Pendidikan abad 21 saat ini menuntut impelementasi pembelajaran yang tidak sekadar mengajarkan hafalan fakta, tetapi menumbuhkan pemahaman yang mendalam, kemampuan berpikir kritis, kreatif, aktif, serta penerapan pengetahuan yang relevan dengan kehidupan nyata. Konsep deep learning yang dicanangkan dalam kurikulum Merdeka mencerminkan impian pendidikan modern yang demikian: pembelajaran yang meaningful (bermakna), mindful (sadar), dan joyful (menyenangkan). Dalam konteks ini tradisi Maiyah senada dengan dengan konsep deep learning, atau bahkan maiyah sudah menerapkan deep learning sejak dulu, tanpa nama.
Maiyah adalah ruang kebersamaan, bukan sekadar majelis pengajian biasa. Maiyah adalah panggung dialog terbuka tanpa hierarki, dimana setiap suara punya ruang. Setiap forum Maiyah melakukan pencarian yang tidak berorientasi pada siapa yang benar, melainkan apa yang benar. Sehingga siapapun akan didengar, siapapun bebas menyampaikan pendapatnya. Prinsip ini menghadirkan suasana diskusi yang egaliter dan inklusif, jauh dari persaingan ego, dan lebih menitikberatkan pada penggalian makna bersama. Dalam Maiyah, jamaah didorong untuk bersama-sama merenungi, mempertanyakan, dan menggali makna kehidupan secara mendalam, reflektif, dan kritis.
Ciri khas diskusi terbuka Maiyah yang mengutamakan pencarian apa yang benar menggambarkan nilai yang selaras dengan tujuan utama deep learning yang menekankan pemahaman konseptual yang holistik, bukan hafalan dangkal; keterlibatan penuh siswa dalam proses belajar; dan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus menantang. Dalam suasana maiyahan, proses belajar menjadi meaningful karena jamaah secara aktif membangun makna, mengkaitkan pengetahuan dengan pengalaman hidup dan konteks nyata di sekitar mereka.

Selain itu, Maiyah menuntut mindful learning—kesadaran penuh dalam belajar. Setiap individu dalam majelis belajar hadir secara utuh: mendengarkan dengan saksama, meresapi gagasan tanpa prasangka, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta reflektif. Model ini mengasah jiwa dan kecerdasan emosional, hal yang sangat penting dalam pendidikan abad 21 yang menuntut kecakapan sosial-emosional dan kesiapan menghadapi kompleksitas kehidupan yang susah diterka.
Yang tak kalah penting adalah aspek joyful learning yang terbangun dalam suasana Maiyahan: dialog berlangsung hangat, penuh humor dan saling menghargai, menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan memotivasi jamaah untuk terus menggali pengetahuan dalam kebersamaan. Proses pembelajaran yang seperti ini menghadirkan rasa bahagia yang mendasar untuk menumbuhkan motivasi intrinsik belajar pada murid.
Sampai disini sudah sangat jelas, bagaimana arah jalannya konsep deep learning menyerupai, sama, ataupun mungkin terinspirasi dari forum diskusi Maiyah yang digelar oleh setiap simpul di berbagai kota di Indonesia. Entah di Padhang mBulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Bangbang Wetan ataupun di simpul-simpul yang lain. Maiyah itu penuh makna, kebersamaan, menyenangkan, dan otentik.
Salah satu nilai fundamental dalam Maiyah adalah prinsip keterbukaan bahwa setiap orang dapat berperan sebagai guru sekaligus murid. Prinsip ini mencerminkan sikap rendah hati sekaligus saling menguatkan dalam proses belajar bersama. Dalam Maiyah, tidak ada batasan hierarki ilmu atau status sosial yang menghalangi seseorang untuk berbagi ilmu maupun menerima pelajaran, karena setiap individu memiliki keunikan pengalaman dan pengetahuan yang bisa menjadi sumber pembelajaran bagi orang lain.

Mbah Nun menegaskan bahwa beliau juga belajar dari jamaah, yang berarti bahwa tidak hanya murid yang belajar dari guru, tapi guru juga belajar dari murid. Tentu dengan bentuk yang berbeda-beda bergantung konteksnya. Prinsip ini sangat sesuai dengan deep learning, pembelajaran tidak satu arah tapi saling interaksi, kolaborasi, dan melengkapi antara guru dan murid. Tetapi pada pendidikan formal hal demikian nampaknya belum terlaksana, guru masih menjadi yang paling dan selalu benar.
Maiyah dan deep learning merupakan mitra yang sejalan. Pemahaman mendalam, kebersamaan dalam mencari kebenaran secara dialogis, dan pembelajaran yang menyenangkan adalah pondasi yang sama-sama mereka bangun. Mengintegrasikan nilai-nilai Maiyah ke dalam praktik pembelajaran deep learning akan menghasilkan pendidikan yang lebih manusiawi, inklusif, dan efektif—memupuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial dan spiritual.
Alif Putra Lestari. Pelajar di warkop, dapat disapa melalui IG @alieflestari.
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



