Terkini: Era Tahu-Tahuan

Reportase BangbangWetan Bulan Juli 2025     

Informasi kini datang begitu cepat. Layar ponsel tak henti dipenuhi notifikasi—mulai dari berita terkini hingga opini dari berbagai penjuru. Satu topik viral, dan seketika semua orang menjelma menjadi—si paling tahu, paling terkini, paling fomo—atau apapun sebutannya. Namun, apakah derasnya arus informasi itu membuat kita benar-benar lebih tahu?

Sabtu malam, 12 Juli 2025, BangbangWetan kembali hadir di halaman STIKOSA – AWS Surabaya, mengajak jamaah merenungi paradoks mendasar dari zaman ini: ketidaktahuan (ignorance) di tengah derasnya arus informasi digital.

Ketidaktahuan: Beban atau Jalan?

Majelis dibuka dengan tilawah. Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya—bedhidhing, dalam istilah Jawa. Sejumlah jamaah mengenakan jaket tebal dan duduk saling merapat, menandai kehangatan yang lahir dari semangat bersama: untuk terus belajar, bertanya, dan tidak tergesa-gesa merasa cukup tahu.

Forum kali ini dipandu oleh Mas Andik dan Mas Jembar. Sebagai pembuka, Mas Jembar mengajak jamaah membayangkan situasi ketika kita tersesat di tengah hutan, di gelapnya malam. Apakah kita akan terus melangkah tanpa tahu arah, dengan risiko menghadapi binatang buas, jalan yang licin, atau jurang yang tak terlihat? Ataukah kita memilih berhenti sejenak—mengumpulkan informasi, membaca tanda-tanda alam, atau sekadar menunggu pagi demi meminimalisir risiko?

Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Begitulah gambaran keragaman sikap manusia dalam mendudukkan ilmu pengetahuan di kehidupan sehari-hari. Ada yang merasa cukup tahu, atau bahkan tak peduli terhadap pengetahuan baru, dan tetap percaya diri bahwa jalan hidupnya akan tetap lempeng-lempeng saja. Namun, ada pula yang memilih mawas diri—aktif mencari informasi, belajar hal-hal baru, dan mempersiapkan diri sebelum melangkah lebih jauh.

Mas Andik menyambung dari sudut pandang berbeda: bahwa tidak semua ketidaktahuan harus dilawan. Dalam beberapa hal, tidak tahu justru bisa menjadi bagian dari kenikmatan hidup. Seperti menonton pertunjukan sulap—jika semua trik sudah dibongkar, apalagi yang bisa dinikmati?

Forum lalu dibuka lebar untuk suara jamaah.

Mas Fikri menyambung dengan mengutip Gus Dur, “Kunci bahagia itu sederhana: jangan mencari tahu hal-hal yang memang tidak perlu kamu ketahui.” Menurutnya, tahu itu penting—tapi tahu diri jauh lebih penting. Apalagi jika apa yang kita ketahui hanya membuat cemas, memicu debat kusir, atau sekadar jadi ajang pamer literasi.

Pertanyaannya kemudian: ketidaktahuan seperti apa yang patut diperangi? Dan bagaimana kita menilai secara bijak apa yang benar-benar kita pahami, dibanding sekadar merasa tahu?

Mas Sofwan menambahkan, saat ini kita sedang menghadapi krisis sumber pengetahuan yang kredibel. Kita cenderung lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai selera, tanpa cukup bertanya dari mana asalnya, atau siapa yang diuntungkan oleh narasi itu. Dalam dunia yang kian gaduh, literasi bukan hanya soal bisa membaca—tetapi kemampuan memilah, menyaring, dan bertanya ulang: dari mana ini berasal?

Malam itu, BangbangWetan menjadi ruang bagi ratusan orang untuk belajar bersama. Dengan satu kesepahaman sederhana: merasa cukup tahu adalah jebakan paling plot twist di era digital saat ini.

Menimbang Akal, Membuka Gerbang Ilmu

Usai tilawah dan pembuka forum, moderator menyambut hangat para narasumber malam itu: Mas Amin Tarjo dari penggiat BangbangWetan, Mbak Aulia—seorang presenter sekaligus politisi, Mas Tridjoyo sang penyiar dakwah, serta Pak Suko dan Mas Probo dari kalangan akademisi.

Panggung pertama malam itu diberikan kepada Mas Probo. Dengan tenang, ia membuka pemaparannya:

“Ketidaktahuan adalah sesuatu yang samar, tak terlihat, tapi bisa sangat menentukan arah hidup manusia.”

