Undang-Undang Benang Layang

Reportase Bangbangwetan Bulan April 2025
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Majelis BangbangWetan edisi April 2025 kembali diselenggarakan, kali ini bertempat di pelataran Stikosa. Tema malam itu, Junta Layang-Layang, terdengar seperti mainan, namun menyimpan kegelisahan. Dalam bermain layang-layang ada sebuah pertanyaan, kita yang bermain atau kita sedang dimainkan? Bukankah lebih syahdu kalau bisa main bareng-bareng. Mari kita menengadah bersama, melihat sedikit layang-layang di angkasa. Masihkah layang-layang bernama demokrasi itu terbang?

Ruang ini bukan tempat untuk menunjuk siapa benar siapa salah, hanya lingkaran kecil untuk saling berbagi kegelisahan. Dari sana, kadang muncul keberanian untuk bertanya — bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri: sudah sejauh mana kita menjaga benang kendali atas layang-layang demokrasi ini?

I. Ketentuan Umum

Majelis dibuka dengan tilawah Juz 16 hingga 18, dari Surah Al-Kahfi hingga Al-Furqan—kisah para nabi, ujian hidup, dan pentingnya petunjuk Ilahi dalam menentukan arah. Sebelum berbicara siapa pemegang kendali demokrasi, kita diajak kembali ke titik awal: pasrah. Bukan lepas, tapi bersandar pada Sang Maha Menggenggam, agar arah tak perlu diperebutkan.

Moderator pun hadir. Narasumber turut membersamai; Mas Probo Darono, Mas Ahmad Zayn, Mas Totenk Rusmawan & Mas Irfa’I Arham. Sebelum masuk ke tema, mereka bergiliran berbagi pengalaman ber-lebaran yang baru saja berlalu.

Ada cerita tentang rasa syukur atas kesempatan berkumpul dengan keluarga. Ada juga kisah tentang indahnya berbagi dengan tetangga. Hal remeh memang, menikmati setiap momen sederhana di sekeliling kita. Meski di tengah riuhnya berita korupsi, perang dagang, ataupun harga sembako terus naik. Nyatanya, selalu ada ‘rumah’ untuk kembali. Rumah yang bukan hanya fisik, tapi juga ruang batin. Tempat di mana kita bisa khusyuk, bisa tenang, bisa merasa cukup.

Adegan babar tema pun dibuka. “Rumah Indonesia,” ujar moderator perlahan, “tampaknya juga memungkinkan untuk khusyuk. Tapi… khusyuk yang agak beda. Lihat saja berita-berita korupsi di BUMN. Gila-gilaan. Saking fokus & ‘khusyuknya’, duwek endi wae dijupuk. Belum lagi kecemasan akan kemungkinan militer masuk ke ruang sipil. Lantas pertanyaannya, militer yang ingin masuk, atau sipilnya sendiri yang tidak khusyuk menjaga rumahnya?”

Pada titik ini, diskusi sudah mulai bergerilya, menyusup di sela pikiran jamaah melampaui soal layang-layang—menyentuh tentang rumah, arah, dan siapa yang masih memegang benang kendali.

II. Panggung Olympus

Mas Probo Darono membuka dengan membedah UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Undang-undang ini membagi dua peran militer; operasi perang untuk melawan ancaman eksternal seperti serangan siber atau drone; dan operasi selain perang yang membuka ruang keterlibatan militer di sipil, lewat Babinsa dan aparat teritorial. Revisi UU TNI, kata Mas Probo, justru memperlebar celah ini. Forum akademik pun kini dihantui kehadiran intel dan aparat. “Ini bukan cuma soal kampus,” ujarnya, “tapi soal hak warga negara untuk berpikir dan bicara tanpa takut.”

Moderator menimpali dengan petuah simbah:

Berperanlah sesuai cekelan alat. Petani yang memegang pacul, ya bertani. Jangan malah nyetir pesawat.”

Setelahnya, forum diselingi oleh duet Mbak Intan dan Mas Dewo yang menyanyikan lagu “Aku Milikmu” dari Dewa 19, seperti gambaran hubungan rakyat dengan negara: milik siapa sesungguhnya?

