Reportase Milad 19 Tahun Bangbang Wetan
Cak Durasim, 08 September 2025
Apa arti usia 19 tahun bagi sebuah komunitas yang lahir bukan dari ambisi?
Mungkin jawab-nya ada pada tanduran yang terus bersemi, meski musim berganti.
BangbangWetan ibarat jembatan yang terbentang di antara aliran waktu. Pada satu ujungnya berdiri para perintis yang menanam benih cinta sejak 19 tahun lalu. Di ujung lain, hadir wajah-wajah muda yang baru pertama kali menyeberang, menggenggam gawai dengan rasa ingin tahu terhadap banyak hal.
BangbangWetan tidak ditopang oleh struktur resmi, tidak pula dengan hitungan untung-rugi, cukup dengan cinta jamaah yang tak kunjung henti. Lingkar sederhana yang hanya mengandalkan cinta—justru bisa terus hidup dan mekar bersemi.

Lintas Masa BangbangWetan
Perayaan Milad ke-19 BangbangWetan diawali dengan lantunan Surah Al-Anfal oleh tim pegiat yang dipandu oleh Cak Ajib. Jamaah diajak merapat dan berdoa bersama untuk Kanjeng Nabi, para Auliya, mbah Nun, dan segenap umat. Hadrah Alhamdulillah dari Karangpilang menggemakan shalawat, menambah suasana religius yang membingkai awal perayaan.
Di sela suasana khidmat, Mbah Mahdi sliweran di belakang pendopo dengan dandanan badut sambil mengayuh becak. Pemandangan itu menghadirkan keceriaan dan keakraban, seakan menegaskan kembali identitas BangbangWetan sebagai ruang yang terbuka, sederhana, dan dekat dengan rakyat kecil.
Moderator kemudian membuka acara dengan refleksi usia 19 tahun sebagai awal kedewasaan. Tema Milad, “Mengorbit Makna, Menjaga Cinta,” dipaparkan sebagai pengingat bahwa cinta hadir dalam banyak rupa: kepada Allah, Rasulullah, para guru, sesama manusia, bahkan cinta yang bertepuk sebelah tangan sekalipun.
Pak Dudung, salah satu pendiri BangbangWetan, naik ke panggung untuk menuturkan kembali jejak awal simpul ini. Ia mengingat malam 6 September 2006 di pelataran Balai Pemuda—eks Bioskop Mitra—ketika rutinan pertama kali digelar. “Waktu itu, forum bisa berlangsung dari tengah malam hingga menjelang subuh, menjemput fajar dari Timur. Kini alhamdulillah, kita bisa bertahan sampai usia 19 tahun. Semoga istiqamah,” ujarnya penuh syukur.
Lahirnya BangbangWetan sendiri berawal dari inisiatif Mbah Nun, bersama Mas Jangki, Cak Anang, dan teman-teman lain di Surabaya untuk melebarkan lingkar Maiyah yang semula berpusat di Jombang. Ide membentuk simpul di Surabaya disambut antusias, lalu diputuskan dalam rapat besar di Balai Pemuda. Sejak saat itu, BangbangWetan menggelar rutinan bulanan yang terus berlangsung hingga kini.

Perjalanan BbW tidak hanya diwarnai forum sinau bareng. Sejak awal, simpul ini juga terlibat dalam kerja sosial. Salah satu kiprah pentingnya adalah menjadi mediator penyelesaian kasus Lumpur Lapindo—sebuah langkah yang menunjukkan bahwa Maiyah hadir untuk memberi manfaat nyata.
Seiring waktu, momentum besar pun lahir. Tahun 2014, BangbangWetan menggagas Banawa Sekar, sebuah sarasehan budaya sekaligus forum rembug nasional Maiyah. Forum ini mempertemukan beragam kalangan untuk membicarakan isu kebangsaan, sosial, dan spiritual dengan semangat kebersamaan.
Tantangan juga hadir di tahun 2020, pandemi sempat membatasi ruang perjumpaan, tapi jamaah tak menyerah. Justru dari keterbatasan itu lahir makna baru: cinta yang dijaga tidak akan padam, meski ruang fisik tertutup.
