan itu sekaligus memperjelas bahwa Maiyah adalah buatan Allah, bukan buatan manusia. Maiyah hanya bisa dibubarkan oleh Allah itu sendiri.
Sedikit demi sedikit, pernyataan Mas Sabrang mulai menyentuh tema keris. Mas Sabrang memahami adanya disfungsi, dari yang semula cangkul menjadi keris, keris yang mencangkulkan diri, atau pedang yang beralih fungsi menjadi pencangkul. Beliau mengajak jamaah untuk berpikir dari akar persoalan. Sebenarnya, apakah kita benar-benar memahami makna keris atau tidak?
“Yang layak menyandang fungsi keris di negara ini adalah para kiai dan ulama. Merekalah yang memiliki fungsi agar umatnya selalu dekat dengan Allah. Adapun dunia yang lain, seperti dunia politik, sangat kecil jika dibandingkan dengan lingkup pengabdian kiai dan ulama,” ujarnya.
Mas Sabrang selalu berharap agar para agamawan kembali kepada khittah-nya, menemani dan membimbing umat agar selalu memiliki martabat dalam dirinya. Harapannya, merekalah yang menjadi ujung tombak perdamaian dari segala macam konflik yang terjadi di Indonesia.
Meniti Jalan Keris dalam Kepemimpinan
Sudah hampir tengah malam. Sesi diskusi BangbangWetan sampai pada bagian yang paling utama, yaitu tanya jawab. Beberapa jamaah mulai naik ke atas panggung guna mengajukan pertanyaan kepada para narasumber malam itu. Ada Mas Rio dari Gresik yang bertanya ketika ada pemimpin zalim dan kita berkesempatan untuk menggantikannya, apakah kita memiliki potensi yang sama untuk berbuat zalim juga dan apakah kita akan melakukannya?
Pertanyaan yang hampir senada juga datang dari Mas Rahman, jamaah asal Sidoarjo. Ia bertanya, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa menjadi pemimpin itu merupakan nafsu atau perintah Allah?
Mas Sabrang langsung menjawab bahwa sudah pasti kita akan seperti orang yang kita gantikan. Sebab, rusaknya negara ini karena sistem yang memaksa orang baik terpaksa berbuat jahat. Jika tidak berbuat seperti itu, kita akan menjadi orang yang kalah dalam sistem tersebut. Mas Sabrang mengibaratkan kondisi itu sebagai sebuah “main game“.
“Menjadi seorang pribadi yang masuk dalam sistem yang buruk dan jahat itu seperti masuk ke dalam sebuah game. Apa yang harus kita lakukan!? Mainlah dengan bagus dan cantik. Jadilah pemenang dalam game tersebut. Terima segala risiko karena harus berbuat kotor. Setelah menguasainya, ingat janjimu untuk mengubahnya,” ujarnya.
Mengenai pertanyaan tentang bagaimana mengetahui bahwa menjadi pemimpin itu merupakan nafsu atau perintah Allah, Mas Sabrang secara tegas bertanya kembali. Apakah menjadi pemimpin itu atas dasar keinginanmu sendiri atau karena ingin memperbaiki sistem yang akan kamu pimpin? Jika hanya berasal dari keinginan untuk memimpin tanpa bercita-cita memperbaiki apa yang dipimpin, maka itu adalah nafsu.
Masih berkaitan dengan kepemimpinan, terdapat penanya dari Surabaya bernama Ilham yang menanyakan secara spesifik mengenai kriteria pemimpin menurut Mas Sabrang. Mas Sabrang tidak menjawab panjang lebar. Beliau hanya memberikan satu kriteria bahwa pemimpin adalah orang yang bisa dititipi mimpi rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan bukanlah sarana untuk memenuhi keinginan pribadi, melainkan mewujudkan harapan kolektif orang yang dipimpinnya.
Gayung bersambut, Gus Miftah menutup sesi tanya jawab itu dengan memberikan satu kriteria pemimpin menurut pandangannya. Beliau mengutip Max Weber yang pernah menjelaskan tentang kharisma. Seorang pemimpin harus memiliki kharisma, kewibawaan, kejujuran, dan martabat. Kharisma yang dimaksud sangat selaras dengan tema yang dikaji bersama, yaitu keris sebagai simbol dari kharisma yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin.
Sesi terakhir itu ditutup Mas Sabrang dengan sebuah narasi, “Selama kita masih berkumpul seperti ini, masih ada harapan untuk Indonesia. Yang bahaya adalah ketika semua sudah mulai sendiri-sendiri.”
BangbangWetan edisi bulan Juli ditutup secara khidmat dengan Indal Qiyam dan wirid Kun Fayakun, dengan harapan segala hajat dunia dan akhirat diridai oleh Allah. Sampai jumpa pada BangbangWetan bulan depan.

Dokumentasi official bangbangwetan
*******
Redaksi Bangbang Wetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan Bangbang Wetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.