Mas Ahmad Zayn lalu membawa tafsir demokrasi dari buku Mbah Nun: Demokrasi laa raiba fiih—tak ada keraguan. Secara teori, kedaulatan rakyat. Tapi praktiknya? Hukum bisa diatur demi kuasa. Beliau berseloroh, “Andai pemimpin kita seperti Gold D Roger, tokoh fiksi yang justru meninggalkan warisan harapan, bukan menguasai sumber daya.” Jamaah tertawa—karena fiksi kadang terasa lebih waras dari kenyataan.

Mas Totenk mengaitkan kekuasaan dengan kisah Bisma dan Kronos—dua tokoh dari timur dan barat yang sama-sama dikalahkan oleh hasrat mengendalikan. “Bahkan dalam rumah tangga, kuasa mertua bisa mengguncang. Apalagi negara.” Ia mengutip Athena, dewi perang dan kebijaksanaan: strategi terbaik adalah tidak berperang, tapi tetap siaga. Ironisnya, makan besok saja kita belum siap—kita sudah kalah, bahkan sebelum peluit pertandingan dimulai.

Diskusi kembali ke benang merah: junta—tarik ulur kekuasaan. Mas Irfa’i menengok sejarah militerisme kita, dari warisan KNIL hingga dwifungsi ABRI, relasi sipil-militer yang tak tuntas. Ia menyinggung kepemimpinan Islam awal—dari Abu Bakar hingga Ali—berbasis musyawarah. Namun setelah Ali, muncul Dinasti Umayyah: kekuasaan bergeser ke monarki, militer jadi alat legitimasi, dan politik Islam pun berubah arah. Ketika rakyat tak lagi punya ruang, negara milik bersama menjadi hilang. Yang tersisa hanyalah kekuasaan tanpa tanggung jawab.

Moderator mengakhiri dengan gurauan getir: “Kalau mental gak siap, mending ngopi. Toh, ngopiku ini… gak dibayari negara.” Tawa jamaah pun pecah.
Setelah rentetan sejarah dan refleksi, Mas Dewo menutup sesi dengan lagu akustik Pengelana: “Dimana kuterpaku… termakan waktu… tersentak akan teguran bumi… tanahku merintih… langitku kelam… kita dipaksa durja pertiwi… dipaksa hati tuk renungi…”

III. Kuasa MasaPahit

Sesi selanjutnya diwarnai kehadiran Pak Zainal, Mas Amin, dan Mas Sabrang. Mas Amin merangkai benang diskusi: dari bedah UU TNI oleh Mas Probo, kritik kekuasaan oleh Mas Zayn, hingga tafsir demokrasi dari Mahabharata, Yunani, hingga Dinasti Umayyah oleh Mas Totenk & Mas Irfa’i. Semua, berpulang pada satu hal: cinta Indonesia.

Mas Sabrang menyela dengan candaan, “Yang minta saya nyanyi, sini tak tapuk cangkemmu.” disambut gelak tawa. Lalu ia bertanya serius: Panggung apa yang sebenarnya sedang kita mainkan?”

Jika ini panggung demokrasi, maka yang dibicarakan adalah cara hidup bersama. Demokrasi, seperti pernikahan atau komunitas, butuh aturan dan trust—bukan sekadar sistem, tapi fondasi hidup bersama. Di semua bentuk kekuasaan, kepercayaan adalah kunci: monarki punya mitos raja-dewa, teokrasi bersandar pada ayat, dan demokrasi seharusnya bertumpu pada hukum. Tapi kini, kepercayaan publik nyaris runtuh. “Pencuri bambu dihukum 1,4 tahun, pencuri triliunan hanya 6,5. Gimana mau percaya?”

Akar persoalan saat ini adalah, kita kehilangan ruang bersama yang bisa dipercaya. Mas Sabrang lalu mengulas revisi UU TNI dari sudut pandang yang lebih praktis. Ia menyadari, dalam konteks kekuasaan yang terfragmentasi menjadi potongan kue-kue kekuasaan, Presiden baru kadang tak punya cukup “kaki” untuk mengelola negara. Di sisi lain, bekas kekuasaan lama masih punya jejak di banyak tempat. Kalau tidak punya pasukan khusus sendiri, bagaimana bisa mengatur strategi? Tapi kalau semua diambil alih, rakyat jadi curiga. Maka tantangannya adalah menjaga keseimbangan kepercayaan.”

