Rukun Merdeka

Reportase BangbangWetan Bulan Agustus 2025

—Ketika senyum tetangga menjadi wajah kemerdekaan—

Agustus bukan cuma soal lomba panjat pinang & tarik tambang. Bulan ini bisa jadi waktu yang pas buat nggumun: sebenarnya, kita sudah merdeka sampai sejauh mana sebagai warga negara?

Bersama Karang Taruna Manukan Kulon, Majelis Ilmu BangbangWetan mengangkat tema “Gembira Bernegara.” Kedengarannya asik, juga lumayan nyelekit: bisa nggak sih kita tetap bergembira di tengah segala ketidakpastian bangsa? Atau justru, dari ketidakpastian itulah harapan baru diam-diam tumbuh?

Malam itu, sekitar seribu orang tumplek blek di halaman, di antarannya ada emak-emak, bapak-bapak, pemuda Karang Taruna, sampai anak-anak kecil yang lari-larian sambil main petasan. Semua membentuk lingkaran besar kebersamaan. BangbangWetan, yang biasanya manggung di pusat kota, kali ini nyasar manis ke sudut kampung.

Sang Saka Berkata

Rangkaian acara dimulai dengan nderes—lantunan ayat suci Al-Qur’an dalam heningnya malam. Tak butuh waktu lama, hening itu pecah oleh tawa dan teriakan riang anak-anak PAUD. Mereka menari di atas panggung, diiringi musik salawat yang sesekali kalah oleh teriakan penonton kecil di bawah. Langkah-langkah mungil itu belum rapi betul, tapi siapa peduli? Mungkin, kegembiraan bernegara bisa berawal dari sini: dari langkah-langkah kecil yang belum rapi, tapi penuh percaya diri, seolah yakin bahwa esok hari selalu layak dinanti.

MC dari Karang Taruna naik panggung, suaranya mantap mengajak semua berdiri. Lagu Indonesia Raya pun mengalun, rasanya lapangan itu berubah jadi satu paduan suara besar.

Setelah itu, sambutan mengalir bergantian—dari Ketua Panitia, Ketua RW 10, Ketua Karang Taruna di berbagai tingkatan, Ketua LPMK, Ketua BNN Provinsi, hingga Sekjen BangbangWetan. Semuanya singkat, padat, penuh terima kasih, sekaligus ajakan untuk menjaga semangat kebersamaan. Tepuk tangan pun merata, ketua Karang Taruna Kota menutup dengan pekik lantang: “Merdeka… merdeka… merdeka!”—menggetarkan lapangan.

Menjelang jeda, panggung diisi band Karang Taruna RW 5. Padhang Mbulan mengalun santai, disusul Bintang dari Anima. Tawa, tepuk tangan, dan obrolan santai—menciptakan jeda hangat sebelum beranjak ke inti acara.

Ruang Sengkuyung

Dari suasana musik, MC Karang Taruna lantas menyerahkan mikrofon kepada moderator BangbangWetan, mengajak semua memasuki forum diskusi. Dengan nada bersahabat, moderator memperkenalkan forum Maiyah di Surabaya ini sebagai ruang egaliter yang diinisiasi Cak Nun: tempat di mana siapa pun boleh bicara, mendengar, dan saling belajar.

Sesi diskusi awal malam itu menghadirkan Ustadz Zayn (agamawan), Pak Probo (akademisi), Mas Feby (perwakilan Karang Taruna), dan Dr. Emma.

Dr. Emma membuka dengan pelajaran yang ia dapat dari Mbah Nun—tentang bagaimana setiap persoalan manusia punya “wilayah” masing-masing: kesadaran, ruh, dan fisik.

Beliau menjelaskan, wilayah kesadaran adalah tempat kita menata pikiran, mempertimbangkan pilihan, dan memahami arah. Wilayah fisik adalah tubuh yang menjalankan perintah, bergerak mewujudkan keputusan. Namun di antara keduanya, wilayah ruh sering kali luput dari perhatian—padahal di sanalah pusat kekuatan batin, sumber daya tahan, dan penentu kejernihan langkah.

“Kalau ruhmu gelap,” sambungnya, “maka pikiranmu mudah buntu, tubuhmu cepat lelah, dan hidup terasa sempit.” Karenanya, ia mengajak para hadirin untuk lebih dulu menata batin, membersihkan niat, dan menenangkan hati, sebelum mencoba mengurai masalah yang tampak di permukaan.

