La’alla Indonesia

Malam 17 Agustus sering disebut sebagai malam tutup jalan nasional. Sebab, per RT dan RW sama-sama bersemangat menuju suatu titik kumpul. Ada yang membawa buah, sayuran yang sudah diolah, nasi, lauk-pauk, serta berbagai minuman mulai dari kopi hingga es teh. Malam itu kerap dikenal dengan istilah barikan atau tirakatan sebagai wujud rasa syukur atas HUT Kemerdekaan Indonesia yang pada tahun ini telah memasuki usia 80 tahun.

Pada malam tirakatan, banyak harapan dan doa dipanjatkan untuk Indonesia. Ada yang berdoa, “semoga Indonesia selalu diberkahi Tuhan,” “semoga rakyatnya semakin sejahtera,” dan doa yang paling sering terdengar adalah harapan agar Indonesia menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Kata “semoga” tampaknya menghiasi langit nusantara pada malam ini.

Semakin maraknya acara tirakatan menandakan bahwa rakyat Indonesia kini benar-benar menempatkan Tuhan dan negaranya di dalam hati. Sebab, tidak ada sekularisme di Indonesia yang memisahkan urusan negara dengan ketuhanan atau spiritualitas. Rakyat Indonesia meyakini bahwa apa pun yang terjadi di negeri ini adalah bentuk kuasa Tuhan. Bahkan sila pertama dalam dasar negara kita berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Dengan demikian, kata semoga yang identik dengan doa dan harapan sangat relevan dengan kondisi Indonesia, baik secara kultural maupun konstitusional. Apalagi dalam situasi sekarang, ketika banyak orang yang diberi amanah penuh oleh rakyat ternyata tidak memanfaatkannya secara baik, adil, dan tepat. Hal ini membuat kata “semoga” tidak hanya disandingkan dengan “menjadi negara yang baik,” melainkan juga dengan doa, “hindarkanlah kami dari orang-orang zalim.”

Di usia ke-80 tahun, Indonesia dapat diibaratkan sebagai seorang kakek yang sudah tua. Ia telah puas dengan pengalaman hidupnya: pahit, asam, dan manisnya kehidupan sudah dilewati. Kini tinggal duduk di rumah, dan ketika cucu atau tamu datang, kata yang paling sering terucap adalah “semoga.” Seperti, “semoga anakmu sukses,” “semoga keluargamu rukun,” dan seterusnya.

Sumber: CakNun.com

Pada usia 80 tahun, perjalanan hidup bukan lagi soal perjuangan, melainkan soal merasakan hasil perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan. Namun kenyataannya, Indonesia seakan masih berada pada tahap berjuang. Bahkan kemerdekaan pun belum terasa signifikan secara kultural. Merdeka secara sosial, merdeka secara ekonomi, merdeka atas hak-hak yang dijamin negara—semuanya masih jauh dari harapan.

Indonesia kini sebenarnya sudah saatnya membahagiakan generasi mudanya dengan menunjukkan bahwa negeri ini kaya akan sumber daya alam. Kekayaan alam yang melimpah ruah seharusnya menjadi bukti nyata kesejahteraan bangsa, sekaligus perwujudan Pancasila yang sesungguhnya sesuai cita-cita para pendiri bangsa. Itulah yang seharusnya dijalankan Indonesia hari ini.

Indonesia itu siapa? Apakah hanya pemerintah? Indonesia adalah tujuan bersama. Indonesia bukan sekadar definisi, melainkan cita-cita. Pemerintah dan rakyat seharusnya bersama-sama mewujudkan impian para founding fathers. Namun sering kali Indonesia hanya diartikan sebagai negara yang dijalankan pemerintah. Padahal, banyak aktor di dalamnya masih keliru menempatkan akal dan hati dalam mengelola negeri.

Maka dari itu, saya teringat kata la’alla dalam Al-Qur’an yang secara umum diterjemahkan sebagai semoga. Misalnya, la’allakum tattaqun (semoga kamu menjadi orang yang bertakwa) atau la’allakum tasykurun (semoga kamu menjadi orang yang bersyukur). Mungkin Indonesia kini hanya perlu dipenuhi kata la’alla, sebab kompleksitas yang terjadi seakan tidak lagi mempan diatasi dengan “jurus duniawi.” Sebanyak apa pun massa berdemo, sekeras atau selantang apa pun suara disampaikan, seolah tidak membawa perubahan berarti.

Dari keputusasaan itu, kita boleh saja putus asa terhadap keadaan, tetapi jangan sampai putus asa terhadap pertolongan Tuhan. Seperti halnya seorang kakek yang duduk di rumah lalu menebar doa kepada anak, cucu, dan tamunya, Indonesia pun harus terus mengalirkan kata la’alla. Apa pun bentuknya, asal baik dan bermanfaat bagi rakyat serta seluruh elemen bangsa, itulah doa dan harapan yang akan membawa Indonesia mendekati cita-cita bersama.

Sumber: Mizan

Pada akhirnya, usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi angka peringatan, melainkan momentum refleksi. Kata semoga yang terucap di setiap tirakatan hendaknya tidak berhenti sebagai doa di langit, tetapi menjelma menjadi kesadaran kolektif: bahwa Indonesia adalah tanggung jawab bersama, yang harus dijaga dengan iman, akal, dan hati. Hanya dengan begitu, “semoga” akan berubah menjadi kenyataan.


Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah

Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top