Kepercayaan, adalah hal yang paling sulit dibangun dan paling mudah rusak. Bahkan Nabi pun dikenal sebagai Al-Amin—yang terpercaya—jauh sebelum menerima wahyu. Dan hari ini, yang kita butuhkan bukan pemimpin yang menyenangkan semua orang, tapi yang bisa dipercaya untuk mengambil keputusan sulit demi kebaikan bersama.

Mas Sabrang menekankan bahwa solusi negara tak pernah one way solution, yang ada hanya solusi optimal. “Rakyat itu di lembah, bukan di bukit. Jenderallah yang di bukit, yang harus melihat gambaran besar dan menyiasati strategi.” Kepercayaan rakyat pada jenderalnya jadi hal krusial: bahwa keputusan yang diambil bukan untuk pribadi, tapi untuk kebaikan semua.

Mas Sabrang melontarkan pertanyaan untuk permenungan: “Demokrasi bagian mana yang hendak kita jaga? Nama? Ritual? Dogma? Bukan. Yang ingin kita jaga adalah semangat dasarnya: rule of game yang adil dan berpihak pada kebaikan.” Beliau menegaskan, ini bukan ajakan revolusi, tapi ajakan kembali ke akal sehat demokrasi. Kepada hukum yang bisa dipercaya. Kepada cinta pada tanah air—karena kita masih sayang pada tanah air Indonesia.

Mas Sabrang menutup dengan cerita crowd wisdom. Dalam sebuah riset, netizen disuruh menebak berat seekor sapi lewat foto. Individu banyak yang meleset. Tapi ketika semua tebakan dirata-rata, hasilnya justru lebih akurat dari Google AI. Pesan terkandung di dalamnya sederhana:
“Makin banyak suara, makin jujur sistemnya. Tinggal bagaimana kita mengelola dan menyaringnya menjadi keputusan bersama yang adil.” Pendapat personal berkumpul pendapat komunal, menjadi crowd wisdom. Semoga setiap kebijakan publik, benar mencerminkan crowd wisdom dari keseluruhan rakyat Indonesia.

IV. Benang yang Meregang

Moderator membuka sesi tanya jawab. Biarlah crowd wisdom jamaah terbentuk ke segala arah.

Mas Budi membuka dengan kisah klasik dari masa Kaisar Bizantium—tentang rakyat yang tak lagi bisa menjangkau kekuasaan. “Kadang, hashtag terbaik ya: kabur aja dulu,” selorohnya. Kabur sebagai mekanisme bertahan hidup.

Mas Rizki menimpali getir, mempertanyakan qada dan qadar: “Apa kita ditakdirkan jadi buruk? Lalu bisa apa?” Bahkan menghadapi tilang, katanya, sudah cukup bikin gemetar. Harapan terasa kecil dalam sistem sebesar ini.

Mas Tigar memperkuat pernyataan Mas Sabrang: bahwa sistem hanyalah cerminan manusia. Jika manusianya rusak, sistem apa pun bisa jadi alat penindasan.

Mbak Yulia membawa perspektif lebih halus: “Kalau cinta jadi dasar bernegara, sejauh apa kita menyerah pada cinta itu?” Ia mempertanyakan apakah kita sungguh punya free will, atau hanya wayang yang tak bisa memilih lakonnya.

Mas Alde menyasar tren netizen yang lebih percaya figur ketimbang sistem. “Masih mungkinkah membangun infrastruktur kepercayaan?” Tanyanya lirih, tapi tajam.

Mas Hada’ menyentil jargon optimis: “Katanya Indonesia Emas 2045, tapi yang terasa malah cemas. Kita ini subjek atau objek demokrasi?”

Mas Irfa’i menutup dengan pendekatan perbandingan: bisa kah kita belajar dari negara-negara yang lebih stabil? Bukan sekadar meniru sistem, tapi membentuk watak politik yang matang.