Suasana panggung lalu bergeser ke nuansa sastra. Perwakilan Karang Taruna membawakan puisi Aku Melihat Indonesia  dengan intonasi tegas dan penuh rasa. Setiap baitnya seperti mengetuk kesadaran kolektif: bernegara bukan sekadar formalitas, juga menjadi ruang pengabdian.

Mas Feby menimpali, Agustusan itu ibarat “hari rayanya” Karang Taruna. Karena itu, harus disambut gembira lewat cangkruk, bazar, dan jalan sehat—cara sederhana tapi sarat makna untuk memeriahkan kemerdekaan sekaligus menikmati hidup bernegara.

Moderator menambahkan kutipan Mbah Nun: meski kadang putus asa melihat keadaan negara, beliau tetap bersemangat melihat warganya. “Biarkan yang di atas sibuk dengan urusan mereka, kita tetap bergembira dengan tetangga, guyub rukun.”

Musik pun kembali hadir. Kali ini, Pesawat Tempurku dari Iwan Fals. Suara penonton ikut menyahut lirik yang menyentil: “Penguasa… penguasa… berilah hambamu uang…”

Pak Probo kemudian membawa audiens kembali ke kerangka besar bernegara: pemerintah, wilayah, dan rakyat. “Rakyat adalah jiwa dari suatu negara,” tegasnya. Artinya, negara adalah kita semua—milik warga Manukan Kulon, milik warga Surabaya, dan milik seluruh rakyat Indonesia. Ia mengutip ungkapan gemah ripah loh jinawi, titi toto tentrem—cita-cita masyarakat Indonesia untuk hidup aman, damai, adil, dan makmur. Lalu menegaskan pesan Mbah Nun: “Kalau rakyatnya tidak bahagia, maka negaranya sedang sakit.”

Ustadz Zayn memulai dengan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW, disambut sahutan lembut dari jamaah. Ia mengaku senang melihat warga Manukan Kulon yang begitu mudah bergembira dan bersyukur. Menurutnya, dalam Al-Qur’an memang tidak ada perintah langsung untuk bergembira, tapi ada ajakan untuk merasa tenang—Muthmainnah, jiwa yang tenteram. “Kegembiraan sejati akan melahirkan ketenangan dan ketentraman. Tenang itu berarti tidak ada keraguan sedikit pun terhadap ketentuan dan janji Allah.”

Beliau mengutip ayat La in syakartum laazidannakum“Jika kalian bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmat bagi kalian.” Tambahan nikmat ini tidak selalu berupa materi, melainkan kualitas nikmat itu sendiri. “Punya uang dan makanan berlimpah, tapi kalau Allah kasih sariawan, makanan selezat apa pun nggak akan terasa nikmat,” ujarnya, memancing senyum dan tawa kecil hadirin. Ia mengajak jamaah memperbanyak rasa syukur dalam keluarga, bertetangga, dan bermasyarakat. “Hidup berkah itu enak, menenangkan, dan ujungnya pasti gembira.”

Pesan-pesan dari Dr. Emma, Pak Probo, dan Ustadz Zayn malam itu seakan saling melengkapi: merawat batin, menjaga syukur, dan memperkuat persaudaraan adalah cara paling nyata untuk gembira bernegara.

Lingkar Rasa

Sesi berlanjut dengan penampilan Teras Warna, kelompok musik perkusi kebanggaan warga. Mereka mengucapkan terima kasih sudah diberi kesempatan tampil, lalu membawakan dua nomor lagu. Yang pertama, ciptaan sendiri berjudul Aku Bermain & Berlari—tabuhan jimbe yang rancak mengundang ingatan ke suasana kampung tempo dulu, mirip nuansa musik Klantink. Lagu kedua, Yamko Rambe Yamko, mengiringi langkah Mas Sabrang yang naik panggung. Sorak-sorai pecah; beberapa ibu-ibu di sisi lapangan sampai berdiri menyambutnya.

Bersama Mas Sabrang turut hadir Pak Ridi (budayawan), Pak Sirajudin dan Pak Agus (agamawan), serta Mas Amin (penggiat BangbangWetan). Kehadiran mereka menandai dimulainya sesi diskusi yang lebih dalam.

Mas Amin membuka dengan ucapan terima kasih kepada warga RW 10 yang sudah jadi tuan rumah. Ia menegaskan bahwa BangbangWetan selalu berupaya menggandeng Karang Taruna untuk menyelenggarakan kegiatan bermanfaat. “Semoga forum Maiyah BangbangWetan membawa keberkahan untuk kita semua, khususnya warga Manukan Kulon dan Surabaya secara luas,” ujarnya.

