Bagi penggiat Maiyah, khususnya BangbangWetan, malam itu adalah jadwal Majelis Rolasan dan Tawashshulan di makam Ki Ageng Bungkul, Surabaya. Rasanya berat untuk berangkat. Bukan karena malas, tetapi minggu ini terasa begitu menekan. Minggu pertama kuliah dan semakin lama mata kuliah yang muncul seakan-akan membuat saya merasa salah jurusan. Ini adalah beban yang serius.
Namun, meskipun terasa berat, saya tetap datang untuk sejenak meneb bersama Jamaah Maiyah. Seperti yang sering dikatakan Mbah Nun bahwa setiap kali menghadiri Maiyahan, seseorang harus membawa keresahan atau kesulitan dan diharapkan dapat menemukan solusi setelah acara selesai. Keresahan saya sudah jelas. Maka, saya tetap teguh berangkat Tawashshulan.
Saya tiba saat kumandang azan Isya. Setelah mengikuti salat berjamaah dan wiridan, saya berpindah ke maqbarah Ki Ageng Bungkul. Entah mengapa, berada di tempat ini selalu menghadirkan ketenangan. Mungkin karena lelah berurusan dengan orang-orang yang hidup, apalagi jika hidupnya penuh drama. Kadang, lebih baik berkumpul dengan mereka yang telah tidur abadi, karena kehadiran mereka justru menyejukkan melalui jejak perjuangan yang mereka tinggalkan.
Berhubung Majelis BangbangWetan sudah tinggal menghitung hari, setelah dari maqbarah, saya menuju warung di depan makam untuk berbincang dengan para penggiat, mematangkan persiapan acara rutinan. Sowan ke maqbarah dan berbagi tawa dengan para penggiat tidak serta-merta mengurangi beban yang saya rasakan. Hanya saja, setidaknya saya merasa lebih enjoy dan sedikit lebih tenang. Mungkin karena acara inti belum dimulai.

Menginjak pukul sepuluh malam lewat, seluruh jamaah beranjak ke langgar Ki Ageng Bungkul untuk memulai sesi Tawashshulan. Wirid Padhangmbulan, Tibbil Qulub, dan Maulaya Shalli membuka malam yang khidmat. Namun, hingga pertengahan Tawashshulan, hati saya masih sebatas merasa tenang, belum menemukan solusi atau setidaknya tanda-tanda jawaban dari Tuhan. Tapi tentu saja, saya bukan Tuhan, jadi saya tetap ikhlas melanjutkan.
Saya pernah mengalami hal serupa saat masa transisi menuju jenjang kuliah. Saat itu, jalur rapor saya ditolak dan satu-satunya harapan adalah ujian tes. Saya tidak pernah mengikuti kursus persiapan ujian secara intensif. Hidup terasa tidak jelas arahnya. Dengan keresahan itu, saya datang ke Padhangmbulan. Sepanjang Maiyahan, tidak ada jawaban yang jelas. Saya hanya mendapatkan ketenangan. Meskipun ketenangan penting, saat itu saya butuh jawaban—setidaknya sebuah sinyal. Namun, di akhir Maiyahan, Simbah memberikan sebuah ijazah yang intinya hanya Allah yang bisa memberikan petunjuk kepada manusia.
Malam itu, saya kembali merasakan beban yang semakin berat seiring bertambahnya usia dan perjalanan kuliah. Jawaban yang saya cari ternyata baru muncul setelah saya kembali ke kost di daerah Waru, Sidoarjo. Tanpa sengaja, saya membuka notulen-notulen Maiyahan di ponsel. Kalimat pertama yang tersaji di layar adalah kutipan dari Mbah Nun yang pernah saya abadikan:
“Kalau berdoa, jangan minta diringankan bebanmu, tapi mintalah tambahan kekuatanmu.”

Kalimat itu membuat saya berpikir dalam sebelum tidur. Jika kita hanya meminta beban diringankan, maka hasil yang kita dapatkan pun hanya sebatas itu. Ibarat seseorang keberatan membawa 5kg beras, jika bebannya dikurangi menjadi 2kg, maka yang didapatkan hanyalah 2kg beras. Esensi dari doa ini adalah penambahan kekuatan. Seberat apa pun beban hidup yang diberikan, kita harus meminta kepada Allah agar diberi tambahan kekuatan. Dengan begitu, apa yang kita dapatkan pun akan terus bertambah.
Dengan beban yang tetap ada, sudah jelas bahwa kesulitan, keresahan, dan kebingungan adalah sego jangan—makanan sehari-hari bagi orang Surabaya. Namun, yang perlu dibangun adalah kesadaran akan intervensi Allah. Allah sudah berjanji, “Inna ma’al usri yusro”. Bukan “setelah kesulitan ada kemudahan”, tetapi “dalam setiap kesulitan, Allah sudah menyertakan jalan keluarnya”. Tugas manusia adalah mencarinya. Beban yang berat itu pasti ada solusinya, tetapi Allah tidak menghendaki manusia hidup tanpa ikhtiar. Pencarian dan usaha kita itulah jalan menemukan solusi dari-Nya.
Setidaknya, renungan sebelum tidur itu mengajarkan bahwa ketika Tuhan memberi beban yang berat, kita harus memiliki optimisme tinggi dan terus berikhtiar. Mereka yang tidak memahami hal ini akan mudah berputus asa, merasa seakan-akan Tuhan hanya memberikan kesulitan tanpa solusi. Padahal, kemudahan selalu datang bersama kesulitan.
Penutup renungan malam itu adalah satu hal yang esensial: berusaha dahulu, entah tercapai atau tidak. Tuhan lebih melihat proses yang kita jalani dengan ikhlas dan ridha. Mungkin ini terdengar klise—ketika menghadapi kesulitan, jawaban umumnya adalah berusaha. Tetapi perspektif Maiyah mengubah cara pandang itu. Bahwa berusaha harus dilandasi optimisme, dengan keyakinan bahwa Allah sudah menyiapkan solusinya.
“Allah lebih menghargai usaha seseorang daripada hasilnya. Bahkan meskipun semut yang membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim tampak sia-sia, di mata Allah, usahanya tetap sangat berharga.”

Jembar Tahta Anillah
Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah



