Hujan turun pelan di luar, membasahi jalanan yang sudah basah sejak sore tadi. Saya dan beberapa teman memilih untuk berteduh di sebuah warung kopi kecil di sudut jalan, menunggu hujan reda sebelum melanjutkan perjalanan ke BangbangWetan. Malam ini, kami akan menghadiri acara Rolasan dan Tawashshulan—pertemuan yang selalu memberi makna baru setiap bulannya.
Di dalam warung, suasana terasa hangat. Aroma kopi yang tercium dari gelas di depan saya berpadu dengan suara sendok yang bersentuhan pelan di cangkir-cangkir pelanggan lain. Tidak jauh dari tempat saya duduk, penjaga warung dan seorang pelanggan tampak tengah asyik berbincang. Tanpa sengaja, saya mendengar sebagian dari percakapan mereka.

“Di sini banyak yang nggak sadar kalau wirid yang mereka ucapkan itu salah. Salah kalimat, salah makharijul huruf,” ujar pelanggan itu dengan suara pelan, seolah mengeluh.
Penjaga warung, seorang pria tua dengan kumis tipis dan mata teduh, hanya mengangkat bahu. “Mau gimana lagi? Udah jadi kebiasaan orang-orang sini,” jawabnya santai.
“Iya sih, tapi tetap aja, kalau salah ya salah,” kata pelanggan itu.
Penjaga warung tersenyum kecil. Ia menuangkan kopi ke cangkir kosong, lalu dengan pelan berkata, seolah menyampaikan sesuatu yang sudah lama dipikirkan, “Yang penting hatinya, Le. Banyak kisah orang dulu yang zikirnya salah, tapi sakti.”

Saya menyeruput kopi pelan-pelan, membiarkan percakapan itu menggantung di udara. Kata-kata penjaga warung itu membawa saya pada ingatan akan sebuah cerita yang pernah saya baca dari tulisan Mbah Nun.
Konon, ada seorang kiai yang sedang mengantar santrinya naik kapal untuk berangkat haji. Di sudut kapal, ia melihat seorang ibu tua sedang menjahit sambil berzikir. Telinganya yang terlatih mendengar sesuatu yang aneh—lafal zikir ibu itu tidak benar. Sebagai seorang alim, tentu saja ia merasa wajib mengingatkan. Dengan lembut, ia berkata, “Bu, zikir njenengan keliru.”
Ibu itu hanya diam, terus memasukkan benang ke jarum dan menjahit dengan tenang.
Kapal berangkat. Sang kiai turun dan melambaikan tangan pada santrinya yang kini sudah di atas geladak. Namun tak lama setelah kapal berada di tengah laut, ia melihat sesuatu yang tak masuk akal.
Ibu tua itu—yang zikirnya salah, yang diam saat ditegur—melompat dari kapal. Namun, bukannya tenggelam, ia berjalan di atas air. Dengan ringan, seolah lautan hanya permukaan datar yang bisa ia lewati kapan pun.
Kiai itu pun jatuh pingsan.

Saya meletakkan cangkir kopi, membiarkan uapnya menyatu dengan udara yang mulai dingin. Percakapan di warung ini, kisah kiai dan ibu tua itu, serta pelajaran yang sering dibahas di Maiyah—semuanya menyatu dalam makna yang serupa.
Kadang, apa yang kita anggap salah, belum tentu salah di hadapan Allah. Bisa jadi, kita hanya terjebak dalam benere dewe—merasa paling benar dan menghakimi orang lain. Padahal, siapa yang tahu isi hati seseorang?
Di Maiyah, kita belajar bahwa ada benere dewe, ada benere wong akeh, dan ada bener kang sejati. Mungkin, mereka yang salah dalam zikir justru lebih ikhlas, lebih dekat dengan-Nya dibandingkan kita yang sibuk menilai benar dan salah.
Allah Maha Mengetahui segala isi hati:
(QS. Ali Imron Ayat 119) اِنَّهُ عَلِيْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ
Di luar, hujan mulai reda. Saya menghela napas, meneguk sisa kopi, dan bersiap melanjutkan perjalanan. Malam masih panjang, dan entah pelajaran apa lagi yang menanti di BangbangWetan.

Usman Bonrojo. Jamaah Maiyah BangbangWetan, bisa disapa melalui kampungbonrojo@gmail.com



