Reportase BangbangWetan Maret 2025
Ramadan 18, 1446 AH. Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan edisi Maret 2025 kembali digelar di Taman Budaya Cak Durasim. Alhamdulillah, segenap Tim BbW terus istiqomah membersamai jamaah, membentuk ruang bagi setiap orang yang ingin berbincang, menepi sejenak di tengah sibuknya kota metropolitan.
Berkat kesibukan mengejar hasrat & angan, sering kali kita melupakan inti dari kemenangan Lebaran. Ia bukan sekadar perayaan, bukan sekadar kembali ke nol, dan bukan hanya tentang kemenangan yang bersifat fisik. Malam ini, BangbangWetan mengajak kita menelisik ulang: Seandainya Tuhan pun Berlebaran.
Pambuka
Majelis dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Juz 13–15, dari Surat Yusuf ayat 53 hingga Surat Al-Kahfi ayat 74. Ayat-ayat ini mengingatkan kita akan keluasan Rahmat Tuhan, tentang bagaimana Dia sekian lama menahan murka-Nya, meskipun manusia tak henti berbuat salah.
Bacaan dilanjutkan dengan Wirid Maiyah yang mengalun lembut, mengajak setiap hati kembali pada-Nya. Sebab tak ada yang benar-benar dimulai tanpa pasrah kepada Sang Pencipta.

Seusai wirid, moderator membuka majelis dengan mengulas tema. “Seandainya Tuhan pun Berlebaran, apakah itu berarti Tuhan juga merayakan kemenangan? Ataukah justru Tuhan menahan murka-Nya, sebagaimana kita diajarkan untuk menahan diri?” Sebuah pertanyaan besar yang akan kita renungkan bersama malam ini.
Puasa Jenaka
Jarum jam mendekati pukul 9 malam saat dua tamu istimewa dari Ludruk Luntas naik ke panggung. Mas Robert, lelaki berkumis tipis, duduk bersila dengan tangan bertumpu pada lutut. Di sebelahnya, Mas Ipul sibuk merapikan pecinya. Dua sosok yang tak pernah kehabisan bahan obrolan nan mengundang tawa sekaligus mengajak berpikir.

“Ramadan ini bulan berkah,” ucap Mas Ipul membuka percakapan. “Banyak yang gratisan—takjil gratis, buka puasa gratis, bahkan kesempatan menata diri pun gratis. Lantas, apakah itu juga membuat kita jadi orang yang gratisan?”
Jamaah tertawa terkekeh, meski di balik candaan itu terselip pertanyaan mendalam: apakah kita hanya mengambil manfaat fisik dari Ramadan, sementara hikmahnya terlewatkan?
Di sisi lain panggung, Ustadz Ahmad Zain, mengangguk pelan. Dengan suara tenang, beliau menambahkan, “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan—latihan ekonomi, sosial, dan spiritual.” Beliau menjelaskan bahwa ibadah terbagi dua: ibadah mahdhah (ritual murni) dan ibadah ghairu mahdhah (sosial). Sayangnya, kini banyak orang yang rajin ibadah pribadi tetapi abai terhadap tanggung jawab sosial.
Jamaah mulai menyimak lebih serius. “Ada yang pergi haji berkali-kali,” lanjut Ustadz Zain, “sementara tetangganya masih kelaparan. Apa makna ibadah jika kesalehan pribadi tak berbuah kesalehan sosial?” Ritual lebih dikejar dibandingkan nilai kemanusiaan.