Suasana pun mencair. “Wis adoh-adoh numpak kereta, disuruh mikir negara, saiki nyanyi sak nomer… asem tenanan,” celetuk Mas Sabrang, memancing tawa pelataran. Ia pun mengajak jamaah menyanyikan Sebelum Cahaya—dengan sukacita.

“Kuteringat hati yang bertabur mimpi… Kemana kau pergi, cinta… Perjalanan sunyi engkau tempuh sendiri… Kuatkanlah hati, cinta…”

V. Rajut Asa, Rajut Bangsa

Moderator mengucapkan terima kasih atas benang-benang tanya dan keresahan yang dibentangkan. Lalu mempersilakan narasumber menenunnya kembali.

Pak Zainal mengawali, cinta adalah intisari dari semua ini. Mengutip Letto: Cinta itu serpihan surga.”
Cinta yang bukan cuma romantik, tapi kasih sayang terhadap komunitas, keluarga, dan negara.

Mas Totenk menjawab dengan membawa kita pada ayat Surah Ar-Ra’d:11: “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” Beliau menegaskan bahwa perubahan takdir lahir dari perubahan karakter. Pengetahuan membentuk kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter. Karakter itulah yang menjemput takdir.

Mari kita ambil contoh sederhana. Katakanlah seseorang memiliki pengetahuan lengkap tentang martabak—dari memilih bahan, mengolah adonan, hingga strategi menjual di pinggir jalan. Jika hari demi hari ia tekuni, lambat laun masyarakat mengenalnya sebagai penjual martabak. Ia membentuk kebiasaan, kebiasaan itu membentuk karakter, dan karakter itu, dalam jangka panjang, akan menenun takdirnya, sebagai Tukang Martabak.

Hikmah yang ingin digarisbawahi adalah: takdir bukan sesuatu yang datang begitu saja dari langit tanpa sebab. Ia ditenun perlahan oleh apa yang kita ketahui, apa yang kita lakukan, dan siapa kita dalam keseharian. Perubahan besar lahir dari pola-pola kecil yang dijaga terus-menerus. Seperti martabak yang enak bukan karena adonan instan, tapi karena resep yang diuji berkali-kali.

Dalam konteks demokrasi, bangsa ini juga terbentuk dari “karakter” warganya. Kalau warga terbiasa pasif, terbiasa cuek, terbiasa takut bertanya, maka takdir demokrasi kita pun akan dibentuk oleh karakter itu—rapuh, gamang, dan mudah direkayasa. Sebaliknya, jika warga terbiasa membaca, bertanya, berkumpul, berpikir, dan menjaga akhlaknya, maka pelan-pelan demokrasi pun membentuk wajahnya yang lebih adil dan matang.

Mas Probo menyambung soal batasan militer: “Seberapa besar hasrat berpolitik seorang prajurit? Di situ pentingnya aturan. Tapi lebih penting lagi: kesadaran untuk tidak memanipulasi hukum & kebijakan publik.”

Beliau menambahkan, Represi hari ini tidak selalu datang dengan sepatu laras. Tapi bisa datang dari kebiasaan diam. Ketika kita terlalu sering bilang ‘percuma ngomong’, di situlah represi paling halus sedang bekerja. Kita tidak butuh revolusi. Kita butuh keberanian untuk tetap bicara, meski cuma di lingkaran kecil. Karena dari situ, kepercayaan baru lahir kembali.”

Pak Zainal kembali menekankan, bahwa cinta tak pernah bisa dipaksa. Maka kepercayaan (trust) juga tak bisa dibentuk lewat orasi melulu. Tapi dari kehadiran yang nyata, dari pemimpin yang bisa dirasakan kasih sayangnya, bukan cuma dinarasikan.

Mas Sabrang menutup dengan refleksi tajam. “Semua orang menuntut perubahan. Tapi tak banyak yang bersedia berubah.” Perubahan, tak butuh massa yang besar. Tapi butuh konsistensi yang menggelindingkan sebab-akibat.

