Dalam forum Bangbangwetan yang rutin digelar di Surabaya, tema kedewasaan kerap muncul dalam berbagai bentuk diskusi. Salah satu momen yang paling mengesankan terjadi pada Kamis malam, 12 Juni 2025, di STIKOSA AWS, dengan tema “Maturitas Markesot.” Tema ini mengajak peserta untuk merenungi makna kedewasaan dan bagaimana menyikapi hidup dengan bijak, melalui tokoh fiktif Markesot dari karya Mbah Nun sebagai simbol reflektif.
Sekitar pukul 22.37 WIB, suasana mendadak menjadi hening dan khidmat saat Mas Sabrang, Pak Suko Widodo, dan Rektor STIKOSA AWS naik ke panggung, disertai hujan ringan yang turun sejenak. Hujan itu seolah mempertegas suasana sakral malam itu, dan ketika mereka mulai berbicara, hujan berhenti, seakan memberi isyarat bahwa malam itu penuh makna dan berkah—layak untuk tidak disia-siakan.
Pak Suko membuka diskusi dengan kalimat puitis, “Ruang rindu lebih bagus daripada termangu,” sebagai ajakan untuk bersikap aktif dalam menghadapi kenyataan. Ia lalu mengangkat persoalan serius soal ketertinggalan pendidikan Indonesia, dan menyerahkan lanjutan perbincangan pada Mas Sabrang.

Mas Sabrang menyampaikan gagasan bahwa manusia sejatinya hidup di dunia yang mereka ciptakan sendiri melalui persepsi, bukan realitas apa adanya. Anak-anak adalah contoh dari makhluk yang hidup dalam dunia internal mereka, sementara tugas orang dewasa adalah berusaha melihat dunia secara objektif. Kedewasaan, menurutnya, adalah kemampuan melihat realitas secara jernih, tanpa ilusi, dan tetap berjalan meski penuh ketidakpastian—bukan soal optimisme atau pesimisme, tapi soal keberanian dan kesadaran.
Lebih jauh, ia mengkritisi sistem sosial kita yang membentuk manusia menjadi “dewasa” secara keliru—dewasa yang penuh ketakutan dan kompetisi, bukan kedewasaan yang berbasis kesadaran dan tanggung jawab. Ia mengajak untuk tidak hanya membentuk manusia yang bisa dikendalikan, tapi yang sadar dan berani berpikir merdeka.
Senada dengan itu, Mbah Sujiwo Tejo dalam berbagai kesempatan menyuarakan bahwa banyak laki-laki Indonesia dipaksa menjadi dewasa terlalu cepat—hingga kehilangan keberanian, keluguan, dan spontanitas. Jiwa anak-anak yang penuh keceriaan, keberanian mencoba, dan pemaafan tanpa dendam justru seringkali hilang dalam proses menjadi “dewasa.” Padahal, jiwa anak-anaklah yang menjaga manusia tetap jujur dan ringan menjalani hidup.

Bila ditarik benang merah dari dua pandangan tersebut, tampak bahwa kedewasaan dan jiwa kekanak-kanakan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi yang harus dikelola bersama. Dalam urusan serius, dibutuhkan kebijaksanaan dewasa. Tapi dalam keseharian, semangat kanak-kanak bisa membuat hidup lebih ringan dan jujur. Keseimbangan inilah yang memungkinkan seseorang bertumbuh dengan utuh.
Jiwa kanak-kanak mengajarkan kita untuk tidak takut gagal, tidak larut dalam luka, dan tidak terjebak gengsi. Sementara kedewasaan membantu mengelola keberanian itu agar tidak menjadi naif. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang dewasa yang rapuh, melainkan mereka yang sadar keterbatasannya tapi tetap melangkah.
Di penghujung acara, Mas Sabrang memberikan analogi sederhana namun dalam: seperti anak kecil yang menyeberang jalan dengan menggenggam tangan orang tua—diam dan percaya adalah kunci keselamatan. Ini menjadi metafora hubungan manusia dengan Tuhan: bukan soal mengetahui arah, tapi percaya dan terus berjalan bersama bimbingan-Nya.

Refleksi ini mengingatkan pada prinsip dalam maiyah: lakukan hal baik meski tidak menyenangkan, dan hindari hal menyenangkan jika tidak baik. Seperti minum jamu—pahit tapi menyembuhkan. Belajar—berat tapi penting. Kuncinya adalah kesadaran, bukan kesenangan sesaat.
Akhirnya, tulisan ini bukan untuk menggurui, melainkan catatan pribadi yang mungkin menyentuh siapa pun yang membaca. Seperti acara Bangbangwetan, ia akan berlalu, tapi kesannya mungkin tinggal. Apakah akan menjadi manfaat atau sekadar lewat, bergantung pada bagaimana kita menempatkan “Maturitas Markesot” dan “Jiwa Kanak-Kanak” dalam hidup kita selanjutnya.
M Yudha Iasa Ferrandy. Pembelajar di Maiyah. Instagram : @myudhaif. WhatsApp : 082377842632
Narahubung Media:
Kontak BangbangWetan (0813-9118-2006)



