Jumat malam (20/06/2025), para penggiat BBW melangsungkan FJR-an untuk mempersiapkan rutinan BBW bulan depan. Sembari berbincang, muncul respon tentang undangan dari Paseban Mojopahit yang akan mengadakan milad ke-8 pada keesokan harinya, Sabtu (21/06/2025). Kebetulan saya sedang liburan semester, jadi lebih sering pulang ke Mojokerto. Sayalah yang didapuk untuk mewakili BBW menghadiri milad tersebut. Katanya, hanya untuk membantu mengiringi tawashshulan.
Tibalah waktunya. Saya datang mungkin terlalu disiplin—venue masih sepi, meski beberapa jamaah sudah mulai berdatangan. Semakin malam, jumlah jamaah kian bertambah. Dari simpul Maiyah Damar Kedaton, Sulthon Penanggungan, SWS, Pahingan, hingga Nyambung Roso, semua berkumpul tumplek blek di Pendopo Wisata Gunungan Sawah, Mojogebang, Kemlagi, Mojokerto.

Apalagi ditemani oleh beberapa marja’ Maiyah: Lek Ham, Pak Syaiful, Gus Luthfi, dan Pak Samsul Huda. Semakin membuat suasana malam itu hangat dan gayeng.
Belum pernah sebelumnya saya berkumpul dengan dulur-dulur Paseban Mojopahit. Saya cukup kaget melihat perkembangan simpul Maiyah Mojokerto yang begitu pesat. Delapan tahun memang usia yang masih belia, tapi sudah mampu tandang sempurna dalam ber-Maiyah.
Mas Roni, moderator Paseban Mojopahit, memberikan info sebelum tawashshulan bahwa dulur-dulur Paseban akan memulai sebuah peternakan yang dinamakan Paseban Mojopahit Farm. Ibu-ibu Srikandi Paseban bahkan rela menunda liburan ke Jogja demi membeli mendho (kambing), dengan alasan agar uangnya tidak hanya diam.
Rasanya, ini luar biasa. Tandang yang sempurna dilakukan oleh Paseban Mojopahit yang notabene baru berusia 8 tahun. Seakan menjawab ngeyelan para penggiat Maiyah se-Indonesia di Jogja tahun lalu bahwa kini adalah waktunya tandang (beraksi). Yang wilayahnya mendukung pertanian, silakan. Yang peternakan, monggo. Tandang sesuai dengan medan. Inilah api yang harus dijaga dalam jiwa simpul Maiyah seluruh nusantara.
Tawashshulan berjalan dengan iringan musik dari Jimat Wali. Setelah itu, dimulailah sesi respon dan saling berbagi ilmu dari simpul-simpul yang hadir serta para marja’.
Sejenak hati dan pikiran saya merenung. Malam ini, beberapa simpul Maiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul—Gresik, Surabaya, Pasuruan, Jombang, Sidoarjo, dan lainnya. Saya mendefinisikannya sebagai momentum menjaga spirit menyongsong kebangkitan dari Timur.

Itu memang slogan BBW. Tapi BBW hanyalah episentrum di wilayah timur. Secara keseluruhan, timur mencakup saudara-saudara kita dari berbagai simpul, dan tentu saja pusat dari segala pusat: ibu kita, Padang Mbulan. Saya melihat semangat kebangkitan itu kini semakin menyala.
Indonesia dan dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Maka, cahaya dari timur, semangat dari timur, dan kebangkitan dari timur harus menjadi penyeimbang di tengah hiruk-pikuk zaman sekarang.
Lek Ham dan Pak Syaiful menyoroti realita bahwa kuantitas jamaah sekarang memang agak menurun. Pak Syaiful mengatakan bahwa situasi ini berbeda dengan dulu. Yang awalnya banyak, kini tinggal sedikit. Tapi tak masalah. “Sing penting ojo sampek kepaten obor,” salah satu pesan Mbah Nun yang disampaikan oleh Pak Syaiful.
Kepaten obor—lagi-lagi soal cahaya. Dan ini erat hubungannya dengan cahaya dari timur. Selama cahaya itu masih menyala, maka kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan Indonesia masih bisa kita perjuangkan. Sebab, cahaya adalah elemen penting sebelum kita berjalan menembus kegelapan.

Mas Sabrang sering mengatakan bahwa saat kita berada di tengah hutan yang gelap dan tak tahu jalan, kuncinya hanya satu: padhang—adanya cahaya. Baru setelah itu bisa membuat strategi, karena masalah dan jalannya menjadi jelas.
Maka dari itu, dengan semangat Paseban Mojopahit yang perjuangannya luar biasa selama 8 tahun ini, cahaya dari timur semakin terjaga kuat, bahkan semakin membesar.
Menjaga cahaya dari timur—yang dapat kita artikan sebagai menjaga nilai-nilai Maiyah, apa pun bentuknya—adalah tugas kita, para Maiyah di Jawa Timur. Sebagai langkah awal kebangkitan Indonesia menuju arah yang lebih baik.
Cahaya dari timur adalah wujud spirit dari Mbah Nun yang harus kita rawat. Seperti kata Pak Samsul Huda, “Madep, mantep, tetep mlaku. Yakin Maiyah lan yakin Mbah Nun.” Kalimatnya sederhana, tapi maknanya dalam. Selama kita yakin bahwa cahaya yang diberikan Simbah adalah serpihan hikmah dari Allah, maka setiap langkah kita, tandang kita, dan semangat kita akan berselimut ridha Allah.
Semoga cahaya dari timur tak pernah padam. Redup tak apa, asal tetap bermakna. Putus asa pun tak mengapa, asal jangan lupa caranya bangkit. Sedih boleh, asal jangan lupa caranya melebarkan senyum. Semburato…

Jembar Tahta Anillah. Pejalan sunyi, penikmat karya Tuhan
Bisa disapa di akun instagram @jmbr_anillah
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



