“Makhluk manusia dilahirkan dari akselerasi kesekian dari penciptaan cahaya. Maka cahaya bukan sekadar menjadi kebutuhan dasar hidupnya atau merupakan suatu tujuan yang dikejarnya, lebih dari itu cahaya seakan-akan merupakan hakikat dan syariat dirinya sendiri.” — Mbah Nun.
Kutipan dari seri “Daur” tersebut mengajak kita untuk memahami bahwa setiap manusia pasti memiliki cahaya tujuan hidup. Apa yang diinginkan dan dicita-citakan, semua dalam rangka ingin lepas dari belenggu kegelapan yang dialami sekarang. Lebih dari itu, Mbah Nun mengajak kita bahwa perjalanan manusia menuju cahayanya masing-masing adalah proses menemukan syariat dan hakikat menjadi manusia.
Selama dua dekade, BangbangWetan istiqomah menampung cahaya yang beragam tersebut. BangbangWetan menjadi oase bagi para pejalan sunyi yang sehari-harinya dirundung kesulitan dan keresahan. BangbangWetan bukan produsen cahaya, melainkan pendorong para jamaah untuk menemukan cahaya hidup masing-masing.
Cahaya-cahaya yang berbeda-beda itulah yang dibawa oleh setiap jamaah ke BangbangWetan. Ada yang benar-benar fokus mencari tambahan ilmu, ada yang hanya ingin bersantai setelah seharian bekerja, dan ada juga yang hanya menginginkan ketenangan. Dari beragam tujuan cahaya tersebut, ada satu pertanyaan: Mengapa di tengah perbedaan, masih lahir sebuah keselarasan hingga dua dekade?
Jawabannya ada pada pemikiran Mas Sabrang soal Maiyah yang memiliki kejernihan (clarity) dalam dinamika yang berbeda-beda. Nada-nada dalam dinamika tersebutlah yang bisa kita tadabburi sebagai cahaya-cahaya yang jamaah Maiyah cari di BangbangWetan. Sehingga, perbedaan nada tersebut tidak membuat BangbangWetan mengalami disonansi, melainkan bahu-membahu menciptakan harmoni.
Mari bersama kita syukuri dan rayakan keharmonisan selama dua dekade ini, lalu sama-sama kita refleksikan dan tata kembali keharmonisan di dekade-dekade berikutnya. Sampai jumpa di medan harmoni dengan membawa harapan masing-masing kepada BangbangWetan dan sama-sama kita haturkan kepada Allah agar sudi mengijabahi langkah kita. Teko yo, Rek!!!
Oleh: Tim Tema BangbangWetan