Ia mengutip Steve Jobs—“Stay hungry, stay foolish”—dan mengaitkannya dengan kesadaran akan keterbatasan diri. Menurut Mas Probo, kesadaran bahwa kita belum tahu justru bisa menjadi motor penggerak untuk terus belajar, dengan niat yang tulus dan berkelanjutan.

Lebih jauh, ia mengaitkan fenomena ketidaktahuan dengan zaman Jahiliyah sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad SAW. Kebodohan saat itu bukan hanya karena minimnya akses terhadap ilmu, tetapi karena masyarakat nyaman dalam ketidaktahuan yang struktural dan spiritual.

“Sering kali, ketidaktahuan itu justru menenangkan. Kita terlena oleh pengetahuan yang dangkal dan merasa cukup,” ujarnya.

Dalam konteks itu, lanjutnya, forum seperti BangbangWetan tidak hadir untuk menggurui, melainkan untuk membangkitkan kesadaran bahwa berpikir adalah bagian dari ibadah. Maiyah bukan ruang kuliah, tetapi ruang membangunkan diri dari kelengahan intelektual.

Sesi diskusi diselingi penampilan musik dari Mas Dewok dan Mas Aan yang membawakan lagu Dalam Peluk Jiwa. Mas Dewok turut berbagi proses kreatif bermusik, sekaligus menyampaikan harapan agar kreativitas terus menjadi berkah.

Setelah itu, Pak Suko angkat suara. Ia berbagi kesan personal tentang bagaimana Cak Nun menjadi jembatan ilmu yang sulit ia temukan di ruang akademik.

“Apa yang saya terima dari beliau membuat saya tidak hanya lebih paham, tapi juga lebih ayem,” ucapnya.

Mas Tridjoyo kemudian mengambil alih, dengan gaya khas ngobrol cangkrukan. Ia memotret Maiyah sebagai cara belajar yang membumi tapi mendalam. Ia mengangkat momen penting Nabi Muhammad SAW di Gua Hira—menerima wahyu pertama: Iqra’, bacalah.

“Seruan ini bukan sekadar membaca teks. Tapi membaca realitas. Manusia, dalam pandangan Qur’an, adalah makhluk berakal. Ia dituntut untuk berpikir, merenung, dan menimbang.”

Mas Tri menyindir fenomena medsos hari ini:

“Zaman sekarang, yang punya ilmu bisa kalah oleh yang lebih pandai bicara. Dokter bicara medis, dibilang sok tahu. Ahli tafsir memberi pandangan, malah dikafirkan.”

Menurutnya, ketidaktahuan seringkali bersumber dari tidak digunakannya akal. Ia mengutip ayat afalā ta‘qilūn sebagai ajakan untuk menjadikan akal sebagai alat utama menghadapi zaman yang gaduh dan manipulatif.

Ia mengilustrasikan dengan analogi ringan & sedikit menyentil pemahaman:

“Naik bus di jalur curam. Yang tahu akan merasa cemas. Yang tidak tahu bisa santai menikmati pemandangan.”
“Dalam hal ini, tidak tahu memang bisa menenangkan, tapi tidak bisa dijadikan alasan untuk terus membiarkan diri dalam gelap.”

Mas Tri mengingatkan bahwa dalam fiqh, orang yang tidak tahu memang tidak dikenai hukum. Tapi itu bukan akhir. Ia tetap wajib mencari tahu, menggali dari sumber yang sahih, dan menyaringnya dengan akal—itulah makna Iqra’ hari ini.

Ia menutup dengan pesan praktis: bertanyalah pada ahlinya. Jangan tanya soal kesehatan ke ahli tafsir, atau sebaliknya. Pengetahuan ada pada tempat dan bidangnya masing-masing.

Mbak Aulia melengkapi diskusi dari perspektif sosial dan pendidikan. Ia mengutip Imam Syafi’i:

“Selama aku masih bernapas, aku akan terus belajar.”

Ketidaktahuan, menurutnya, bisa berarti unconsciousness—keadaan diam saat dunia bergerak cepat. Ia mengkritik budaya scrolling yang pasif dan malas, serta menyayangkan semakin menurunnya kebiasaan membaca buku.

“Orang paling bodoh bukan yang tidak sekolah, tapi yang berhenti belajar,” ucapnya, mengutip Ali bin Abi Thalib.

Ia juga menyoroti pentingnya sastra dalam sistem pendidikan. Bagi Mbak Aulia, sastra bukan sekadar pelajaran estetika, tapi cara untuk mempertajam nalar dan empati—dua hal yang penting untuk melawan apatisme dan ketumpulan berpikir.

“Kampus bukan sekadar tempat kuliah. Ia adalah ruang untuk melatih akal. Membaca adalah bentuk perlawanan: terhadap kebodohan, terhadap manipulasi, dan terhadap ketidaktahuan yang disebarkan secara sistematis.”