Ustadz Zain kembali bersuara, “Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Ia tentang pasrah, menekan amarah, dan memaafkan. Kalau setelah Ramadan kita masih pendendam, masih serakah, masih suka marah-marah, lalu apa gunanya puasa?”
Mas Robert, yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Saya sudah latihan sabar. Sabar menghadapi debt collector. Sabar meladeni pinjol. Apa masih kurang?”
Lagi-lagi gelak tawa pecah. Tapi kali ini, ada getir di dalamnya. Realitas kehidupan memang tak pernah sederhana. Jamaah terdiam sejenak, mungkin membatin, menakar kembali makna puasanya.
Malam Kemenangan
Malam kian larut, tetapi obrolan justru semakin hidup. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga latihan mengolah hati dan jiwa—membentuk diri yang lebih baik untuk sesama.
Diskusi semakin menarik dengan kehadiran narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Lek Hammad, Mas Amin Tarjo, dan Mas Probo Darono. Selain itu, Mas Karjo, seorang komika, turut menyumbangkan perspektif segar dengan gaya khasnya. Malam ini, mereka bersama-sama mengurai makna kemenangan. Apa sebenarnya hakikat Lebaran? Apakah sekadar akhir dari Ramadan, atau ada sesuatu yang lebih esensial yang perlu kita renungkan?
Mas Amin membuka pembicaraan dengan menyoroti kebahagiaan yang menyertai Lebaran. Menurutnya, kebahagiaan tidak hanya datang dari materi seperti uang saku THR dan hidangan melimpah saat Lebaran, tetapi juga dari kebersamaan dan kehangatan keluarga.
Mas Probo kemudian memberikan perspektif bahwa Lebaran mengandung 4 makna. Satu, Lebaran, simbol akhir dari sebuah ritus besar. Kedua, luberan, luapan berkah dalam berbagai bentuk, seperti rezeki, maaf, dan ampunan dari Tuhan. Ketiga, leburan, momen melebur ego dan hawa nafsu, membentuk diri yang lebih bersih dan damai. Keempat & terakhir, yaitu laburan, simbol pembersihan diri dari dosa, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara spiritual. Menurut beliau, Lebaran bukan hanya soal pulang ke kampung halaman, tetapi juga pulang kepada nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan.

Suasana diskusi semakin cair saat Mas Karjo berbagi perspektif uniknya. “Bukan hanya manusia yang berpuasa,” katanya. “Ngengat alias kupu-kupu malam juga berpuasa sepanjang siang, baru mencari makan saat petang menjelang. Kemudian benih tanaman, ambil contoh benih pohon aren harus mengalami dormansi, menahan diri dari air dan cahaya hingga menemukan waktu yang tepat untuk tumbuh, yang bisa memakan waktu hingga setahun.”
Ia melanjutkan dengan candaannya, “Semuanya berpuasa, hewan & tumbuhan, bahkan pohon aren pun berpuasa. Tapi sayangnya, begitu pohon aren bertumbuh besar, malah bernasib dipanjat bapak-bapak telanjang waktu lomba 17-an. Nasib, oh nasib, kalau tahu nasibnya begitu, mungkin pohon aren lebih memilih tak tumbuh sekalian.”
Tawa jamaah pecah, tetapi di balik kelakar itu tersimpan refleksi mendalam: Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan proses menjadi individu yang lebih baik dan bermanfaat bagi sekitar.

Seperti halnya pohon aren, yang meskipun harus melewati fase dormansi atau menahan diri yang panjang, pada akhirnya memberikan manfaat luar biasa bagi kehidupan manusia. Dari nira yang dihasilkan, masyarakat dapat membuat gula aren yang menjadi pemanis alami kaya mineral. Seratnya dimanfaatkan untuk membuat ijuk yang digunakan dalam atap rumah tradisional hingga penyaring air. Bahkan buahnya, kolang-kaling, menjadi hidangan segar yang dinanti saat berbuka puasa.
“Jadi, meski dipanjat bapak-bapak 17-an, pohon aren tetap punya manfaat luar biasa,” lanjut Mas Karjo. “Ia memberi, meski mungkin tak pernah meminta balasan.”
Jamaah yang semula tertawa kini terdiam sejenak, merenungkan pesan tersirat itu. Bahwa menjadi bermanfaat bagi sekitar adalah nilai sejati dari menahan diri—seperti benih pohon aren yang rela tidak makan minum selama setahun penuh, agar bisa memberi manfaat bagi banyak makhluk di sekitarnya. Ya, itulah kemenangan sesungguhnya.
Majelis Syuro Lebaran
Lek Hammad menuangkan gagasan , dengan mengajak jamaah membayangkan sebuah skenario khayalan: bagaimana jika para malaikat membentuk “Dewan Perwakilan Manusia” untuk membahas apakah Tuhan perlu berlebaran?
Dua fraksi malaikat pun muncul. Fraksi Pertama, yang dipimpin Malaikat Ridwan, berpendapat bahwa Lebaran adalah murni urusan manusia. Sementara Fraksi Kedua, yang dikomandani Malaikat Isrofil, berargumen bahwa Tuhan juga layak merayakan kemenangan-Nya. Bayangkan, lubang hitam menutup diri sejenak, asteroid menari-nari seperti lampu kelap-kelip, seluruh makhluk berpesta, semua manusia berbahagia.
Namun muncul pertanyaan selanjutnya, sambung Lek Hammad. “Jika semua orang hidup dalam kebahagiaan mutlak, tidak ada lagi konflik, tidak ada tantangan, tidak ada kebutuhan untuk berjuang, bukankah itu berarti akhir dari dunia seperti yang kita kenal? alias kiamat, hehe.”

