Rabu minggu lalu (09/04/25), saya dan beberapa penggiat BangbangWetan hadir dalam Reboan yang diinisiasi oleh Cakrawala Kata, dengan Mas Toteng sebagai penggerak acaranya. Suasananya cukup bersahabat dan nyaman untuk dijadikan ruang diskusi. Diskusi dengan tema “Tata Kelola Komunitas” tersebut mengulik habis tentang komunitas BangbangWetan, mulai dari bagaimana mengelola sebuah rutinan, manajemen konflik, hingga beberapa nilai yang dipegang oleh BangbangWetan untuk menghidupkan forum yang sudah hampir 20 tahun ini. Hal-hal tersebut dibedah tuntas hingga hampir tengah malam, disertai berbagai landasan teori-teori ilmiah—atau bisa kita sebut teori-teori Barat—untuk menganalisis BangbangWetan.

Sejak saat itu hingga hampir satu minggu ini, saya dipenuhi oleh sebuah pertanyaan yang terus menggelayut dalam pikiran:
“Ono opo gak yo, teori Barat seng relevan karo Maiyah?”
Pikiran itu muncul karena saya merasakan bahwa Maiyah bukanlah organisasi yang didasarkan pada kekuatan ilmiah atau teoritis. Maiyah selalu menyebut perkumpulannya sebagai al-mutaḥabbīna fīllāh—semua berkumpul menjadi satu tanpa batas atau pagar pembeda, tidak ada alasan lain kecuali karena Allah. Itu sebuah landasan yang saya kira terlalu abstrak, atau dalam bahasa Arab disebut ghoib—tidak kasat mata—dan cenderung akan ditolak mentah-mentah oleh logika Barat yang lebih empiris dan rasional.
Pencarian akan relevansi ini saya lakukan dalam seminggu terakhir. Kebetulan, saya saat ini sedang menempuh studi di bidang Hubungan Internasional, maka saya mencoba mencari dari referensi-referensi yang cukup dekat dengan fokus keilmuan saya—yang tentu tak jauh dari politik, negara, dan rakyat. Dalam diskusi Rabu kemarin sempat disinggung sebuah konsep yang menjadi landasan diskusi, yakni pemikiran dari Thomas Hobbes, salah satu filsuf politik legendaris yang banyak dirujuk mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik.
Salah satu pemikiran Hobbes adalah bahwa sejatinya manusia itu tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia memiliki zona sosio, di mana dia pasti membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Namun, pada zaman Hobbes, dunia masih dihantui banyak ancaman dan ketakutan. Maka, kebutuhan manusia terhadap orang lain saat itu didasarkan atas rasa takut akan ancaman, bukan karena keinginan untuk berdamai, bekerja sama, atau murni karena cinta.

Butuh orang lain karena takut ancaman, dengan butuh orang lain karena kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling mencintai, adalah dua hal yang sangat berbeda.
Kalimat, “Yok bersatu kita, agar tidak ada saling ancam terhadap kita. Itu saja cukup”, jelas berbeda dengan, “Yok bersatu, karena kita oleh Tuhan diciptakan untuk saling cinta. Kita bersatu karena itu kewajiban sebagai manusia.” Dua narasi ini membawa semangat dan arah yang berbeda. Seperti yang sering diungkapkan oleh Mbah Nun dalam forum Maiyahan, bahwa kita harus menghindari kondisi “taḥsabuhum jamī‘an wa qulūbuhum syattā”—nampak bersatu tapi hati terpecah-belah. Konsep Hobbes sangat cocok untuk menggambarkan kondisi itu. Manusia terlihat bersatu, namun tidak ada cinta yang serius di antara mereka. Hubungan mereka dibangun semata karena rasa takut terhadap ancaman, bukan karena kasih sayang atau kewajiban kemanusiaan.
Selain konsep teoritis dari Hobbes yang konteksnya sedikit bersinggungan dengan Maiyah, hari ini, Selasa (15/04/2025), saya juga mendengarkan beberapa teman mempresentasikan materi dalam sebuah diskusi tentang counter-hegemony. Karena konteksnya kami adalah mahasiswa Hubungan Internasional, maka pembahasannya pun cenderung melihat counter-hegemoni sebagai bentuk perlawanan dari negara Dunia Ketiga terhadap negara-negara hegemon seperti Amerika Serikat atau Tiongkok. Namun, setelah saya telusuri lebih dalam dan membaca kembali pemikiran awal dari konsep ini, saya menemukan bahwa konsep ini berasal dari Antonio Gramsci.
Salah satu kutipan Gramsci yang saya rasa sangat menggambarkan gagasan ini adalah:
“It is one thing to rule, another to lead… A class that is aspiring to hegemony must create a new ideological and cultural terrain.”
(Memerintah adalah satu hal, memimpin adalah hal lain… Sebuah kelas yang sedang berjuang untuk meraih hegemoni harus menciptakan medan ideologis dan kultural yang baru.)
Saya melihat bahwa Maiyah berada di jalur pemahaman Antonio Gramsci. Terlepas dari latar belakang Gramsci sebagai pemikir Marxis yang sangat membenci ketidakadilan atau ketimpangan, counter-hegemoni yang ia maksud bukanlah tentang melawan untuk memerintah. Bukan melawan ke atas, tapi turun ke bawah—membentuk suatu medan ideologis yang berlandaskan pada kebijaksanaan, yang menjadi bekal utama dalam membangun kepemimpinan.

Mbah Nun turun ke pelosok-pelosok, menyapa hati orang-orang pinggiran, yang termarjinalkan, dan yang tak merasakan hadirnya hegemoni negara dalam hidup mereka. Mbah Nun berupaya sejenak mendinginkan hati dan perlahan-lahan mengajak masyarakat berpikir dengan bijak, menyikapi ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Melawan hegemoni dalam bentuk negara pun telah dilakukan Mbah Nun sebelum tahun 1998, di masa reformasi. Namun, setelah itu, Mbah Nun tidak lagi melawan ke atas, melainkan melawan dengan turun ke bawah, membentuk kesadaran-kesadaran baru, pemikiran-pemikiran baru, dari masyarakat.
Semua itu dilakukan untuk membuat masyarakat Indonesia tetap ridha dan kuat dalam menghadapi masalah-masalah klise yang terus berulang dalam sejarah bangsa. Inilah wujud nyata dari counter-hegemoni ala Gramsci yang tidak bersifat struktural, tetapi kultural dan spiritual—dan dalam konteks ini, Maiyah menjadi contoh hidup dari teori tersebut.

Mungkin inilah yang membuat Maiyah begitu hidup dan lestari: karena ia tidak menawarkan kekuasaan, melainkan kasih. Tidak mengejar dominasi, tapi mengajak pulang pada kemanusiaan. Dalam dunia yang semakin gaduh oleh wacana-wacana besar dan pertarungan kepentingan global, Maiyah tetap berjalan pelan menyusuri jalan-jalan sunyi, memunguti nurani yang tercecer, dan menyulamnya menjadi bentangan cinta. Inilah wajah counter hegemoni yang sejati—bukan dengan sorak, tapi dengan sabar; bukan dari atas mimbar, tapi dari bawah tikar. Sebab yang dibangun bukan sekadar struktur, tapi jiwa. Dan jiwa yang penuh cinta, adalah musuh paling halus dari setiap bentuk penindasan.

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