Napak tilas ini ditutup dengan lantunan lagu BangbangWetan karya Mbah Nun, Ibu Novia Kolopaking, dan KiaiKanjeng. Jamaah menyanyikannya bersama, seakan mengikat kembali benang sejarah perjalanan BangbangWetan. Perjalanan ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah bukti bagaimana cinta bisa bertahan melintasi waktu.
Lingkar Cinta
“Sudah kenal BangbangWetan sejak kapan?” tanya moderator malam itu. Diikuti cecaran pertanyan lainnya, “Lalu, bagaimana cara kita mengukur kesuksesan ber-Maiyah? Apakah cukup hadir tiap rutinan?” Jamaah terdiam sejenak, membuka pintu refleksi makna, untuk direnungkan bersama.

Dari tengah lingkar, Mbak Emma, seorang akademisi, mengangkat suara. “Tema malam ini adalah Mengorbit Makna, Menjaga Cinta. Dan cinta, Bapak-Ibu sekalian, bukan sesuatu yang statis. Ia bertumbuh, ia bergerak.” Jamaah mendengarkan dengan saksama. “Tanpa logika, cinta bisa menyesatkan. Tanpa rasa, ia bisa membeku. Maka keduanya harus berjalan seimbang.”
Ia lalu menuturkan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Cinta seorang ayah diuji oleh perintah yang tampak mustahil: mengorbankan putranya sendiri. “Di situlah letak dialektika cinta—antara duniawi dan transendental. Dan dari kisah itu kita belajar, cinta sejati berpangkal pada kepatuhan kepada Allah,” tegasnya.
Cak Madjid dari Padhang Mbulan kemudian menimpali. Ia mengingatkan jamaah bahwa bulan ini adalah bulan Maulid, bulan kelahiran Rasulullah SAW. “Mbah Nun pernah menyampaikan: umat tidak akan terkena murka Allah selama menghadirkan cinta kepada Rasul dan menjaga hubungan baik antar sesama,” ucapnya. Jamaah mengangguk, beberapa mengucap shollu ‘ala Muhammad.
Dengan gaya khasnya, ia menambahkan, “Yang ber-Maiyah itu bukan hanya manusia. Burung, pohon, bahkan bintang pun punya caranya sendiri. Semua makhluk melingkar dengan orbitnya.” Kalimat itu disambut gumam kagum jamaah, menyadari kebersamaan ini bukan sekadar milik manusia, melainkan bagian dari harmoni semesta.
Malam Milad ke-19 juga diwarnai dengan penampilan seni yang memantik perenungan. Mbak Yusron membacakan puisi berjudul “Kemana Anak-Anak Itu” dari album Kado Muhammad. Dengan suara berapi-api, layaknya berorasi:
“Kemana anak-anak itu?
yang bernama harkat kemanusiaan,
yang bernama kasih sayang,
yang bernama keterbukaan?”

Sunyi sesaat setelah pembacan puisi, lalu hadrah menggema
Astaghfirullah robbal baroya… astaghfirullah minal khotoya.
Diikuti dengan sahutan jamaah serentak:
“Ya Allah ridha… Ya Allah ridha… bihusnul khotimah!”
Af’al Maiyah
Prosesi pemotongan tumpeng menjadi salah satu penanda khidmat Milad ke-19 BangbangWetan. Ketua BangbangWetan, Cak Diky, menyerahkan potongan pertama kepada Lek Ham, mewakili keluarga Mbah Nun, dan kepada Pak Dudung selaku sesepuh komunitas.
Diiringi lantunan shalawat Hasbunallah wani’mal wakil yang dipimpin Cak Madjid, suasana syukur kian terasa. Tumpeng tidak sekadar hidangan, melainkan simbol rasa terima kasih atas perjalanan panjang hampir dua dekade.
