Prolog BangbangWetan Bulan Agustus 2025Â Â Â
Sebenarnya, tema “Gembira Bernegara” terdengar menyenangkan. Namun, jika diselami lebih dalam, ia menyimpan kegelisahan yang tak sedikit. Di tengah situasi kenegaraan yang masih jauh dari kata tertata, ide untuk tetap bisa “gembira” sebagai warga negara terasa seperti sebuah paradoks—atau bahkan ironi.
Mbah Nun pernah menulis bahwa negara yang ideal adalah negara yang berikhtiar sekuat tenaga untuk membuat rakyatnya merasa gembira menjadi warga negara. Tapi realitas hari ini justru membuat kita bertanya-tanya: di manakah letak kegembiraan itu?
Kita tentu mafhum bahwa diskriminasi masih dianggap lumrah, hukum negara sering kali dipertanyakan, dan tingkah laku para petinggi kerap tak sejalan dengan amanah yang mereka emban. Banyak aspirasi rakyat yang tak didengar, kalah oleh ketamakan dan egoisme kelompok maupun individu.
Salah satu contoh yang sedang ramai diperbincangkan adalah soal data warga yang diduga dijadikan alat transaksi dengan negara lain. Entah itu benar adanya atau hanya hoaks yang kembali membodohi kita—kita pun bertanya: andai itu benar, masihkah kita punya alasan untuk merasa gembira sebagai warga Indonesia? Jika rasa aman dari negara sendiri saja tak lagi bisa kita rasakan?
Namun, anehnya—atau justru hebatnya—rakyat Indonesia ini luar biasa. Di tengah tekanan, mereka masih bisa bersikap santai. Masih bisa tertawa. Masih bisa mencari bahagia dari dalam dirinya sendiri, bukan dari negara.

Kepercayaan terhadap negara kini seakan menjadi ilusi. Jika negara tak lagi mampu menghadirkan kepercayaan, barangkali sudah waktunya kita menoleh ke arah lain—kepada diri sendiri, kepada sesama warga, kepada lingkungan sekitar kita. Sebab, di tengah rapuhnya sistem, harapan justru sering lahir dari kebersamaan yang sederhana, dari inisiatif warga yang masih peduli dan mau bergerak, meski perlahan.
Barangkali kita memang perlu sedikit tirakat, sembari tetap optimistis. Sebab, meski negara belum mampu menggembirakan rakyatnya, rakyat Indonesia—seperti kata Mbah Nun—mampu menciptakan kegembiraannya sendiri. Dan dari situlah mungkin, harapan bisa tumbuh.
Monggo, dari berbagai argumen dan kegelisahan ini, semoga terbuka banyak pintu pemikiran bagi kita semua.
Kita cari makna, saling dengar, dan menguatkan—karena mungkin, kegembiraan bernegara bukan sesuatu yang ditunggu dari atas, tapi dibangun dari bawah. Bersama!

📚 Mari hadir dan berdiskusi bersama dalam BangbangWetan x Karang Taruna Manukan – edisi Agustus 2025.
📍 Catat tanggalnya. Ajak teman, saudara, tetangga pada:
Minggu, 10 Agustus 2025 / Safar 16, 1447 AH
di Lapangan Olahraga, RW 10, Manukan Kulon, Kec. Tandes, Surabaya
Bangsa yang kuat dimulai dari warganya yang terus berpikir dan bersuara!