Beliau menjawab soal qodo-qodar dengan analogi yang sederhana: game Mobile Legends. “Bahkan se-pro player apapun, kamu tidak bisa membuat hero di Mobile Legends melakukan kagebunshin no jutsu—karena itu bukan bagian dari skill set game tersebut. Ada hukum sebab-akibat yang tak bisa dilanggar.

Sama seperti hidup, kita memang tak bisa memilih seluruh hukum mainnya—siapa orang tua kita, di mana kita lahir, atau zaman apa yang kita tempati. Tapi…kita bisa memilih bagaimana kita memainkan peran dalam skenario itu. Skill-mu mungkin terbatas, tapi gayamu, strategimu, caramu membaca peta permainan—di situlah letak kebebasan memilihmu sebagai manusia.” Kamu tidak harus jadi tanker di semua pertandingan. Tapi kamu harus tahu, dalam tim yang besar, peranmu tetap penting.”

Beliau menyambung pernyataan Mas Totenk, inti membaca adalah melihat pola dari pengalaman orang lain. Itulah mengapa teks ayat Al-Quran berbunyi: jangan dekati zina atau jangan minum yang memabukkan, kenapa tidak langsung dilarang? “Otak manusia secara alamiah memproduksi dopamin saat digoda & terangsang untuk mencoba. Maka yang dilarang bukan hanya hasil akhirnya, tapi proses mendekatinya.” Sebagai pengingat manusia pada pola-pola bahaya yang sudah terbukti.

Mas Sabrang kemudian mengakhiri dengan pesan kuat: “Kemampuan bertanya adalah 50% dari memecahkan masalah. Hari ini, di zaman AI dan algoritma, manusia bukan lagi yang paling cepat menjawab. Tapi manusia tetap unggul dalam satu hal: bertanya. Maka jangan buru-buru menyimpulkan. Kumpulkan detail. Baca ulang. Terus bertanya. Dan tetap berpikir.” – Stay Foolish Stay Hungry (Steve Jobs).

VI. Hak & Kewajiban Rakyat

Mas Probo menegaskan, “Justru karena kita rakyat biasa, kita harus mulai dari hal paling dasar: jujur pada kegelisahan sendiri. Tak semua harus turun ke jalan, tapi jika kita tak berani berpikir dan bertanya, benang itu benar-benar putus.”

Mas Totenk menimpali dengan tenangnya: “Kalau benang kekuasaan tak bisa dijaga, jaga dulu benang logika. Bila logika mati karena takut, kekuasaan tak perlu senjata—cukup matikan pikiran.”

Mas Sabrang menguatkan: kepercayaan dan kekuasaan lahir dari sebab yang kompleks. Hidup berbangsa adalah permainan kolektif. Jika kita tak mengenali kelebihan dan kelemahan kita sebagai warga, bagaimana mungkin tahu peran yang harus dijalankan?

Bangsa ini takkan berubah jika rakyatnya hanya menyalahkan sistem dan menolak belajar. Takdir bangsa bukan milik elite semata, tapi buah dari karakter kolektif rakyat. Demokrasi rapuh bila rakyat mudah menyerah. Keadilan mustahil tegak jika tak ada yang berani berpikir. Dan pemimpin baik tak naik bila rakyat lebih tergoda figur viral daripada yang jujur bekerja.

Kita tak bisa mengatur sejarah, tapi kita bisa memilih cara memainkan peran di dalamnya. Dari situlah benang takdir bangsa mulai berubah—perlahan, pasti. Takdir bangsa bukan hadiah dalam kotak kaca, tapi rajutan dari keberanian berpikir, ketulusan berkarya, dan konsistensi menjaga benang bersama—meski kadang nyaris putus.

Negara ini terlalu besar untuk digerakkan satu orasi. Tapi cukup satu pemuda yang konsisten—mengajak satu lagi, satu lagi, dan satu lagi. Kebajikan menular, asal dibiasakan.

Kopi tinggal ampas, malam sudah mengendap. Majelis BangbangWetan edisi April 2025 pun ditutup dengan lantunan Indal Qiyam.

DITETAPKAN DI SURABAYA

OLEH MAJELIS MASYARAKAT BANGBANGWETAN

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top