Moderator kemudian mempersilakan jamaah menikmati hidangan. “Semoga semua kebagian dan mendapat berkah,” ujarnya, sebelum mengarahkan acara memasuki diskusi inti. Satu per satu narasumber hadir ke lingkar: Lek Hammad, Mas Tridjoyo, Mas Zayn, Mas Rifai, dan Mas Probo.
- Syukur dan Istiqomah
Mas Zayn membuka sesi dengan refleksi bahwa usia 19 bukan sekadar angka, tapi penanda perjalanan menuju tanggung jawab yang lebih besar. Dan BangbangWetan tetap istiqomah tanpa sekat, saling belajar adalah anugerah terindah. Ia menyinggung buku 72 Tahun Cak Nun yang menebar benih, kini tampak mulai tumbuh meski tidak seragam. “Seperti jamaah dengan profesi beragam, namun bersama memberi manfaat,” tambahnya.
Mas Tridjoyo menyambung dengan nada penuh syukur. Ia mengutip ayat tentang istiqomah: orang yang tetap teguh akan didatangi malaikat, diberi kabar gembira, dan terbebas dari rasa khawatir. “Selamat untuk jamaah BangbangWetan, sudah istiqomah menjaga cinta kepada Allah, Rasul, dan para Auliya,” serunya, disambut tepuk tangan jamaah.
Ia mengingatkan sebuah hadist: “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” Bahkan seorang Badui sederhana pun, saat ditanya bekalnya, menjawab: “Saya hanya punya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasul pun menegaskan, cinta itu cukup untuk mengantarkan kebersamaan di akhirat.
Pesan itu dipantulkan ke lingkar Maiyah. Cinta jamaah kepada Rasul, para auliya, dan Mbah Nun diyakini sebagai modal kebersamaan menuju keselamatan. “Ummati, ummati, ummati,” adalah kata-kata terakhir Rasulullah SAW, yang bahkan di ujung hayatnya masih memikirkan umatnya. Spirit inilah yang terus dijaga dalam setiap simpul Maiyah, termasuk BangbangWetan.
- Membaca Keruwetan, Membuka Kesadaran
Lek Ham tampil dengan gayanya yang lugas. “Alhamdulillah, kepanggih malih kita semua,” katanya. Ia memotret keadaan negeri: demo besar terjadi hampir di semua daerah, penjarahan, fasilitas umum dan cagar budaya terbakar. “Ndasku mumet, ndasmu piye? Ndasmu mumet, ndasku piye?” celetuknya, membuat jamaah tergelak.

Namun dari canda itu, ia mengingatkan kembali: sejak awal, BangbangWetan hadir bukan untuk memusuhi, melainkan menampung keresahan bersama. “Demo itu intinya mengungkapkan ketidaksetujuan. Kita di sini juga begitu, tapi dengan cara menumbuhkan kesadaran untuk terus berbenah demi manusia lain.”
Ia melontarkan pertanyaan kepada jamaah: “Dengan kondisi sekarang, apa yang kalian tangkap—keruwetannya atau pencerahannya?” Jamaah terdiam, merenung. Lek Ham pun menambahkan: otak manusia setiap hari dijejali jutaan informasi. “Kasih sayanglah yang membuat kita tetap bisa saling memanusiakan. Apa pun yang kita lakukan, semoga semangatnya bisa tembus langit, dijaga malaikat, dan mendapat ridha Allah.”
Di tengah keruwetan bangsa, Maiyah memilih jalan cinta. Ia tidak memusuhi, melainkan merangkul keresahan menjadi kesadaran. Di sinilah tema Milad menemukan wujudnya: menjaga cinta sebagai orbit yang menuntun ke arah pencerahan.
- Cinta Para Pemuda
Mas Rifai menambahkan refleksi tentang problem kebangsaan. Menurutnya, organ negara yang tidak berfungsi semestinya justru memperparah keadaan. Ia menyinggung praktik serangan fajar dalam pemilu sebagai contoh kerusakan sistemik.
Ia lalu menarik benang sejarah ke filsafat politik Islam, dari Al-Farabi hingga Al-Mawardi. “Stabilitas politik itu penting. Dan rakyat berhak menolak pemimpin yang melenceng. Partisipasi pemuda tidak boleh ditutup, harus terus didorong.”

