Menjelma Avatar (Pancer)

Pada pukul delapan malam lewat empat menit, saya bersama teman saya berangkat menuju Taman Budaya Jawa Timur untuk menghadiri acara BangbangWetan edisi Maret. Udara malam yang sejuk dan jalanan yang basah akibat gerimis memberikan suasana yang syahdu di perjalanan. Alhamdulillah, meskipun kami sedikit terlambat karena perjalanan dari Surabaya Utara yang memakan waktu cukup lama, kami akhirnya tiba. Edisi Maret kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, waktu umat Islam menjalankan ibadah puasa, sehingga tema yang diangkat berhubungan dengan hal tersebut, yaitu “Seandainya Tuhan pun ‘Berlebaran'”.

Saat membaca prolog dan tema acara ini, saya teringat sebuah kutipan dari buku Mbah Nun yang berjudul Tuhan Pun ‘Berpuasa’ (1997). Dalam kutipan tersebut disebutkan bahwa Allah “berpuasa” dengan menahan murka-Nya terhadap manusia. Pikiran saya pun terlintas, bahwa Allah itu Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Ghafur, Al-Ghafar, dan Al-Afuww—selalu menurunkan kasih sayang dan pengampunan kepada umat-Nya. Lalu, bagaimana jadinya jika Tuhan juga merayakan Lebaran? Padahal, puasa-Nya adalah bentuk penahanan diri dari murka-Nya. Bagaimana jika saat Tuhan berlebaran, murka-Nya justru dilepaskan kepada umat manusia? Begitulah pikiran saya sebagai seorang hamba yang masih dalam pencarian.

Rasa khawatir atas dosa-dosa kita di hadapan Tuhan memang wajar dimiliki oleh seorang hamba. Dan justru karena rasa khawatir itulah, kita masih disebut hamba. Karena itu, kita memohon ketenangan kepada Tuhan untuk mengatasi kekhawatiran tersebut. Salah satu cara untuk mencapai ketenangan adalah melalui puasa. Dalam analogi rumah yang berkaitan dengan Rukun Islam, syahadat sebagai pondasi, sholat sebagai pilar, puasa sebagai dinding atau pagar, zakat sebagai pintu dan jendela untuk sirkulasi udara, dan haji sebagai atap. Puasa, sebagai dinding, berfungsi menahan—apa yang ditahan? Bisa jadi sesuatu dari luar, namun sesungguhnya puasa juga berfungsi menutupi sesuatu yang buruk dalam diri kita. Yang ditahan dan ditutupi selama puasa adalah hawa nafsu.

Dalam tradisi Jawa, hawa nafsu terbagi menjadi empat macam: Lawwamah, Supiah, Mutmainah, dan Amarah. Keempat nafsu ini juga dikenal dengan sebutan “sedulur papat lima pancer” dalam budaya Jawa, di mana sedulur papat adalah keempat nafsu tersebut, dan pancer adalah diri kita yang harus memimpin keempat nafsu ini. Untuk menggambarkan keempat nafsu ini, saya akan mengaitkan mereka dengan karakter-karakter dalam pewayangan, seperti yang ditulis Mbah Tejo dalam bukunya Rahvayana.

Mari kita kenali keempat nafsu ini. Pertama, ada Lawwamah yang digambarkan sebagai Kumbakarna, adik dari Rahwana. Kumbakarna ini adalah sosok besar yang suka makan dan bermalas-malasan, melambangkan nafsu biologis yang terkait dengan perut dan bawah perut. Elemen dari Lawwamah adalah tanah.

Kedua, Supiah digambarkan sebagai Sarpakenaka, adik perempuan Rahwana. Sarpakenaka menyukai perhiasan dan perhatian, melambangkan nafsu duniawi yang berhubungan dengan kepala dan disebut sebagai Adhi Ari-Ari, dengan elemen angin.

Amarah digambarkan sebagai Rahwana, raja Alengka, yang penuh semangat dan api. Ia adalah simbol nafsu emosional, terletak di pangkal leher, dengan elemen api.

Terakhir, ada Mutmainah, yang digambarkan sebagai Wibisana, adik Rahwana yang tenang dan berada di jalan kebenaran. Wibisana melambangkan nafsu spiritual, yang terletak di dada dengan elemen air.

Sekarang, setelah kita mengenal keempat nafsu ini, saatnya kita berperan sebagai Pancer, yang harus bisa mengendalikan keempat nafsu tersebut. Seperti Avatar yang menguasai empat elemen, kita sebagai Pancer harus mengendalikan keempat nafsu ini, bukan hanya saat berpuasa, tetapi juga sepanjang hidup kita. Lalu, dari mana kita mulai? Setiap orang memiliki cara yang berbeda. Seperti Aang dalam Avatar, yang memulai dengan menguasai elemen angin, kita pun harus memilih mana nafsu yang paling mudah untuk kita kendalikan terlebih dahulu, dan kemudian melanjutkan untuk mengendalikan nafsu lainnya secara bertahap.

 

Tulisan ini berasal dari pengalaman pertanyaan saya di BangbangWetan edisi Maret 2025, dan juga kumpulan jawaban dari Lek Ham, Mas Karim Sujatmiko, Cak Lutfi, Ustadz Zain, Pak Probo dan Cak Amin, yang dimoderatori oleh Mas Alif.

 

Fikri Firmansyah. @fikrii.ff

Pemikir yang memikirkan cara mengungkap pikirannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top