Tak ada yang memegang kebenaran mutlak malam itu. Tapi semua sepakat, bahwa memahami ketidaktahuan adalah langkah pertama untuk menjadi manusia yang tidak terjebak oleh kesombongan tahu.

Cangkruk Bareng, Tumbuh Bareng

Malam makin larut, tapi semangat belum juga surut. Moderator menyemangati forum dengan pekik khas Surabaya, “Salam satu nyali!”
“Wani!” sahut jamaah serempak. Suasana semarak kembali.

Sesi respon jamaah pun dibuka. Mas Fuad menjadi yang pertama angkat suara.

“Saya sering merasa takut kelihatan bodoh kalau bertanya. Tapi malam ini saya sadar, mungkin ketakutan itu justru yang bikin saya mandek belajar.”
Ucapannya disambut anggukan pelan dari sekelilingnya.

Dari barisan belakang, seorang ibu ikut menyela,

“Anak saya lebih percaya TikTok daripada saya. Saya bingung harus menyikapinya bagaimana.”
Keluhan sederhana, tapi mewakili keresahan banyak orang tua hari ini.

Mas Ahmad dari simpul Maiyah Damar Ate – Sumenep, berbagi pandangan tajam tentang banjir informasi digital.

“Kita menyebutnya smartphone, tapi perilaku kita makin dumb,” ujarnya, disambut tawa kecil jamaah.
Menurutnya, masalah bukan pada gawainya, tapi pada kendali diri—bagaimana membatasi, menyaring, dan tetap sadar di era digital yang serba cepat.

Ia juga menyampaikan kerinduannya pada semangat keilmuan di masa Keemasan Islam—saat ilmu pengetahuan berkembang pesat di segala bidang.

“Kini justru kita terbalik—punya akses, tapi malas menyelami. Punya waktu, tapi habis untuk scroll,” tambahnya.

Mas Jordan lalu bertanya, bagaimana cara memahami bacaan berat, sementara minat baca makin menurun.

Forum kemudian diselingi penampilan musik dari Mas Dewok yang membawakan lagu Creep dan Wonderwall, membawa suasana jadi lebih santai dan cair.

Sesi berlanjut. Mas Luqman mengangkat keresahan di era AI.

“Jawaban bisa dicari dengan mudah sekarang. Tapi bagaimana menyaringnya, dan memastikan kita tetap belajar—itu tantangan sebenarnya.”
Menurutnya, niat dan metode belajar jadi krusial, bukan sekadar kecepatan mencari informasi.

Mas Angga menambahkan ironi zaman:

“Katanya ekonomi sulit, tapi flash sale tetap ludes. Konsumerisme terus tumbuh, bahkan saat narasi krisis ekonomi dan ancaman perang berseliweran.”
Ia juga merespons pernyataan Mbak Aulia tentang pentingnya membaca buku.
“Buku memang mahal. Tapi pengetahuan tetap bisa diakses. Gunakan ePusnas, perpustakaan digital gratis. Selalu ada jalan.”

Forum malam itu jadi panggung bersama. Bukan hanya untuk para narasumber, tapi juga untuk mereka yang selama ini diam—untuk bersuara, bertanya, bahkan sekadar mengakui bahwa tak tahu pun bisa jadi awal tumbuh.

Pengetahuan yang Tidak Terburu-buru

Setelah beragam suara dari jamaah mencuat, moderator memberi kesempatan kepada narasumber untuk menanggapi. Tidak semua pertanyaan bisa langsung dijawab malam itu—beberapa mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk direnungkan bersama. Namun seperti biasa, forum BangbangWetan tidak mengejar jawaban tuntas, melainkan ruang untuk terus menggali.

Mas Amin Tarjo kembali merespons dengan tenang. Ia mengapresiasi keberanian jamaah dalam menyampaikan keresahan.

“Bertanya bukan hanya karena tidak tahu, tapi karena ingin tumbuh. Itu yang kita rawat bersama di sini,” ujarnya.

Terkait pertanyaan Mas Jordan soal bacaan berat, Mas Amin menegaskan pentingnya deep learning—bukan belajar semua hal sekaligus, tapi mendalami satu bidang sebagai pijakan awal. Ia juga menekankan kembali pentingnya memetakan diri dalam tiga lingkar pengaruh agar bacaan dan tindakan bisa selaras dengan kapasitas dan kesempatan masing-masing.

Mas Tridjoyo menanggapi soal keresahan zaman AI dan scrolling culture.

“Cepat bukan berarti cerdas. Kita memang bisa tanya apa saja ke mesin, tapi kesadaran memilih jawaban tetap butuh manusia,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa akal bukan sekadar alat berpikir, tapi juga penyaring, penimbang, bahkan pelindung jiwa dari kebisingan zaman.