Mas Probo kemudian mengingatkan tentang gerakan massa. “Demo adalah hak konstitusional,” ujarnya. Namun ia menggarisbawahi risiko provokasi dan vandalisme yang bisa menodai niat damai. Ia mengutip Tan Malaka: gerakan yang kehilangan arah bisa menjadi buah simalakama.
Moderator menengahi dengan pandangan yang menyejukkan. “Demo bisa lahir dari cinta kepada Indonesia. Kepedulian pada kesenjangan sosial membuat orang ingin bersuara. Tapi ingat, puncak kemerdekaan adalah pengetahuan akan batas,” ujarnya, mengutip pesan Mbah Nun.
Diskusi ditutup dengan kesadaran bersama: cinta adalah energi utama. Dari cinta kepada Rasul hingga cinta kepada negeri, lingkar ini mengingatkan: cinta adalah energi utama yang mengikat komunitas dan bangsa. Inilah orbit makna yang ingin terus dijaga. Malam pun kembali menghangat ketika hadrah membawakan lagu Tombo Ati.
Tanya Jawab Milad ke-19
Moderator membuka sesi dengan senyum lebar. “Baik, sekarang kita masuk ke ruang tanya jawab. Seperti biasa, tidak ada sekat, semua boleh bicara. Silakan, siapa yang pertama?”
- Ekonomi, Demo, dan Ketidakpastian
Mikrofon berpindah ke tangan Cak Helmi. Suaranya serius, “Saya mau tanya, bagaimana masa depan dunia usaha di tengah gejolak politik? Demo besar-besaran, jam malam, suasana mencekam. Apakah masih worth it membuka peluang usaha? Ada tips untuk meminimalisir dampaknya?”
Moderator menanggapi, “Pertanyaan menarik. Ini menegaskan bahwa politik dan ekonomi saling kait. Artinya, kesadaran kolektif untuk tetap tenang dan bijak sangat penting agar gejolak sosial tidak menjatuhkan daya hidup ekonomi rakyat.” Jamaah mengangguk, beberapa mencatat di buku kecil mereka.
- Cinta sebagai Jalan Hidup
Berikutnya, Cak Rio angkat tangan. “Kalau menurut saya, bagaimana laku cinta dalam Maiyah?”
Pertanyaan itu mengubah suasana jadi lebih hening. Moderator tersenyum, lalu mempersilakan Mas Zayn. Ia menjawab dengan mengutip Imam Nawawi, “Seseorang belum sempurna imannya bila tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” Jamaah bergumam pelan, seakan mengamini.
- Menyikapi Sejarah dan Perbedaan
Cak Darmaji menambahkan, “Apakah perlu saling menyalahkan hanya untuk membuktikan siapa yang benar?”
Tak lama, Cak Ferdi berdiri. Ia mengangkat analogi anak panah. “Kalau anak panah ditarik kuat ke belakang, ia bisa melesat lebih jauh. Begitu juga dengan sejarah. Pertanyaannya, bagaimana cara nguri-uri sejarah agar bisa jadi bekal masa depan?”
Kemudian giliran Mbah Mahdi. Ia mengenang awal tahun 2000-an, ketika BangbangWetan dihadiri ribuan orang. “Dulu kita membentuk BbW bukan sekadar forum, tapi wujud cinta warga Surabaya untuk memberi kontribusi.”
Mbak Emma turut menimpali. “Sejarah itu wadah peristiwa dan tokoh. Dan tokoh bisa siapa saja, bahkan orang biasa. Demo sering lahir dari aspirasi yang dibendung. Kalau direpresi, ia bisa berubah jadi bencana.”

- Refleksi Kebangsaan
Mas Tridjoyo menyoroti kesenjangan ekonomi yang terus melebar. Ia mengusulkan agar pejabat negara diberi gaji tidak jauh dari rakyat, agar bisa merasakan kesulitan hidup yang nyata. “Kalau akhir bulan uang menipis, tagihan tetap datang. Dari situ akan lahir empati,” katanya.