Begitu mikrofon di tangan Mas Sabrang, suasana langsung cair. Kelompok ibu-ibu bersorak, ia membalas dengan senyum hangat. “Saya putra Mbah Nun, penyanyi, pembicara, kerjaan saya nggak jelas,” ujarnya merendah, memancing tawa. “Saya di sini ingin berbagi ilmu, sekaligus belajar dari Bapak-Ibu semua. Maturnuwun sudah diberi kesempatan reriuangan di sini. Ini tanda tresno, tanda persahabatan.”

Ibu-ibu kembali bersorak, Mas Amin menimpali sambil bercanda: nanti ibu-ibu harus ikut nyanyi kalau Mas Sabrang tampil. Tawa pun merembet ke seluruh lapangan.

Pak Agus mengambil giliran. Beliau menyampaikan, “Jalan menuju Tuhan itu ada tiga: way of love (cinta), way of knowledge (pengetahuan), dan way of suffering (penderitaan). Forum BangbangWetan hadir mengajak kita menapaki jalan cinta dan pengetahuan agar lebih dekat dengan Tuhan.” “Semoga malam ini membuka hikmah makna bagi kita semua,” ujarnya.

Pak Ridi—yang akrab dipanggil Wak Kento, membuka dengan guyonan. ”Manukan bukan karena banyaknya manuknya, tapi karena semangat warganya—pria maupun wanita—semangatnya koyok due manuk kabeh, semangate jos,” katanya, membuat jamaah terbahak.

Beliau berbagi perjalanan hidup: kuliah sambil mengamen hingga memegang prinsip gak onok gak iso, gak onok gak wani—tidak ada yang tak bisa, asal berani.

Ia mengajak warga mengarahkan energi anak muda ke kegiatan positif. “Kalau ada anak-anak bikin kegiatan negatif, mari kita tandingi dengan kegiatan positif.” Ia bersyukur bisa berkontribusi mendirikan komunitas Gaman dan mensupport kelompok musik Teras Warna sebagai wadah positif di Manukan.

Pak RW kemudian bercerita tentang sejarah Manukan. Ada yang bilang namanya berasal dari banyaknya burung di masa lalu. Ada juga versi yang mengaitkannya dengan lingga Siwa—simbol pelanangan atau tanda laki-laki—yang lalu disebut “Manukan”.

Cerita itu membuat beberapa hadirin tersenyum, ada pula yang saling berbisik mengingat kenangan masa kecil. “Apapun asal-usulnya,” tutupnya, “yang penting semangat warganya tetap terjaga.” Kalimat itu menutup sesi dengan rasa bangga dan keyakinan bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi untuk melangkah bersama.

Suara Rakyat

Sesi respon jamaah dibuka oleh Mas Imam. Beliau melempar pertanyaan yang menukik: “Indonesia negara kaya, kenapa rakyatnya masih banyak yang miskin? Apakah ini sudah takdir?”

Obrolan kemudian beralih ke isu yang tengah ramai di media sosial. Mas Fikri mengangkat topik gaji guru yang kecil. Ia bertanya, apakah semua masalah memang harus diurus negara, dan bagaimana seharusnya negara bersikap terhadap hal ini.

Mas Zikin kemudian mengangkat pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya makna gembira? Menurutnya, gembira adalah ekspresi positif yang lahir dari sebab atau momentum tertentu. Gembira secara pribadi atau bermasyarakat bisa hadir dalam banyak hal, tapi “gembira bernegara” rasanya sulit menemukan momen yang pas. Kalimat itu mengundang gumam lirih jamaah.

Mas Mantub memilih jalur nostalgia. Ia mengenang masa awal BangbangWetan yang dulu tayang di JTV Surabaya. Baginya, forum ini adalah tempat “ngaji diri, menguak rahasia, bangun bersama dari tidur.” Dalam konteks Gembira Bernegara, ia memaknainya sebagai bergembira dengan diri sendiri—memahami sangkan paraning dumadi, konsep Jawa yang mengajarkan manusia untuk mengenali asal-usul dan tujuan hidupnya. Dari sanalah, katanya, kesadaran bermasyarakat bisa tumbuh dan mengajak kita berhijrah menuju kebaikan.