Sementara itu, Mas Probo mengomentari pernyataan Mas Ahmad tentang smartphone.

“Teknologi itu netral. Tapi siapa yang memegangnya— akal yang jernih, atau nafsu yang gaduh—itulah yang menentukan ke mana ia akan membawa kita.,” tuturnya.
Ia juga menyinggung soal kerinduan pada semangat keilmuan masa lalu, seraya mengingatkan bahwa tantangan hari ini bukan pada ketiadaan akses, melainkan keengganan untuk memperdalam.

Mbak Aulia menanggapi keresahan ibu-ibu yang anaknya lebih percaya TikTok ketimbang dirinya.

“Wajar jika kita merasa kalah cepat. Tapi jangan sampai menyerah. Kekuatan kita justru di kedalaman. Anak-anak mungkin cepat belajar, tapi orang tua bisa jadi tempat bertanya yang lebih tenang,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif seperti ePusnas, dan menambahkan pentingnya membiasakan diskusi dalam keluarga—sebagai bentuk literasi yang hidup, bukan sekadar membaca teks.

Moderator sempat mengingatkan jika ada satu dua pertanyaan yang belum sempat tertanggapi, bukan karena dilupakan, tapi karena waktunya yang terbatas.

“Kita rawat bersama pertanyaan itu. Mungkin akan kita temukan jawabannya di forum berikutnya, atau bahkan dalam hidup sehari-hari,”tutupnya.

Menutup dengan Kesadaran, Bukan Kesimpulan

Menjelang akhir forum, para narasumber memberi penutup masing-masing. Bukan sebagai kesimpulan mutlak, tapi sebagai suluh kecil—penanda arah, bukan titik akhir.

Mas Probo menekankan bahwa forum seperti BangbangWetan bukan ruang untuk menghakimi ketidaktahuan, melainkan untuk menyadari bahwa tak tahu adalah bagian dari menjadi manusia.

“Berani mengakui tidak tahu, adalah syarat pertama untuk belajar dengan benar,” ucapnya.

Pak Suko menambahkan bahwa proses mencari ilmu—sekecil apapun bentuknya—adalah cara untuk menjaga hati tetap hidup. Forum ini, baginya, bukan hanya soal tahu, tapi soal membiasakan diri untuk tidak berhenti bertanya. Dan itulah cara terbaik untuk tetap waras di zaman yang sering kali membingungkan.

Mas Tridjoyo kembali menegaskan bahwa tolabul ‘ilmi, menuntut ilmu, adalah kewajiban bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Ia mengingatkan bahwa membaca dan belajar bukan sekadar menghafal, tapi berpikir, mengamati realitas, dan mengolahnya jadi hikmah. Ilmu, katanya, bukan sekadar pengetahuan, tapi pemahaman yang lahir dari kedalaman jiwa dan kesadaran akal.

“Bismillah, Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Semoga Allah senantiasa menuntun kita dalam pencarian kebenaran ilmu pengetahuan”, tutup Mas Tri.

Mbak Aulia, memberi kalimat penutup. “Membaca adalah kunci peradaban. Dunia adalah milik mereka yang sadar—dan kesadaran hanya bisa lahir dari pengetahuan yang terus diperjuangkan.”

Mas Amin Tarjo menutup malam dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber dan jamaah yang telah membersamai. Ia mengingatkan bahwa sebelum pemahaman sampai ke otak, kita butuh banyak informasi—yang kemudian diolah menjadi persepsi, lalu membentuk kerangka berpikir atau framing.

Namun, ia menggarisbawahi: tidak semua pemahaman personal bersifat komunal. Bisa jadi, apa yang kita yakini hanyalah hasil dari bias pribadi yang belum diuji. Di sinilah pentingnya menjaga ruang diskusi seperti BangbangWetan—agar pendapat personal bisa diuji bersama, disandingkan, dikritisi, dan mungkin suatu saat tumbuh menjadi pemahaman bersama.

“Bukankah sepuluh lidi yang diikat akan lebih kuat daripada satu yang berdiri sendiri?” ucapnya. Beliau berharap BangbangWetan akan terus menjadi ruang terbuka untuk menyemai kesadaran, tempat berpikir tanpa paksaan, dan bertumbuh tanpa takut salah.

Malam pun ditutup dengan lantunan indal qiyam. Sebuah ayat menjadi penanda, bahwa perjalanan belajar masih jauh dari usai

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” — QS Al-Kahfi: 109

Sampai jumpa di BangbangWetan edisi berikutnya. Tetap lapar akan makna, dan jangan cepat kenyang oleh wacana.


Redaksi BangbangWetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan BangbangWetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top