Beliau menambahkan perspektif filsafat politik Islam, mengambil pelajaran dari Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Kekuasaan, katanya, bukanlah kesempatan, melainkan amanah. Ia menekankan bahwa lewat Maiyah, jamaah ditanamkan kesadaran maslahat bersama, jauh dari gemerlap politik yang menyesatkan.
Mas Probo menegaskan bahwa suara-suara kecil dalam lingkar Maiyah bisa menjadi energi baru. “Cinta itu suara yang tidak mengharapkan jawaban. Bahkan demo pun bisa menjadi ekspresi cinta kepada negeri,” ujarnya, sambil mengingatkan agar aksi massa tidak kehilangan arah dan kendali.
Perbedaan pendapat, keresahan ekonomi, hingga tafsir sejarah—semua bermuara pada satu kesadaran: tanpa cinta, kita akan tercerai. Dengan cinta, kita bisa mengorbit bersama, meski lintasan berbeda.
Cinta yang Bertanggung Jawab
Menjelang akhir acara, Lek Ham dengan gayanya yang sederhana, tanpa banyak basa-basi, menyeletuk:
“Manusia itu,” katanya sambil tersenyum kecil, “memang punya potensi bikin masalah. Jadi penting sekali kita sadar batas. Minimal, kalau belum bisa berbuat baik, jangan malah nambah masalah.” Jamaah tertawa kecil, tapi anggukan kepala menunjukkan mereka sepakat.
Ia melanjutkan dengan mengingatkan jihad terbesar justru ada di dalam diri: melawan hawa nafsu. “Kalau nafsu ini belum tertata, bagaimana kita mau berjuang keluar?” katanya.
Lalu ia menegaskan, dasar penciptaan manusia hanya satu: cinta—rohman dan rohim Allah. “Kalau perjuanganmu tidak karena orang kecil, orang-orang kecil yang butuh diperjuangkan, maka semua itu palsu,” ucapnya tegas.
Untuk menguatkan, Lek Ham mengutip Surah Fush-shilat ayat 30. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: Jangan takut, jangan bersedih, bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah.”
Beliau menutup dengan pesan ringan tapi meneduhkan: “Kalau sudah percaya kepada Allah, teguhkan pendirian. Jangan takut, jangan sedih. Jalani hidup dengan bergembira. InsyaAllah, semua kebutuhan kita akan difasilitasi Allah.”
Suasana menjadi tenang. Jamaah terdiam, sebagian menunduk, sebagian lagi tersenyum. Pesan sederhana itu terasa membumi, menutup Milad ke-19 BangbangWetan dengan semangat syukur dan penuh harapan.

Ucapan Syukur dan Harapan
Di antara lantunan doa, shalawat, dan diskusi hangat, ucapan syukur serta doa mengalir dari para jamaah yang hadir.
“Selamat Milad ke-19 BangbangWetan!” seru seorang jamaah dengan wajah sumringah. “Terima kasih, di sini saya bisa belajar banyak hal, bahkan tumbuh secara pribadi. Rasanya seperti punya rumah kedua.” Jamaah lain menyahut dengan tepuk tangan kecil dan senyum.
Dari ruang kecil di Balai Pemuda pada 2006 hingga lingkar luas di Surabaya hari ini, BangbangWetan terus berikhtiar mengorbitkan nilai-nilai yang relevan untuk masa depan: kesadaran spiritual yang berpijak pada cinta Ilahi, kesederhanaan yang menumbuhkan tepo sliro, serta komitmen sosial yang menjadikan Maiyah bukan sekadar forum, melainkan gerakan kebersamaan.
Nilai-nilai itu diharapkan akan terus berputar, diwariskan ke generasi muda, menjadi cahaya penuntun dalam menghadapi keruwetan zaman, sekaligus pengikat solidaritas di tengah masyarakat.
Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR Muslim)
BangbangWetan 19 tahun bukan akhir,
melainkan awal langkah baru,
orbit cinta yang terus berputar,
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Redaksi BangbangWetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan BangbangWetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.