Lek Hammad menggaruk-garuk kepalanya yang tampak bersinar akibat paparan Malaikat Ridwan. Beliau berdiri dan berseru, “Mungkin Tuhan tidak butuh Lebaran, tapi manusia butuh mengingat Tuhan dalam kemenangan mereka! Kemenangan lebaran bukan sekedar kemenangan pribadi, tapi juga momentum kolektif bagi umat manusia untuk mengingat kembali makna keberadaan mereka di dunia, sebagai Khalifah fil Ardh.
Kemenangan bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang bagaimana kita bisa memberi, bahkan dari sedikit yang kita punya. Seperti ibu yang rela memberi sepiring makanan kepada anaknya, meski ia sedang menahan diri dari rasa lapar.
Kemenangan sejati dalam Lebaran bukan diukur dari kemewahan meja makan atau jumlah amplop yang dibagikan, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu berbagi kebahagiaan dengan mereka yang terpinggirkan. Tidak ada keadilan sejati jika kegembiraan hanya milik segelintir orang. Tidak ada kemenangan hakiki jika masih ada yang merintih dalam kesakitan.
“Kita harus menjadikan Lebaran lebih dari sekadar perayaan. Lebaran adalah perubahan. Jika tangan kita bisa memberi, jika kaki kita bisa melangkah untuk berkarya, memberi energi positif sekecil apapun kepada lingkungan terdekat, maka kita sedang merayakan kemenangan yang sesungguhnya,” lanjut Lek Hammad dengan suaranya yang lantang.
Malaikat Mikail dari Divisi Cuaca tampak menggulung awan di tangannya, dan bahkan Malaikat Izrail yang jarang bicara akhirnya hanya bisa menggumam, “Masuk akal juga.”
Akhirnya, diputuskan bahwa Tuhan tidak akan merayakan Lebaran dalam bentuk pesta kosmik. Namun, Tuhan tetap akan memberi manusia kesempatan untuk saling membahagiakan, karena itulah hakikat kemenangan sejati.

Malam semakin larut, tetapi hati semakin terang. Di sudut bumi, Hadrah Karangpilang melantunkan shalawat, sementara di langit, bintang-bintang berkedip lebih ceria—seolah ikut tersenyum mendengar hasil sidang akbar di langit ketujuh.
Kontemplasi
Moderator mempersilahkan jama’ah untuk merespon maupun bertanya. Mas Fikri mendapat giliran pertama. Beliau menyampaikan pandangan bahwa dalam ilmu Jawa dikenal konsep Catur Nafsu, ada lawwamah (hahsrat biologis), supiyah (hasrat harta duniawi), amarah (emosional), dan mutmainah (ketenangan jiwa). Lantas bagaimana tips untuk mengendalikan keempat jenis nafsu tersebut?
Mas Umar melanjutkan diskusi dengan menyoroti makna Lebaran. Menurutnya, jika puasa adalah bentuk tirakat, maka Lebaran seharusnya menjadi kemenangan. Namun, ia mempertanyakan, apakah bangsa ini benar-benar pernah mengalami “Lebaran”? “Kita ini seperti terus berpuasa tanpa ujung. Harga naik, inflasi tak reda. Kapan kita menang?” keluhnya, disambut tawa kecil jamaah.

Diskusi kemudian beralih ke perenungan yang lebih dalam. Mas Karjo berusaha menjawab pertanyaan dengan mengambil pelajaran dari buku Rahvayana, karangan Mbah Tedjo. Dikisahkan keluarga Rahwana beranggotakan 4 orang, Rahwana (merah) melambangkan nafsu amarah & penuh ambisi. Kumbakarna (hitam), mewakili nafsu lawwamah yaiu makan dan tidur, bertindak tanpa berpikir panjang. Supiyah(kuning), menggambarkan nafsu syahwat birahi & duniawi, mencari kepuasan duniawi. Wibisana (putih), melambangkan nafsu suci (putih), berusaha mencapai kesempurnaan.
Setiap tokoh Rahwana & warna nafsu melambangkan berbagai aspek manusia. Setiap orang memiliki keempat unsur tersebut, dan kehidupan adalah perjuangan untuk mencapai keseimbangan ini dalam dirinya. “Mana dulu yang perlu dikendalikan?,” lontar Mas Karjo. Setiap manusia memiliki jalannya sendiri. Ada yang harus lebih dulu menahan amarah, ada yang perlu menata hawa nafsu sebelum akhirnya mencapai ketenangan jiwa.
Puasa, dalam hal ini, menjadi proses menata diri—menahan, mengendalikan, dan akhirnya menjadi lebih baik. “Puasa itu melambatkan,” lanjutnya. “Seperti ad break atau jeda di tengah film. Dengan melambat, kita bisa berkontemplasi, apa yang sebenarnya penting? Kenapa kita bekerja 11 bulan tanpa henti, lalu di bulan Ramadan kita diajak sedikit menepi, melakukan I’tikaf dan sebagainya?”
Beliau pun mengibaratkan puasa dengan metode pemurnian dalam ilmu sains. Untuk mendapatkan sesuatu yang murni, material harus disaring dan dipisahkan dari unsur yang tidak esensial. Maka, selama Ramadan, manusia belajar menyaring godaan dan memeras diri agar hanya tertinggal esensi dari menjadi manusia itu sendiri, menjadi khalifah fil ard, memberi manfaat untuk sekitar bahkan di tengah kesederhanaan yang dimiliki.

Lek Ham mengamini pernyataan Mas Karjo bahwa Puasa adalah kurikulum kehidupan yang menatar manusia. Apakah seseorang lulus atau tidak, itu kembali kepada dirinya sendiri. Ketika energi dan pikiran lebih fokus pada hal-hal esensial selama Ramadan.
Mas Probo kemudian memberi refleksi dengan konsepSedulur Papat Lima Pancer—empat nafsu yang harus kita kendalikan, dengan diri kita sebagai sopirnya. Lebaran bukan tentang kemenangan instan, tetapi tentang bagaimana kita mengendalikan diri sepanjang perjalanan Ramadan.
Ustadz Zain kembali mengingatkan bahwa setiap ujian di dunia memiliki hikmah. Ada yang diberi harta tapi malah jauh dari ibadah. Susah dan senang punya makna sendiri. Beliau menyinggung rasa syukur, “Syukur bukan hanya saat mendapat banyak, tapi juga ketika merasa cukup. Bisa makan, minum kopi, bercanda dengan keluarga—itu sudah cukup.” Bahagia sejati adalah ketika kita merasa cukup dengan apa yang ada. Kemenangan atas kebahagiaan itu harusnya tidak bersyarat.
Pak Lutfi memberi sedikit tambahan dengan menggarisbawahi untuk melihat kehidupan secara lebih luas. “Dunia ini tempatnya puasa. Hidup 60 tahun penuh ujian. Lebaran sejati ada di akhirat. Ramadan hanya sebulan, tapi hakikatnya adalah untuk sebelas bulan berikutnya.” Beliau mengajak bercanda, “Sebahagia-bahagianya kita, tetap ada susahnya. Tapi sesusah-susahnya, kita masih bisa tertawa di warkop, hehe.”
Epilog
Di penghujung malam , ketika udara semakin dingin dan waktu terasa melambat, gagasan-gagasan bermunculan & meresap dalam kesadaran. Mas Amin mencoba mengendapkan setiap gagasan yang hadir di majelis malam itu, untuk menjadi formula kesimpulan.
Dalam Islam, Lebaran bukan sekadar perayaan setelah sebulan berpuasa, melainkan sebuah kemenangan spiritual. Jika puasa adalah perjalanan menahan diri, maka Lebaran seharusnya menjadi titik pulang, kembali ke fitrah yang suci.
Beliau mengutip Surah Al-Asr: “ Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.” Ayat ini mengajarkan istiqomah dalam rentang masa kehidupan, mengenai keteguhan dalam kebaikan, serta kesabaran di perjalanan panjang yang penuh ujian.
“Kalau kita memahami & menerapkan betul ayat ini,” lanjutnya, “maka Lebaran bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi perjalanan spiritual yang membentuk sikap dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.”

Mas Amin lalu mengingatkan sebuah pesan dari Mbah Nun: “Kamu datang ke Maiyahan ini, bukankah itu juga bentuk puasa? Malam-malam seperti ini, kamu memilih menimba ilmu daripada keluyuran. Itulah kesadaran yang membawamu lebih dekat kepada Allah.”
Lek Hammad pun menambahkan tentang tahapan kemenangan dalam Lebaran:
- Semua makhluk adalah ciptaan Tuhan—manusia, hewan, maupun tumbuhan. Tetapi manusia diberi kesadaran lebih.
- Puasa manusia bukan sekadar menahan lapar, tetapi memahami yang baik dan buruk, baik dalam jangka pendek maupun panjang, baik secara pribadi maupun sosial.
- Puasa membangun kesadaran sebagai abduh—seorang hamba sejati. Sebuah perjalanan yang menuntun kita menjadi lebih peka, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab.
Beliau menganalogikan hidup seperti berkendara: “Kadang kita menoleh ke belakang, melihat ke spion, atau berhenti di persimpangan. Begitu pula dengan puasa—ada saatnya kita menepi, merenung, dan menata ulang perjalanan agar tetap di jalur yang benar.” Dalam kesendirian, kita harus tetap teguh melangkah menuju ridha Allah, menyambut rahmat-Nya, dan berharap bisa pulang ke fitrah yang sejati.
Waktu telah merambat ke pukul satu dini hari. Embun mulai menebal, tetapi hati para jamaah tetap hangat dalam kebersamaan. Majelis ilmu BangbangWetan malam itu diakhiri dengan shalawat yang dipimpin oleh Pak Achmad Luthfi. Suara-suara lirih memenuhi udara, mengalun lembut dalam harmoni yang menenangkan.

Malam itu tak ada kesimpulan yang tergesa-gesa, hanya percakapan dan pertanyaan yang terus menggema, membantu kita memaknai kehidupan. Di dunia yang kerap memaksa kita berlari, malam itu kita belajar berjalan lebih pelan, lebih sadar, lebih dalam.
Setiap orang pun pulang dengan pemahaman baru. Bahwa Lebaran bukan tentang baju baru, hidangan melimpah, atau sekadar kegembiraan sesaat. Tetapi tentang mudik sejati—pulang kepada Allah, dengan hati yang lebih bersih dan jiwa yang lebih tenang, dan tentunya semoga menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama & lingkungan sekitar, meski di tengah kesederhanaan.
Seandainya Tuhan pun berlebaran, mungkinkah itu berarti kita harus lebih memaafkan? Memaafkan teman & handai taulan, memaafkan keadaan & berpasrah diri pada Sang Pencipta Malam, biarlah malam ini terus mengalir dalam kebersamaan, menunggu fajar yang segera datang.