Sebagai jeda sebelum masuk ke pertanyaan berikutnya, Mas Ratu dari komunitas Gaman Surabaya tampil membawakan Mangu (Fourtwnty). Alunan musik menurunkan tempo obrolan, memberi ruang sejenak bagi jamaah untuk merenungkan makna kegembiraan yang baru saja dibahas.

Gembira ber-Tetangga

Moderator tersenyum, menatap ke arah jamaah, lalu menghubungkan semangat diskusi tadi dengan kehidupan sehari-hari: bahwa kegembiraan bernegara sering dimulai dari halaman rumah sendiri. “Kita lanjutkan, Bapak/Ibu”, sambung moderator. Mikrofon berpindah tangan, pembicara mulai merespon satu per satu.

Pak Ridi mengambil giliran, menegaskan bahwa yang perlu digarisbawahi bukan sekadar gembira, melainkan tenteram dalam bernegara. Menurut beliau, itu bisa dicapai dengan menyampingkan sejenak kondisi negara yang carut-marut, sambil mencari ketenangan diri. Bukan berarti lepas tangan, tetapi tetap berkontribusi sesuai kapasitas—entah lewat kelompok, komunitas, atau kegiatan positif di lingkungan sekitar.

Pak Agus menanggapi pertanyaan soal gaji guru. Ia menjelaskan ada kewenangan yang memang tanggung jawab pemerintah, dan ada pula yang menjadi ranah masyarakat. Dana pendidikan terbatas, sehingga peran bersama sangat penting.

Tentang kegembiraan, ia menyebutnya sebagai proses behaviour modification—perubahan perilaku menuju kebaikan. “Kebahagiaan itu abstrak. Mulailah dari diri sendiri yang bahagia, lalu tularkan pada sekitar. Dari situ akan lahir kebaikan,” ujarnya.

Suasana malam semakin cair ketika Mas Sabrang membawakan lagu “Ruang Rindu”. Senyum-senyum kecil mengembang di wajah penonton, beberapa ikut bernyanyi pelan. Tiba-tiba dari barisan ibu-ibu terdengar celetukan lantang: “I love you, Mas Sabrang!” Mas Sabrang menoleh, tersenyum lebar, dan mengangkat tangan memberi salam ke arah sumber suara.

Ustadz Zayn mengingatkan masalah klasik dalam kehidupan bersama: sikap masa bodoh pada hal yang seharusnya jadi urusan bersama. Ia memberi contoh—orang membuang sampah sembarangan, kita diam saja. Tapi saat banjir atau polusi datang, pemerintah yang disalahkan. “Mungkin pemerintah ada andil, tapi alangkah baiknya kita menoleh dulu ke dalam diri dan lingkungan terdekat,” pesannya.

Beliau menambahkan konsep iman: kebahagiaan belum sempurna jika kita tidak ikut berbahagia atas kebahagiaan tetangga. “Kalau kita bisa turut senang, berarti hati kita lapang,” singkatnya, namun menancap.

Pak Probo lalu melempar pertanyaan retoris: “Pendidikan itu wajib dan penting, nopo mboten?” Sebagian hadirin mengangguk pelan. Beliau mengutip Permendagri Nomor 3 Tahun 2019, yang menegaskan bahwa pendidikan dan kesehatan adalah urusan wajib pelayanan dasar. “Mau tidak mau, pendidikan harus jadi prioritas. Negara bertanggung jawab untuk ngopeni guru dan dosen di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Pesan yang mengalir dari sesi ini sederhana: kegembiraan bernegara dimulai dari lingkungan terdekat. Saat kita mampu bersyukur, menjaga kebersamaan, dan ikut berbahagia dengan keberhasilan tetangga, kita sedang membangun pondasi kokoh bagi negara yang tenteram. Inilah wujud nyata gembira bernegara—dimulai dari halaman rumah, lalu merambat ke sudut penjuru bangsa.

Kedaulatan Bangsa

Mas Sabrang kembali mengambil alih, kali ini membuka dengan cerita ringan tentang nama Manukan yang mengingatkannya pada sebuah kampung di dekat desanya di Yogyakarta. Gurauan kecil ini menjadi pintu masuk untuk membicarakan Bergembira Bernegara dari sudut pandang yang lebih luas—sebuah pengingat bahwa identitas kita sebagai bangsa berakar pada rasa kebersamaan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, satu orang dengan orang lain.

Dari sana, ia menegaskan bahwa negara lahir dari bangsa—kaum yang merasa senasib dan sepenanggungan. Negara punya batas wilayah, sementara bangsa tidak. “Meski orang Jawa tinggal di Amerika, ia tetap bagian dari bangsa Indonesia,” ujarnya, menekankan bahwa batas geografis tak mampu memutus ikatan batin sebuah bangsa.

Lantas, bagaimana bangsa mempertahankan identitas dan mimpi bersama? Indonesia memiliki bendera, lagu, bahasa, dan cita-cita persatuan serta keadilan bagi seluruh rakyat. Namun simbol-simbol itu tak berarti tanpa partisipasi aktif warganya. “Jangan hanya menyalahkan pemerintah. Tengok apakah rakyat sudah mengusahakan. Bahkan saat memilih pemimpin—apakah kita memilih karena kredibilitas atau karena diberi uang?” serunya, memancing gumaman setuju dari para hadirin.

Dari urusan kepemimpinan, ia bergeser ke pendidikan—fondasi yang menentukan arah peradaban dan kualitas sebuah bangsa. Ia menelusuri sejarahnya: dari model Pendidikan pesantren beralih ke model pendidikan Bavaria—yang sengaja dirancang agar warga cukup pintar menjalankan perintah, namun tidak cukup kritis untuk menantang atasan. Kritik ini mengalir pada peringatan: “Pendidikan tidak boleh menjadi domain eksklusif pemerintah.”

Beliau lalu memberi contoh endowment fund seperti LPDB di Indonesia yang, meski belum sempurna, bisa menjadi benteng dari intervensi kepentingan jangka pendek. Baginya, pendidikan memberi kedaulatan. “Tenaga pengajar harus mandiri dan tidak menggantungkan hidup pada negara, supaya kedaulatan manusia tidak terganggu. Pendidikan memberi pilihan untuk bersikap, untuk berdaulat, memutuskan dengan bijaksana,” lanjutnya.

Menutup pemaparannya, beliau mengajak merenung soal deliberasi dan sangkan paraning dumadi. “Yang membedakan manusia dengan makhluk lain bukan hanya makan atau akal, tapi deliberasi—melakukan sesuatu dengan sengaja. Dalam Islam, niat membedakan apakah sesuatu dilakukan dengan kesadaran atau tidak. Hidup memberi kesempatan untuk menemukan sangkan paraning dumadi—bukan sekadar mencari asal-usul, tapi menyadari kedudukan kita sebagai bangsa yang berdaulat.”

Mimpi Kemerdekaan

Dari ruang filsafat, suasana pelan-pelan kembali ke musik. Mas Sabrang membawakan Fatwa Hati. Diiringi petikan gitar, ia berpesan, “Ada hal yang tidak bisa diajarkan kecuali kamu terkoneksi langsung dengan sumber ilmu. Kalau rusak kompasmu, akan susah menjaga mana yang baik dan benar. Kembali pada fatwa hati, sebab Tuhan berbicara langsung pada setiap nyawa.” Ia mengajak semua hadirin menemukan janji pribadinya masing-masing, agar pada akhirnya kembali pada sandaran Tuhan.

Nada pun berganti dengan Sandaran Hati. “Bolehkah aku mendengar-Mu…” mengalun lembut, membuat lapangan hening. Wajah-wajah yang tadi penuh tawa kini teduh. Sebagai penutup, beliau membawakan Sebelum Cahaya, mengaitkan forum ini sebagai bentuk harapan menuju keadaan yang lebih baik. “Ingatkah kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum Cahaya…”—lirik yang terasa seperti doa untuk warga Manukan. “Semoga dulur Manukan selalu diberkahi, tetap guyub rukun, tetap tersenyum, dan menjadi cahaya bagi Indonesia,” tutupnya.

Acara malam itu berakhir dengan indal qiyam—doa yang mengikat setiap lapisan masyarakat.

Rutinan BangbangWetan kali ini melampaui sekadar peringatan kemerdekaan. Ia menjelma menjadi ruang sengkuyung, gotong royong, dan berbagi semangat untuk menegakkan mimpi kemerdekaan bangsa Indonesia.

—Beginilah mestinya kita bernegara, dengan hati yang gembira—


Redaksi BangbangWetan
Tim redaksi yang bertugas mendokumentasikan, merangkai, dan menyebarluaskan pemikiran, peristiwa, serta refleksi dari kegiatan BangbangWetan sebagai bagian dari jaringan Maiyah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top